Apa Itu MADAS? Sejarah, Tujuan, dan Pro-Kontra Ormas Madura Asli yang Disorot Usai Kasus Pengusiran Nenek di Surabaya

AKURAT.CO Nama MADAS (Madura Asli) belakangan ramai diperbincangkan publik setelah terseret dalam kasus dugaan pengusiran dan intimidasi terhadap seorang nenek berusia 80 tahun bernama Elina Wijayanti di Surabaya. Peristiwa ini memicu reaksi keras masyarakat dan membuat banyak orang bertanya: apa itu MADAS sebenarnya? Apakah organisasi ini memang identik dengan aksi intimidatif, atau justru sebaliknya?
Dikutip dari Madurapedia, MADAS sejatinya adalah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dibentuk sebagai wadah persatuan bagi perantau Madura. Tujuan awalnya bersifat sosial dan kultural, yakni menjaga identitas Madura di tengah kehidupan perantauan yang semakin modern. Namun, seperti banyak ormas lain di Indonesia, keberadaannya tidak lepas dari dinamika, pro-kontra, hingga sorotan tajam publik ketika muncul kasus yang melibatkan oknum anggotanya.
MADAS: Dari Wadah Perantau hingga Organisasi Sosial
Secara historis, MADAS lahir dari kebutuhan dasar masyarakat Madura yang merantau ke kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, hingga wilayah Kalimantan. Di tanah rantau, para perantau menghadapi tantangan adaptasi budaya, ekonomi, dan sosial. Dari situlah muncul inisiatif kolektif untuk membangun organisasi yang mampu menjadi “rumah kedua”.
Berbeda dengan organisasi yang lahir dari satu tokoh sentral, sejarah MADAS lebih menyerupai gerakan bersama. Hingga kini, tidak ada satu nama yang secara resmi dicatat sebagai pendiri tunggal. Namun, berdasarkan informasi dari situs resminya, Dewan Pimpinan Pusat MADAS pernah diketuai oleh H. Berlian Ismail Marzuki, S.H., yang wafat pada 18 Maret 2025 sekitar pukul 23.30 WIB.
Seiring waktu, peran MADAS berkembang. Tidak lagi sekadar tempat berkumpul, tetapi juga menjadi organisasi yang aktif dalam kegiatan sosial, budaya, dan pemberdayaan ekonomi.
Tujuan dan Peran MADAS di Tengah Masyarakat
Untuk memahami apa itu MADAS secara utuh, penting melihat fungsi yang dijalankannya di berbagai daerah perantauan.
Penopang Sosial di Tanah Rantau
Bagi anggotanya, MADAS berfungsi layaknya keluarga besar. Ketika ada anggota yang sakit, meninggal dunia, atau tertimpa musibah, organisasi ini kerap hadir memberikan bantuan dan dukungan. Jaringan internalnya juga sering dimanfaatkan untuk berbagi informasi kerja dan peluang usaha.
Pelestari Budaya Madura
Di tengah urbanisasi yang cepat, MADAS aktif menjaga bahasa dan tradisi Madura. Kegiatan seperti festival budaya, pertunjukan seni saronen, lomba pidato, hingga kelas bahasa Madura menjadi cara agar identitas budaya tidak luntur, terutama di kalangan generasi muda perantauan.
Pemberdayaan Ekonomi Anggota
Di sejumlah wilayah, MADAS juga terlibat dalam penguatan ekonomi anggota melalui koperasi simpan pinjam, pelatihan kewirausahaan, hingga promosi produk UMKM khas Madura. Peran ini membuat MADAS tidak hanya relevan secara kultural, tetapi juga praktis dalam kehidupan sehari-hari anggotanya.
Pro dan Kontra MADAS di Mata Publik
Sebagai ormas berbasis kedaerahan, MADAS berada di posisi yang tidak selalu mudah. Penerimaan publik terhadapnya sangat bergantung pada konteks lokal dan interaksi sosial yang terbangun.
