Akurat Logo

Piala Dunia 2026: FIFA Minta Wasit VAR Laga Jerman-Curacao Jelaskan Pose Jari, Dianggap Simbol Supremasi Kulit Putih

Hervin Saputra | 15 Juni 2026, 21:44 WIB
Piala Dunia 2026: FIFA Minta Wasit VAR Laga Jerman-Curacao Jelaskan Pose Jari, Dianggap Simbol Supremasi Kulit Putih
Wasit asal Australia, Shaun Evans, dengan kode jari yang dianggap simbol supremasi kulit putih saat berpose menjelang laga Jerman vs Curacao untuk Grup F Piala Dunia 2026 di Houston, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026). X/ajansmuhbir1923

AKURAT.CO, Organisasi induk sepakbola dunia, FIFA, meminta penjelasan sehubungan posisi jari salah satu petugas video asisten wasit (VAR) pada pertandingan Grup E Piala Dunia 2026 antara Jerman dan Curacao.

Polemik ini menyusul video tiga petugas VAR yang mengambil posisi pose untuk tayangan sebelum pertandingan Jerman vs Curacao dimulai di Stadion Houston, Houston, Amerika Serikat, Minggu (14/6/2026), itu.

Ini sejatinya tidak biasa karena para wasit VAR itu semestinya dalam posisi menghadapi ke layar monitor untuk kepentingan tayangan sebelum pertandingan.

Wasit VAR yang dimaksud adalah wasit asal Australia, Shaun Evans, yang berdiri di sisi kiri di mana dua rekan lainnya duduk di kursi. Evans tampak melakukan gerakan jari tangan kanan menunjuk angka nol yang menghadap ke bawah.

Insiden ini memicu spekulasi di media sosial. Pasalnya, gestur jari tersebut terhubung dengan ekspresi supremasi kulit putih yang bertentangan dengan nilai-nilai sepakbola junjungan FIFA.

https://akurat.co/bola/865326/piala-dunia-2026-jepang-imbangi-belanda-2-2-jerman-jebol-curacao-7-gol

BBC menyebut bahwa gerik jari Shaun Evans tersebut populer di salah satu tayangan komedi situasi Amerika Serikat bertajuk Malcolm in the Middle yang menyebar menjadi meme di media sosial.

Posisi jari tersebut sebenarnya lebih umum dianggap sebagai isyarat “oke” jika menghadap ke atas.

Namun, dalam kasus Shaun Evans, menjadi soal karena menghadap ke bawah yang sejak 2017 digunakan oleh kelompok kanan jauh (far right) untuk berkomunikasi.

Kelompok anti-diskriminasi yang berbasis di Amerika Serikat, Anti Defamation League (ADL), telah memasukkan posisi jari tersebut sebagai salah satu simbol kebencian.

Sementara jaringan Fare yang bekerjasama dengan FIFA dan UEFA membenarkan bahwa simbol yang ditunjukkan Shaun Evans mengarh pada supremasi kulit putih yang beredar di kalangan kanan jauh.

“Saran dari para ahli kami adalah gestur tersebut digunakan jelas mirip dengan simbol tangan ‘OK’ terbalik yang digunakan sebagai simbol ‘kekuasaan kulit putih’ di lingkaran kanan jauh,” kata Fare.

Shaun Evans sendiri adalah wasit berusia 38 tahun yang sudah masuk dalam daftar wasit FIFA sejak 2017. Dia adalah wasit VAR berpengalaman yang pernah bertugas di Piala Dunia 2022.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.