Sejarah Kampung Gajah, Objek Wisata Di Bandung Barat Yang Kini Berubah Jadi Tempat Uji Nyali

AKURAT.CO Kabupaten Bandung Barat merupakan lokasi yang memiliki banyak destinasi wisata, salah satu tempat wisata yang terkenalnya adalah Kampung Gajah.
Namun destinasi wisata yang terletak di kawasan Cihideung, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat itu kini hanya tinggal sejarah. Ya, Kampung Gajah saat ini sudah tidak lagi beroperasi.
Dibangun sejak 2009, Kampung Gajah dulunya sangat eksis dan menjadi destinasi wisata favorit masyarakat Indonesia terkhusus yang berada di sekitar Kota Kembang.
Mulanya Kampung Gajah adalah lahan pertanian yang dimiliki oleh seorang petani bernama Yusuf. Kemudian lahan tersebut diubah menjadi taman rekreasi yang menggabungkan wahana hiburan, belanja dan kuliner oleh Ferry Kurniawan.
Berbagai macam permainan yang disediakan Kampung Gajah di antaranya adalah touring ATV, fun bike, horse riding, outbound activities, sky rider, dan sekitar 30 wahana permainan lainnya.
Selain itu, Kampung Gajah juga memiliki waterboom yang menyediakan berbagai wahana di dalamnya, seperti aqua boat, big tornado, grass skating, bungee trampolin, wave pool, octopus racer, kiddy pool, moto golf dan sepeda air.
Baca Juga: Tak Hanya Candi Borobudur, Ini 5 Objek Wisata di Magelang yang Tak Kalah Indah dan Menawan
Kuliner yang terdapat di Kampung Gajah pun beraneka ragam, mulai dari menu spesial ala Kampung Gajah, masakan Asia, hingga masakan Eropa. Semua kuliner itu dapat ditemukan di food stand, resto & cafetaria, serta bar & lounge yang berada di sekitar Kampung Gajah.
Tiket Kampung Gajah dibanderol dengan harga Rp15 ribu pada weekday, sedangkan weekend Rp20 ribu.
Selain itu Kampung Gajah juga menyediakan tiket terusan dengan harga Rp200 ribu sampai Rp250 ribu yang dapat membuat wisatawan bisa menikmati semua wahana di Kampung Gajah.
Terkait luas Kampung Gajah, ada beberapa versi, di antaranya ada yang mengatakan 48 hektare, 54 hektare hingga 64 hektare.
Terlepas mana angka yang benar, Kampung Gajah memang lokasi wisata yang sangat luas. Bahkan dikatakan Kampung Gajah dapat menampung sampai 12 ribu wisatawan.
Namun kejayaan Kampung Gajah tak berlangsung lama. Pasalnya Kampung Gajah hanya merasakan fase kejayaan selama sembilan tahun sejak awal didirikan pada 2009.
Pada Mei 2018, Kampung Gajah resmi ditutup. Banyak alasan yang diasumsikan sebagai faktor penyebab di balik bangkrutnya Kampung Gajah, di antaranya adalah karena pengelolaan manajemen yang kurang baik hingga harga tiket yang dinilai terlalu mahal.
Baca Juga: Tawarkan Keindahan! 6 Rekomendasi Objek Wisata Alam di Kabupaten Tulungagung
Selain itu, kematian sang empunya, Ferry Kurniawan disinyalir juga sebagai penyebab kegagalan pengelolaan Kampung Gajah. Ferry Kurniawan diketahui meninggal pada 2016.
Kebangkrutan Kampung Gajah juga diisukan karena hutang yang kian membengkak. Kurator kepailitan pengelola Kampung Gajah, Vichung Chongson mengatakan total tagihan hutang yang masuk ke pihak pengelola Kampung Gajah adalah sebesar Rp700 miliar.
Kini kondisi Kampung Gajah pun terbengkalai dengan sisa-sisa wahana dan fasilitasnya yang masih terdapat di tempat wisata itu. Dengan kondisi terbengkalainya itu, Kampung Gajah kini beralih menjadi wahana uji nyali.
Menanggapi kondisi Kampung Gajah yang terbengkalai, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno, pun turut mengomentari keberadaan tempat wisata itu. Sandiaga optimis Kampung Gajah bisa hidup lagi.
"Kami akan bekerja sama dan berkolaborasi karena lokasinya strategis. Bandung ini justru membutuhkan wisata buatan lainnya berbasis konservasi dan alam. Nanti akan kita fasilitasi pengelolanya agar bisa mendapatkan investor baru. Karena kita melihat bahwa prospek kunjungan wisatawan ke Bandung akan akan meningkat ke depan," ujar Sandiaga, Senin (30/10/2023). (Adinda Shafa A)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