Di satu sisi, banyak pihak—termasuk aparatur pemerintah—melihat MADAS sebagai mitra sosial. Ormas ini kerap dilibatkan dalam kegiatan kemasyarakatan dan dinilai berperan menjaga ketertiban di lingkungan perantau. Aksi sosial seperti santunan anak yatim, donor darah, hingga bantuan bencana turut membangun citra positif.
Namun di sisi lain, MADAS juga tidak luput dari stigma. Setiap kali muncul insiden konflik yang melibatkan individu berlatar belakang Madura, nama organisasi sering ikut terseret, meskipun tidak selalu ada hubungan struktural. Generalisasi inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi MADAS dalam menjaga reputasinya.
Kasus Pengusiran Nenek Elina di Surabaya: Kronologi Singkat
Sorotan tajam terhadap MADAS memuncak setelah beredarnya video dugaan intimidasi terhadap Elina Wijayanti, seorang nenek berusia 80 tahun, di Dukuh Kuwukan, Kelurahan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya.
Dalam video yang viral di media sosial, terlihat puluhan orang yang diduga anggota ormas MADAS mendatangi rumah Elina. Beberapa di antaranya disebut melakukan ancaman dan meminta Elina meninggalkan rumahnya. Aksi tersebut memicu kecaman luas dari masyarakat.
Kritik keras salah satunya datang dari Anez Patiraja, pendiri Street Boxing Suroboyo. Dalam unggahannya di Instagram pada 27 Desember 2025, ia menyoroti tindakan intimidatif tersebut dan mengaitkannya dengan fungsi ormas sebagaimana diatur dalam UU Nomor 17 Tahun 2013 jo. Perppu Nomor 2 Tahun 2017.
Akibat viralnya kasus ini, ratusan Arek Suroboyo mendatangi kantor DPC MADAS di Jalan Marmoyo, Surabaya, pada 26 Desember 2025. Massa mengecam dugaan premanisme berkedok ormas dan bahkan menuntut pembubaran organisasi yang dianggap mencoreng citra kota.
Klarifikasi Resmi MADAS dan Proses Hukum
Menanggapi polemik tersebut, pihak MADAS memberikan klarifikasi. Koordinator MADAS, Muhammad Yasin, menegaskan bahwa organisasinya tidak pernah membenarkan tindakan perampasan hak, apalagi terhadap warga lanjut usia.
Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap proses hukum yang berjalan. Menurutnya, siapa pun yang terlibat—termasuk jika terbukti anggota MADAS—harus tetap diproses secara hukum.
Sementara itu, kuasa hukum Nenek Elina, Wellem Mintaraja, memastikan bahwa laporan telah dilayangkan ke Polda Jawa Timur. Laporan awal mencakup dugaan pengeroyokan, dan akan disusul laporan lain terkait dugaan pencurian serta penggunaan surat palsu.
MADAS ke Depan: Antara Evaluasi dan Relevansi
Kasus ini menjadi ujian besar bagi MADAS. Di satu sisi, organisasi ini memiliki rekam jejak kegiatan sosial dan budaya yang cukup panjang. Di sisi lain, tindakan oknum dapat berdampak luas terhadap persepsi publik.
Sejumlah pengurus MADAS di berbagai daerah disebut mulai memperkuat pengawasan internal, memperketat keanggotaan, serta lebih aktif mengomunikasikan kegiatan positif mereka ke publik. Kolaborasi lintas komunitas juga menjadi strategi untuk mematahkan stigma eksklusivitas.
Di era digital, keberlanjutan MADAS sangat bergantung pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan nilai inti. Transparansi, penegakan aturan internal, dan keterlibatan dalam isu-isu sosial yang relevan menjadi kunci agar organisasi ini tetap diterima di tengah masyarakat yang majemuk.
Penutup
Memahami apa itu MADAS tidak bisa dilakukan secara hitam-putih. Organisasi ini lahir dari semangat solidaritas perantau Madura dan memiliki peran sosial yang nyata. Namun, kasus pengusiran Nenek Elina di Surabaya menunjukkan betapa pentingnya kontrol internal agar nama organisasi tidak tercoreng oleh tindakan segelintir oknum.
