Akurat Logo

Jadi Penyokong MBG, Kios Buah di Solo Berdayakan Petani Lokal dan Angkat Ekonomi Tetangga

Moehamad Dheny Permana | 23 April 2026, 11:52 WIB
Jadi Penyokong MBG, Kios Buah di Solo Berdayakan Petani Lokal dan Angkat Ekonomi Tetangga
Jadi penyuplai buah untuk Program MBG, Santi kini bisa memberdayakan petani dan meningkatkan ekonomi para tetangga. (Bakom RI)

AKURAT.CO Pandemi Covid-19 memukul usaha restoran milik Santi, warga Kelurahan Kerten, Kecamatan Laweyan, Surakarta.

Namun, dia tak patah arang karena Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang baru.

Bukannya mendirikan dapur, Santi justru melihat peluang lain dari Program MBG ini. Dia melihat, menjadi penyokong keberlangsungan dapur MBG pun bisa sama-sama memberdayakan masyarakat sekitar.

Lantas, dia mencoba menawarkan diri menjadi supplier atau pemasok buah untuk dapur MBG. Kemampuannya beradaptasi dengan kebutuhan dapur membuat usaha rintisannya langsung dipercaya oleh satu dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Saya cuma satu dapur awalnya. Saya dipercaya untuk setiap hari menyuplai buah-buah lokal," kata Santi, ditemui di Toko Buah Segar Nusantara, Kamis (23/4/2026).

Santi mengaku tidak pernah menolak apa yang menjadi permintaan dapur MBG. Ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan buah yang dipesan oleh SPPG. Hal itu merupakan adaptasi pertama yang bisa dia lakukan.

"Alhamdulillah, ini sudah hampir di tiga puluhan dapur yang setiap hari kita suplai," ujarnya.

Baca Juga: Gibran Tinjau Program MBG di Mimika, Pastikan Siswa Terpenuhi Gizinya

Santi juga menjalin kerja sama dengan banyak petani buah lokal. "Kalau yang dari lokal, kita kerja sama dengan petani langsung, kelompok tani," katanya.

Buah-buah yang menjadi langganan antara lain semangka, melon, dan pisang. Dari ketiga jenis buah itu, masing-masing Santi punya kerja sama dengan kelompok tani.

Untuk semangka, dia bekerja sama dengan kelompok tani di Tuban. Menjaga pasokan pisang, dia menggaet petani dari Lampung. Dan untuk melon dipasok dari petani asal Ngawi.

"Awal sih kita belajar dulu untuk bagaimana bisa sesuai dengan permintaan dapur," kata Santi bercerita saat pertama kali merintis toko buah.

Seiring waktu, dia terus memperbaiki layanan. Misal, dapur MBG merasa jeruk yang dipasok terlalu besar dan tidak bisa masuk ke dalam ompreng. Langsung dia ganti dengan jeruk yang lebih kecil.

"Isinya yang sesuai, 10 sampai 12 buah (jeruk)," katanya.

Untuk pisang pun sama, Santi mampu memasok pisang dengan ukuran kompak agar bisa masuk ke ompreng dengan tetap mempertahankan kecukupan gizi.

Sempat ada momen harga buah melambung, terutama untuk buah lokal. Karena pasokannya kurang, harga buah menjadi naik drastis. Bagi Santi, kondisi ini justru menjadi tantangannya untuk bisa terus mencari dan bekerja sama dengan banyak lagi petani.

Baca Juga: Petani Sayur di Boyolali Tersenyum, MBG Bikin Harga Jual Naik dan Permintaan Meningkat

"Waktu puasa kemarin, pisang langka. Agak kesulitan juga," ujarnya.

Angkat Ekonomi Tetangga

Namun, dia tetap terus berupaya agar usahanya tak karam seperti yang terdahulu. Pasalnya, usaha buah yang dia rintis ini sudah mempekerjakan hingga 20 orang warga sekitar.

"Alhamdulillah, sebagian besar kita dari tetangga. Tetangga sekitar," kata Santi.

Mulai dari bagian administrasi, penyortir buah, pengemudi, asisten pengemudi hingga para pengangkut buah.

"Terima kasih Pak Prabowo. Program ini sangat membantu, terutama petani-petani. Dan berguna untuk masyarakat," katanya.

Heni (51 tahun), warga Boyolali, menjadi salah satu penyortir buah yang bekerja di kios milik Santi. Dia sudah ikut Santi sejak jatuh bangunnya usaha sang majikan.

"Saya janda anak tiga. Saya sebagai tulang punggung keluarga. Dulu pengangguran, sekarang dapat peluang kerja. Bisa nyenengin diri sendiri dan anak," katanya.

Heni berharap Program MBG ini dapat terus berjalan. Selain untuk memenuhi kebutuhan gizi anak Indonesia, program ini pun bisa membantu masyarakat kecil seperti dirinya.

"Ingin nyicil dandani rumah," ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.