Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu Ogoh-Ogoh? Berikut Pengertian dan Fungsinya sebagai Tradisi Unik Bali yang Penuh Makna

Idham Nur Indrajaya | 23 Maret 2026, 17:00 WIB
Apa Itu Ogoh-Ogoh? Berikut Pengertian dan Fungsinya sebagai Tradisi Unik Bali yang Penuh Makna
Pengertian ogoh-ogoh, fungsi, dan maknanya dalam tradisi Bali. Simak filosofi unik di balik pawai sebelum Nyepi. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana Bali berubah drastis. Jalanan yang biasanya tenang mendadak dipenuhi suara gamelan, sorak warga, dan pawai ogoh-ogoh yang megah. Patung raksasa dengan wajah menyeramkan diarak keliling desa, lalu dibakar saat malam tiba.

Fenomena ini membuat banyak orang bertanya: apa sebenarnya pengertian ogoh-ogoh dan fungsinya dalam tradisi Bali? Apakah hanya sekadar hiburan, atau ada makna spiritual yang lebih dalam?


Pengertian Ogoh-Ogoh

Dikutip dari situs resmi Pemkab Buleleng, Ogoh-ogoh adalah patung raksasa khas Bali yang dibuat sebagai representasi Bhuta Kala (energi negatif), yang diarak saat malam pengerupukan sebelum Hari Raya Nyepi, lalu biasanya dibakar sebagai simbol pembersihan diri dan alam.

Ringkasnya:

  • Dibuat oleh masyarakat, terutama pemuda banjar

  • Diarak saat ritual ngerupuk (pengerupukan)

  • Diiringi gamelan Bali (bleganjur)

  • Dibakar sebagai simbol pemurnian


Sejarah dan Asal-Usul Ogoh-Ogoh

Tradisi ogoh-ogoh mulai populer sekitar tahun 1980-an, terutama setelah penetapan Hari Raya Nyepi sebagai hari libur nasional pada 1983. Sejak saat itu, masyarakat Bali mulai menciptakan patung-patung besar sebagai bagian dari kemeriahan menjelang Nyepi.

Awalnya, ogoh-ogoh berkembang di wilayah Denpasar sebelum menyebar ke seluruh Bali. Tradisi ini semakin dikenal luas setelah ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali ke-12, yang memperkuat posisinya sebagai bagian dari budaya populer.

Menariknya, menurut penelitian Laura Noszlopy dalam kajian tentang seni kontemporer Indonesia, ogoh-ogoh awalnya dibuat dari bahan sederhana seperti bambu dan kertas, sebagai ekspresi kreativitas masyarakat, terutama generasi muda.


Makna dan Filosofi Ogoh-Ogoh

Di balik bentuknya yang menyeramkan, ogoh-ogoh menyimpan filosofi yang sangat dalam.

Dalam ajaran Hindu Dharma, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, yaitu:

  • Bhu (Bhuta): kekuatan alam semesta

  • Kala: waktu yang tak terbatas

Ogoh-ogoh juga merepresentasikan dua kekuatan besar:

  • Bhuana Agung → alam semesta

  • Bhuana Alit → diri manusia

Maknanya?
Ogoh-ogoh adalah simbol sifat negatif dalam diri manusia—amarah, keserakahan, ego—yang harus dikendalikan.


Fungsi Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Bali

Fungsi ogoh-ogoh tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang kuat.

1. Bagian dari Ritual Ngerupuk

Ogoh-ogoh diarak saat pengerupukan, sehari sebelum Nyepi. Ini adalah momen “pembersihan” sebelum memasuki hari hening.

2. Simbol Refleksi Diri

Menurut para cendekiawan Hindu Dharma, ogoh-ogoh mengajak manusia menyadari kekuatan dalam dirinya—apakah digunakan untuk kebaikan atau kehancuran.

3. Representasi Energi Negatif

Dengan mengarak ogoh-ogoh, masyarakat seolah “mengeluarkan” energi negatif dari lingkungan.

4. Media Edukasi Budaya

Proses pembuatan ogoh-ogoh melibatkan generasi muda, terutama dalam kelompok sekaa teruna, sebagai bentuk pelestarian budaya.


Kenapa Ogoh-Ogoh Dibakar?

Banyak yang mengira pembakaran ogoh-ogoh adalah ritual utama Nyepi. Padahal, tidak sepenuhnya demikian.

Pembakaran ogoh-ogoh melambangkan:

  • Penghancuran sifat buruk

  • Pemurnian diri dan lingkungan

  • Mengusir energi negatif

Namun penting dicatat:
Ogoh-ogoh bukan bagian inti dari ritual Nyepi, melainkan pelengkap yang memperkaya tradisi.


Perkembangan Ogoh-Ogoh di Era Modern

Seiring waktu, ogoh-ogoh mengalami transformasi besar.

Dulu:

  • Didominasi sosok Bhuta Kala

  • Bentuk sederhana

Sekarang:

  • Bisa berbentuk tokoh pewayangan, legenda, bahkan figur populer

  • Menggunakan teknologi (lampu, mekanik, bahkan seni kinetik)

Tradisi ini juga berkembang menjadi daya tarik wisata. Bahkan, dikutip dari situs Pemerintah Kabupaten Buleleng, ogoh-ogoh kini menjadi bagian penting dalam promosi budaya dan pariwisata Bali.