Jika kamu tertarik mengikuti perkembangan kasus ini maupun dinamika ormas di Indonesia, pantau terus update selanjutnya dan isu-isu sosial lainnya di AKURAT.CO.
Baca Juga: Izin Tambang Ormas Jadi Biang Kisruh PBNU, Yenny Wahid Minta Dikembalikan ke Pemerintah
Baca Juga: Kemendagri: Langkah Tegas Polda Riau Terhadap Ketua Ormas Petir Sudah Sesuai Hukum
FAQ
Apa itu MADAS?
MADAS adalah singkatan dari Madura Asli, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang dibentuk oleh dan untuk perantau asal Madura. Organisasi ini bertujuan menjadi wadah persatuan, pelestarian budaya, serta dukungan sosial dan ekonomi bagi anggotanya di daerah perantauan.
Apa tujuan utama dibentuknya Ormas MADAS?
Tujuan utama MADAS adalah menjaga identitas budaya Madura di perantauan, memperkuat solidaritas sesama perantau, serta membantu kesejahteraan anggota melalui kegiatan sosial, budaya, dan pemberdayaan ekonomi.
Siapa pendiri MADAS?
Hingga kini tidak ada catatan resmi mengenai satu pendiri tunggal MADAS. Organisasi ini tumbuh secara kolektif dari inisiatif tokoh masyarakat dan perantau Madura. Diketahui, Dewan Pimpinan Pusat MADAS pernah diketuai oleh H. Berlian Ismail Marzuki, S.H., yang wafat pada 18 Maret 2025.
Kegiatan apa saja yang biasa dilakukan MADAS?
MADAS aktif dalam berbagai kegiatan, mulai dari bakti sosial, santunan anak yatim, bantuan bencana, hingga pelestarian budaya seperti festival seni Madura dan kelas bahasa Madura. Di beberapa daerah, MADAS juga terlibat dalam pemberdayaan UMKM dan koperasi anggota.
Mengapa nama MADAS menjadi sorotan publik belakangan ini?
Nama MADAS menjadi sorotan setelah muncul dugaan kasus intimidasi dan pengusiran terhadap seorang nenek berusia 80 tahun, Elina Wijayanti, di Surabaya. Video kejadian tersebut viral di media sosial dan memicu reaksi keras masyarakat.
Apakah benar MADAS terlibat langsung dalam pengusiran nenek di Surabaya?
Pihak MADAS membantah melakukan pengusiran paksa. Koordinator MADAS, Muhammad Yasin, menegaskan bahwa organisasi tidak membenarkan tindakan perampasan hak dan mendukung proses hukum terhadap siapa pun yang terlibat, termasuk jika terbukti anggota MADAS.
Bagaimana sikap MADAS terhadap proses hukum kasus tersebut?
MADAS menyatakan mendukung penuh proses hukum yang berjalan. Pihak organisasi menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap tindakan yang melanggar hukum dan nilai kemanusiaan.
Mengapa MADAS sering dikaitkan dengan stigma negatif?
Stigma biasanya muncul akibat generalisasi atas tindakan oknum yang mengatasnamakan organisasi atau identitas kelompok. Ketika terjadi konflik sosial yang melibatkan individu berlatar belakang Madura, nama MADAS kerap ikut terseret meskipun tidak selalu terkait secara struktural.
Bagaimana penerimaan masyarakat terhadap MADAS di berbagai daerah?
Penerimaan masyarakat terhadap MADAS berbeda-beda. Di wilayah dengan integrasi sosial yang baik, MADAS umumnya diterima sebagai mitra sosial dan budaya. Namun di daerah yang memiliki riwayat ketegangan sosial, persepsi terhadap MADAS bisa lebih sensitif.
Apa langkah MADAS untuk memperbaiki citra organisasi ke depan?
Sejumlah pengurus MADAS disebut mulai memperkuat pengawasan internal, meningkatkan komunikasi publik, serta memperluas kolaborasi lintas komunitas. Langkah ini dilakukan agar MADAS tetap relevan dan tidak kehilangan kepercayaan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









