Akurat Logo

Indonesia Tanpa Gelar di Kejuaraan Asia Junior, Manajer Tim Ingin Tebus di Kejuaraan Dunia

Dian Eko Prasetio | 7 Juli 2026, 14:37 WIB
Indonesia Tanpa Gelar di Kejuaraan Asia Junior, Manajer Tim Ingin Tebus di Kejuaraan Dunia
Pebulutangkis Indonesia, Fardhan Rainanda Joe, saat tampil di final Kejuaraan Bulutangkis Asia Junior 2026 di Yatsushiro, Jepang, Mingggu (5/7/2026). PBSI.

AKURAT.CO, Manajer Tim Indonesia di Kejuaraan Bulutangkis Asia Junior (AJC) 2026, Eskar Denatara, memetakan hasil performa skuad Garuda Muda sepanjang kejuaraan yang bergulir pada 1-5 Juli 2026 di Jepang tersebut.

Kendati target utama yang dicanangkan belum mampu dipenuhi, ajang kontinental ini memberikan sederet rapor merah dan catatan krusial sebagai bahan evaluasi menjelang World Junior Championships (WJC) 2026.

Eskar Denatara menggarisbawahi bahwa format pertandingan beregu dengan sistem akumulasi 55 poin menuntut dinamisasi tinggi. Skuad Merah Putih dinilai masih kerap goyah dalam memanfaatkan momentum emas di lapangan.

"Secara kualitas kami mampu bersaing, tetapi lawan tampil lebih tenang karena memiliki pengalaman internasional yang lebih banyak," kata Eskar Denatara dalam evaluasi resminya, Selasa (7/7/2026).

Secara garis besar, Eskar menilai modal dasar berupa aspek teknik, fisik, dan mental para pebulutangkis muda tanah air sebetulnya sudah mumpuni.

Hanya saja, kematangan taktik, ketenangan di poin kritis, serta minimnya jam terbang internasional masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar yang harus segera diselesaikan.

"Beberapa atlet bahkan baru menjalani debut internasional di AJC. Pengalaman menghadapi tekanan di pertandingan besar menjadi hal yang harus terus dibangun agar mereka semakin matang," sambungnya.

Beralih ke nomor perorangan, Indonesia sejatinya berhasil mengirimkan tujuh wakilnya hingga babak perempat final.

https://akurat.co/badminton/871004/kejuaraan-asia-junior-revans-atas-wakil-china-lewat-3-set-fardhan-rainanda-joe-melesat-ke-final

Sektor tunggal putra menorehkan pencapaian terbaik lewat Fardhan Rainanda Joe yang sukses mengamankan medali perak, sebuah peningkatan positif setelah pada edisi sebelumnya ia harus puas dengan raihan medali perunggu.

Meski ada peningkatan di tunggal putra, Eskar memberikan catatan khusus untuk sektor putri. Ia menilai para srikandi muda Indonesia wajib mendongkrak ketahanan fisik, terutama pada aspek strength dan power endurance, agar tidak kedodoran meladeni reli-reli panjang khas pemain papan atas Asia.

Sementara untuk sektor ganda putra, fokus pembenahan akan dititikberatkan pada kemampuan mengelola stres dan kecermatan mengambil keputusan di ujung gim.

"Sektor ganda putri menunjukkan perkembangan dengan meloloskan dua pasangan ke perempat final. Di sektor ganda campuran, pasangan-pasangan non-pelatnas juga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik," papar Eskar.

"Namun secara keseluruhan, masih banyak detail yang harus kami benahi agar hasilnya lebih maksimal."

Ditambahkan pula, peta persaingan level junior di Asia kini kian merata. Kekuatan tidak lagi didominasi oleh poros tradisional seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Negara-negara sekunder seperti Thailand, Hong Kong, dan Chinese Taipei terbukti melonjak drastis dan menjelma menjadi batu sandungan yang merepotkan.

Menutup keterangannya, Eskar juga menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada seluruh pencinta bulutangkis di tanah air atas kegagalan memenuhi target medali pada ajang AJC 2026. Ia menegaskan, hasil minor ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab manajemen tim.

"Hasil ini tentu menjadi tanggung jawab kami. Ke depan, kami akan menjadikan seluruh catatan dari AJC sebagai bahan pembenahan, baik dari sisi taktikal, peningkatan fisik, maupun penambahan jam terbang internasional," katanya.

"Kami berharap para atlet dapat menunjukkan penampilan yang lebih baik pada World Junior Championships nanti.""

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.