Akurat Logo

CFD di Rasuna Said Harus Dibarengi Solusi Kemacetan dan Tata Kelola Kota

Okto Rizki Alpino | 8 Mei 2026, 17:56 WIB
CFD di Rasuna Said Harus Dibarengi Solusi Kemacetan dan Tata Kelola Kota
Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jakarta, Kevin Wu (Akurat.co/Okto Rizki Alpino)

AKURAT.CO Pemilihan koridor Jalan H.R. Rasuna Said sebagai lokasi pencanangan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta sekaligus lokasi baru Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD), mencerminkan wajah Jakarta menuju kota global.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta diingatkan agar pelaksanaan CFD di kawasan tersebut tidak hanya bersifat seremonial tanpa dibarengi penyelesaian persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.

"Jangan sampai Rasuna Said dibuat cantik satu hari untuk seremoni, tapi setelah itu warga tetap menghadapi masalah lama," kata Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jakarta, Kevin Wu, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga: Mulai 1 Juni 2026, CFD di Sudirman Dimulai Lebih Pagi Pukul 05.30 WIB

Dia menekankan pentingnya koordinasi lintas instansi dalam pelaksanaan CFD di koridor Rasuna Said. Menurutnya, pembagian tugas dan tanggung jawab harus disusun secara jelas agar evaluasi kebijakan dapat berjalan optimal.

"Harus jelas siapa melakukan apa, siapa bertanggung jawab, dan bagaimana evaluasinya," ucap Kevin.

Kevin juga meminta Pemerintah Provinsi Jakarta melakukan simulasi dan pemetaan sebelum CFD diterapkan secara rutin di kawasan tersebut. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain potensi kemacetan, kerumunan massa, parkir liar, hingga jalur evakuasi.

Baca Juga: CFD di Rasuna Said Digelar 10 Mei 2026, Dishub Jakarta Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

"Sebelum diterapkan rutin, harus ada simulasi, pemetaan titik rawan macet, titik rawan kerumunan, potensi parkir liar, jalur evakuasi, pengaturan pedagang, dan mekanisme pengaduan warga secara real time," jelasnya.

Menurut Kevin, konsep kota global tidak hanya ditunjukkan melalui penataan kawasan, tetapi juga melalui kualitas pelayanan publik dan kenyamanan warga dalam beraktivitas.

"Jakarta kota global adalah ketika warga bisa berjalan kaki dengan aman, menggunakan transportasi publik dengan nyaman, berolahraga di ruang publik secara tertib, serta mendapatkan pelayanan pemerintah yang cepat dan manusiawi," katanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.