Akurat
Pemprov Sumsel

Turun ke Kasta Ketiga Satu Dekade Setelah Juara Liga Primer, Ada Apa dengan Leicester City?

Hervin Saputra | 22 April 2026, 15:44 WIB
Turun ke Kasta Ketiga Satu Dekade Setelah Juara Liga Primer, Ada Apa dengan Leicester City?
Pemain Leicester City usai laga melawan Hull City di Stadion King Power, Leicester, Inggris, Selasa (21/4/2026), yang memastikan mereka turun ke kasta ketiga. X/yabaleftonline

AKURAT.CO, Andai saja Leicester City tak menjadi juara Liga Primer Inggris sepuluh tahun lalu, barangkali kejatuhan mereka ke kasta ketiga mulai musim depan tak terlalu disorot seperti saat ini.

Ya, hasil imbang 2-2 kontra Hull City pada pertandingan ke-44 dari 46 laga Liga Championship atau kompetisi kasta kedua Inggris, Selasa (21/4/2026), memastikan Leicester City turun ke kasta ketiga.

Mereka terperangkap di ranking ke-23 dengan 42 poin yang tak lagi bisa keluar dari zona turun kasta sementara hanya ada enam poin tersisa yang berpeluang mereka menangi.

Apa yang Terjadi dengan Leicester City?

BBC menulis sejumlah alasan yang menyebabkan tim dengan julukan The Foxes tersebut bisa turun setelah sepuluh tahun lalu menjadi juara Liga Primer dengan cara seperti “di negeri dongeng”.

Sukses Leicester menjadi juara Liga Primer Inggris musim 2015-2016 diawali dengan datangnya saudagar asal Thailand, Vichai Srivaddhanaprabha, pada 2010.

Vichai membeli The Foxes yang kala itu bermain di Championship dengan nilai 39 juta Poundsterling. Empat tahun kemudian Leicester promosi ke Liga Primer dan di musim ketiga di kasta tertinggi mereka mencetak sejarah menjadi juara.

Dua tahun setelah kemenangan bersejarah itu Leicester mengalami tragedi yang sulit dilupakan. Tak lain Vichai tewas dalam kecelakaan helikopter di dekat stadion mereka, King Power.

Hilangnya Vichai membuat Leicester seperti kehilangan nahkoda. BBC menyebut bahwa putra Vichai yang meneruskan kepemimpinan ayahnya, Aiyawatt Srivaddhanaprabha aka Top, belum mumpuni untuk memimpin klub.

“Top lebih muda ketimbang saya,” kata salah satu bek Leicester juara Liga Primer 2015-2016, Robert Huth.

“Dia kehilangan ayahnya, kini dia harus menjalankan King Power. Sorotan ke arahnya. Jadi mudah dikritik.

“Dia kehilangan ayahnya di area publik dan itu menimbulkan dampak. Orang-orang mengabaikan itu. Dia mengambil alih perusahaan ketika dia 33 tahun. Dia seorang muda, dia melihat ayahnya sebagai pembimbing, dan itu diambil darinya hanya dalam sekejap.”

Kejatuhan Bertahap Pasca Brendan Rodgers

Adapun sebagian suporter tampaknya tak terlalu terkejut dengan situasi yang melanda The Foxes kali ini. Mereka sudah mensinyalirnya sejak Brendan Rodgers meninggalkan klub tersebut pada 2023.

Brendan Rodgers bisa dikatakan sebagai pelatih sukses kedua pasca periode bersejarah 2015-2016 asuhan Claudio Ranieri. Masuk pada Februari 2019 menggantikan Claude Puel, Rodgers bertahan empat tahun.

Di musim perdananya, Rodgers membawa Leicester ke Liga Europa. Di musim berikutnya, ia mempersembahkan Piala FA dengan mengalahkan Chelsea asuhan Thomas Tuchel di final.

Rodgers juga mempertahankan Leicester di Liga Europa semusim kemudian. Namun, pada April 2023 ia dipecat di mana The Foxes akhirnya turun ke kasta kedua di akhir musim tersebut.

“Ini adalah penurunan bertahap. Benar-benar kejatuhan yang menyakitkan–terutama sejak (mundurnya) Brendan Rodgers,” kata ketua kelompok suporter Leicester Foxes Trust, Lynn Weth.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.