Insight: Tradisi atau Hiburan?

Di sinilah muncul pertanyaan menarik.

Dulu, ogoh-ogoh adalah simbol spiritual.
Sekarang, ia juga menjadi festival budaya dan atraksi wisata.

Ada pergeseran:

  • Dari ritual sakral → tontonan publik

  • Dari simbol filosofis → karya seni kompetitif

Risikonya?
Makna spiritual bisa memudar jika hanya fokus pada visual dan hiburan.


Contoh Nyata di Lapangan

Bayangkan suasana malam pengerupukan:

Sekelompok pemuda banjar bekerja berbulan-bulan membuat ogoh-ogoh. Saat malam tiba, mereka mengaraknya dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang menghentak.

Wisatawan berdiri di pinggir jalan, merekam momen tersebut.
Sementara warga lokal melihatnya sebagai bagian dari ritual spiritual.

Dua perspektif, satu tradisi.


Kenapa Generasi Muda Perlu Tahu?

Memahami pengertian ogoh-ogoh bukan hanya soal budaya, tapi juga relevansi:

  • Mengajarkan refleksi diri

  • Mengingatkan pentingnya keseimbangan dengan alam

  • Menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia

Selain itu, ogoh-ogoh juga berkontribusi pada:

  • Ekonomi kreatif

  • Pariwisata Bali

  • Pelestarian tradisi lokal


Penutup Reflektif

Ogoh-ogoh bukan sekadar patung raksasa yang diarak dan dibakar. Ia adalah cermin—tentang manusia, alam, dan keseimbangan hidup.

Namun di tengah modernisasi dan pariwisata, muncul pertanyaan penting:
apakah ogoh-ogoh masih soal spiritualitas, atau sudah menjadi tontonan semata?

Satu hal yang pasti, tradisi ini terus berkembang.
Pantau terus bagaimana ogoh-ogoh berubah di masa depan—karena di situlah cerita budaya terus hidup.

Baca Juga: Peringati Hari Raya Nyepi 2026, BRI Peduli Salurkan CSR 2.000 Paket Sembako bagi Warga Desa Angseri dan Desa Sarimekar di Bali

Baca Juga: Puncak Arus Balik Diprediksi Terjadi Besok, Korlantas Polri Siapkan One Way Nasional

FAQ

1. Apa itu ogoh-ogoh dalam tradisi Bali?

Ogoh-ogoh adalah patung raksasa khas Bali yang dibuat sebagai simbol Bhuta Kala, yaitu energi negatif dalam kehidupan manusia. Dalam tradisi ogoh-ogoh sebelum Nyepi, patung ini diarak keliling desa saat malam pengerupukan (ngerupuk), lalu biasanya dibakar sebagai simbol pembersihan diri dan alam.


2. Apa fungsi ogoh-ogoh bagi masyarakat Bali?

Fungsi ogoh-ogoh tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media refleksi spiritual. Ogoh-ogoh digunakan untuk menggambarkan sifat buruk manusia, mengusir energi negatif, serta menjadi bagian dari ritual ngerupuk sebelum Hari Raya Nyepi.


3. Kenapa ogoh-ogoh harus dibakar setelah diarak?

Ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol pemurnian dan penghancuran sifat negatif dalam diri manusia. Proses ini melambangkan pelepasan energi buruk agar umat Hindu dapat memasuki Hari Nyepi dalam keadaan bersih secara lahir dan batin.


4. Apa makna ogoh-ogoh dalam ajaran Hindu?

Makna ogoh-ogoh dalam Hindu berkaitan dengan filosofi Bhuta Kala, yaitu kekuatan alam dan waktu yang tak terbatas. Ogoh-ogoh juga merepresentasikan keseimbangan antara Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia), yang harus dijaga agar kehidupan tetap harmonis.


5. Apakah ogoh-ogoh wajib ada saat Hari Raya Nyepi?

Tidak, ogoh-ogoh bukan bagian wajib dalam rangkaian Hari Raya Nyepi. Tradisi ini merupakan pelengkap dalam ritual pengerupukan yang berkembang sejak tahun 1980-an, sehingga boleh ada atau tidak tergantung kebijakan masing-masing daerah di Bali.


6. Bagaimana perkembangan ogoh-ogoh modern saat ini?

Perkembangan ogoh-ogoh modern sangat pesat, baik dari segi bentuk maupun teknologi. Kini, ogoh-ogoh tidak hanya menggambarkan Bhuta Kala, tetapi juga tokoh populer, karakter budaya, hingga karya seni kinetik yang bisa bergerak dan menggunakan efek visual.


7. Apa perbedaan ogoh-ogoh dengan ondel-ondel?

Perbedaan utama ogoh-ogoh dan ondel-ondel terletak pada fungsi dan maknanya. Ogoh-ogoh memiliki nilai spiritual dalam tradisi Bali sebagai simbol energi negatif, sedangkan ondel-ondel adalah kesenian Betawi yang berfungsi sebagai hiburan dan penolak bala tanpa kaitan langsung dengan ritual keagamaan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.