Kinerja Artis Senior Ari Sihasale di Komite Otsus Papua Dipertanyakan

AKURAT.CO Forum Pemantau Otonomi Daerah (FPOD) melontarkan kritik elegan namun tegas terhadap artis senior Ari Sihasale yang menjabat Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua sejak 8 Oktober 2025.
Menurut Koordinator FPOD, M. Adnan, hingga genap 100 hari masa jabatan, publik belum melihat adanya terobosan kebijakan, peta jalan program, maupun capaian kerja yang terukur dan dapat dievaluasi secara objektif.
"Komite ini dibentuk dengan mandat percepatan, bukan sekadar koordinasi normatif. Seratus hari seharusnya cukup untuk menunjukkan arah, prioritas dan hasil awal. Namun yang muncul ke publik justru minim substansi," ujar Adnan, dalam keterangannya, Sabtu (10/1/2026).
Adnan menyebut persoalan Papua bersifat struktural dan multidimensional, mencakup ketimpangan ekonomi, kualitas layanan dasar, hingga defisit kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Karena itu, kehadiran Komite Eksekutif seharusnya menghadirkan nilai tambah kebijakan, bukan pengulangan narasi lama.
"Jika tidak ada indikator kinerja yang jelas, misalnya target pendidikan, kesehatan, ekonomi lokal, atau reformasi tata kelola, maka keberadaan komite ini berpotensi kehilangan relevansi di mata publik Papua sendiri," ujarnya.
FPOD, lanjut Adnan, memandang akuntabilitas publik sebagai prasyarat utama keberhasilan otonomi khusus. Terlebih di tengah besarnya anggaran negara yang dialokasikan untuk Papua setiap tahun.
Baca Juga: Mahfud Ungkap Tiga Alasan Utama Pemerintah Buat UU Otsus Papua
Selain perannya di Komite Otsus Papua, Adnan juga mengkritik jabatan Ari Sihasale sebagai Komisaris PT Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) sejak Juni 2025, BUMN strategis yang berada di bawah subholding InJourney dan bertanggung jawab atas pengembangan kawasan pariwisata nasional.
Menurutnya, hingga kini belum terlihat kontribusi strategis yang berdampak langsung terhadap peningkatan kinerja sektor pariwisata nasional. Baik dari sisi perluasan destinasi, peningkatan daya saing, maupun distribusi manfaat ekonomi ke masyarakat lokal.
"ITDC mengelola kawasan premium seperti Mandalika dan Nusa Dua. Namun yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar pengelolaan kawasan, melainkan lompatan strategi pariwisata nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Peran komisaris seharusnya kuat dalam arah kebijakan, bukan simbolik," jelas Adnan.
Ia menambahkan bahwa pencapaian internal perusahaan, penghargaan, atau kegiatan seremonial tidak bisa dijadikan indikator utama keberhasilan sektor pariwisata, jika tidak diikuti dampak nyata terhadap ekonomi nasional dan daerah.
Adnan juga mengingatkan bahwa rangkap jabatan strategis harus diimbangi dengan kinerja yang berbanding lurus, bukan justru menimbulkan kesan lemahnya fokus dan efektivitas.
"Dalam tata kelola pemerintahan modern, jabatan publik bukan ruang eksperimentasi personal. Ia menuntut profesionalisme, kapasitas teknokratik, dan keberanian mengambil keputusan berbasis data," ujarnya.
"Kritik ini bukan serangan personal, melainkan bentuk tanggung jawab publik. Tanpa evaluasi dan koreksi, Otsus Papua berisiko terus berjalan di tempat," pungkas Adnan yang juga Ketua DPP KNPI.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






