Krisis Sepak Bola Malaysia Memburuk, Seluruh Komite Eksekutif FAM Mengundurkan Diri

AKURAT.CO Krisis sepak bola Malaysia semakin memburuk setelah seluruh anggota komite eksekutif Asosiasi Sepak Bola Malaysia (Football Association of Malaysia/FAM) mengundurkan diri secara serentak. Pengunduran diri ini terjadi di tengah polemik penggunaan dokumen palsu terkait kelayakan pemain naturalisasi dalam kualifikasi Piala Asia.
Komite eksekutif FAM resmi mengundurkan diri pada Rabu (28/1), menyusul sorotan tajam terhadap tata kelola sepak bola nasional. Pelaksana tugas Presiden FAM, Yusoff Mahadi, mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga reputasi dan kepentingan institusi sepak bola Malaysia.
“Pengunduran diri ini dilakukan demi melindungi reputasi dan kepentingan institusional FAM, serta mencegah dampak lebih lanjut yang dapat merugikan sepak bola Malaysia secara keseluruhan,” ujar Yusoff dalam pernyataan resminya.
Ia menambahkan, keputusan itu diharapkan memberi ruang bagi FIFA dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) untuk melakukan penilaian dan peninjauan independen terhadap aspek tata kelola, administrasi, dan prosedur di tubuh FAM.
Seluruh anggota komite eksekutif yang terpilih untuk masa jabatan 2025–2029, atau sekitar 11 bulan lalu, menyatakan mundur secara sukarela dan efektif seketika. Langkah ini disebut sebagai upaya menjaga kredibilitas asosiasi.
Sebelumnya, FIFA menjatuhkan sanksi larangan bermain selama 12 bulan kepada tujuh pemain naturalisasi pada September lalu. FIFA juga mendenda FAM sebesar 400.000 dolar AS karena mengajukan dokumen palsu yang mengklaim para pemain tersebut memiliki garis keturunan Malaysia.
Banding yang diajukan FAM atas sanksi tersebut ditolak oleh komite FIFA, yang kemudian mengeluarkan laporan keras dengan menilai FAM tidak mengambil tindakan disipliner yang memadai. FIFA juga memerintahkan penyelidikan menyeluruh terhadap tata kelola dan perilaku FAM.
FAM kemudian membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (Court of Arbitration for Sport/CAS) di Swiss. Proses hukum tersebut saat ini masih berlangsung.
Meski demikian, pada Selasa lalu CAS mengabulkan permohonan penangguhan sementara atas sanksi FIFA. Dengan keputusan itu, ketujuh pemain diizinkan kembali memperkuat tim nasional Malaysia hingga putusan akhir dikeluarkan.
Para pemain tersebut berasal dari Argentina, Brasil, Belanda, dan Spanyol, namun telah dinaturalisasi dan sempat dimainkan dalam laga kualifikasi Piala Asia 2027, termasuk pertandingan melawan Vietnam yang dimenangkan Malaysia.
Penyelidikan FIFA bermula dari laporan yang masuk usai kemenangan Malaysia 4-0 atas Vietnam pada laga kualifikasi Piala Asia yang digelar Juni lalu.
FAM menyatakan CAS telah menyetujui permohonan penundaan pelaksanaan sanksi, sehingga ketujuh pemain—Facundo Garces, Rodrigo Holgado, Imanol Machuca, Joao Figueiredo, Gabriel Palmero, Jon Irazabal, dan Hector Hevel—dapat tetap mengikuti seluruh aktivitas sepak bola.
“Artinya, sanksi larangan 12 bulan yang dijatuhkan FIFA untuk sementara dicabut hingga ada putusan akhir dari CAS,” demikian pernyataan FAM.
Namun, belum ada kepastian kapan putusan final dari CAS akan diumumkan.
Bulan lalu, FIFA membatalkan hasil tiga pertandingan Malaysia akibat pelanggaran kelayakan pemain. Dalam keputusan terbaru, komite disiplin FIFA juga mengubah hasil tiga laga persahabatan Malaysia, yakni melawan Tanjung Verde, Singapura, dan Palestina, yang dinyatakan kalah dengan skor 0-3.
FIFA juga menjatuhkan denda sebesar 10.000 franc Swiss kepada FAM. Keputusan tersebut masih dapat diajukan banding.
Kasus ini memicu reaksi keras di Malaysia. Sejumlah pendukung sepak bola dan anggota parlemen mendesak adanya tindakan tegas terhadap FAM serta instansi pemerintah yang terlibat dalam pemberian kewarganegaraan kepada para pemain tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal






