Akurat Logo

Buka Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Wapres Gibran: Pembangunan Tidak Lagi Jawa Sentris

Ayu Rachmaningtyas | 21 Juni 2026, 06:08 WIB
Buka Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Wapres Gibran: Pembangunan Tidak Lagi Jawa Sentris
Wapres Gibran Rakabuming Raka dalam pembukaan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (20/06/2026). Foto: Akurat.co/Ayu Rachmaningtyas

AKURAT.CO Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengapresiasi transformasi Ruang Terbuka Publik (RTP) Borarsi, Manokwari, yang mampu menjadi lokasi penyelenggaraan perhelatan skala nasional.

Demikian dikatakannya saat membuka Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (20/06/2026).

Menurut Gibran, dirinya pernah mengunjungi lokasi tersebut pada November tahun lalu ketika pembangunan RTP Borarsi masih berlangsung.

Kini, kawasan yang sebelumnya masih dalam tahap pengerjaan telah bertransformasi menjadi ruang publik representatif untuk menyelenggarakan ajang berskala nasional.

"November tahun lalu saya pernah ke sini, ke lapangan ini. Saat itu masih proses pembangunan tapi saya senang sekarang bisa difungsikan untuk event sebesar Pesparawi," ujarnya.

Baca Juga: Gibran Instruksikan Menteri Bergerak Cepat Jawab Keluhan Petani dan Nelayan Gorontalo

Menurut Gibran, perubahan RTP Borarsi menjadi lokasi penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

"Pembangunan sudah tidak lagi Jawa sentris tapi Indonesia sentris. Itulah sebabnya pembangunan Papua jadi salah satu prioritas bapak presiden. Mulai dari pembangunan rumah sakit, sekolah rakyat, pasar, Trans Papua, MBG, kampung nelayan," jelasnya.

Kendati demikian, Gibran menekankan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan dengan terciptanya situasi yang aman, damai, dan kondusif.

"Namun, dalam melakukan pembangunan dibutuhkan situasi yang kondusif dan damai. Oleh sebab itu, saya mengapresiasi tema Pesparawi tahun ini yang mengangkat soal perdamaian dan persaudaraan di tanah Papua," tuturnya.

Ketua Panitia Pelaksana Pesparawi Nasional XIV, Ali Baham Temongmere, mengatakan, penyelenggaraan Pesparawi menjadi bukti nyata toleransi dan moderasi beragama yang telah tumbuh dan berakar di Papua Barat.

Baca Juga: Produk Cokelatnya Mendunia, Wapres Gibran Tanam Bibit Kakao di Manokwari Selatan

"Ini bukan hanya slogan tapi sebuah realitas," ujarnya.

Menurut Ali, semangat persaudaraan lintas agama tercermin dalam berbagai aspek penyelenggaraan acara, termasuk keterlibatan kelompok hadrah dari umat Islam dalam parade pembukaan.

Ia juga menegaskan bahwa sejarah masuknya agama-agama di Papua menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan dan saling menghormati antarpemeluk agama.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan dari berbagai daerah. Ia berharap Pesparawi Nasional XIV tidak hanya menjadi ajang kompetisi paduan suara gerejawi tetapi juga memperkuat perdamaian, persaudaraan, dan persatuan bangsa dari Tanah Papua.

Pesparawi Nasional XIV berlangsung pada 18-28 Juni 2026 yang diikuti oleh 5.434 peserta, tamu, dan penggembira dari 38 provinsi. Kegiatan ini mengusung tema "Aku Hendak Memuji Tuhan pada Segala Waktu."

Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan Gorontalo, Wapres Gibran Kawal Percepatan Penyelesaian Bendungan Bulango Ulu

Pada prosesi pembukaan dilakukan defile 43 kontingen dari 38 provinsi yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia dalam semangat persaudaraan dan persatuan.

Pembukaan Pesparawi Nasional XIV ditandai dengan penabuhan tifa oleh Wapres Dominggus dengan didampingi Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, dan para gubernur di Papua.

Prosesi tersebut dilanjutkan dengan tiupan triton, pembukaan selubung maskot "Bit Sang Konduktor", lagu Haleluya Agung dan tarian tifa.

Acara ditutup dengan lagu Tanah Papua yang dinyanyikan bersama seluruh hadirin dengan tangan kanan diletakkan di dada kiri sebagai simbol cinta dan penghormatan terhadap Bumi Cenderawasih.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.