Doa Malam Lailatul Qadar: Bacaan Arab, Latin, dan Artinya Sesuai Hadis Nabi

AKURAT.CO Banyak orang mencari doa malam Lailatul Qadar menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan. Umumnya, mereka ingin mengetahui bacaan doa yang dianjurkan Rasulullah, kapan waktu membacanya, serta hadis yang menjadi landasannya. Informasi ini penting karena malam Lailatul Qadar dipercaya sebagai malam paling mulia dalam Islam.
Selain mengetahui bacaan doa, umat Islam juga ingin memahami makna dan cara mengamalkannya agar ibadah di sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi lebih khusyuk dan bermakna.
Malam yang Dicari Umat Islam di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan
Ada satu malam dalam bulan Ramadan yang selalu dinantikan umat Islam di seluruh dunia: Lailatul Qadar. Malam ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.
Karena kemuliaannya, banyak Muslim meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Masjid-masjid dipenuhi jamaah yang melaksanakan qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, berzikir, hingga beri’tikaf.
Di tengah suasana ibadah yang semakin khusyuk itulah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan langsung oleh Rasulullah saw.
Bacaan Doa Malam Lailatul Qadar (Jawaban Cepat)
Doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah berbunyi:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin:
Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah)
Artinya:
“Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”
Doa ini diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA dalam hadis yang dicatat oleh Imam At-Tirmidzi. Rasulullah mengajarkan doa tersebut ketika Aisyah bertanya apa yang harus dibaca jika menjumpai malam Lailatul Qadar.
Hadis Tentang Doa Malam Lailatul Qadar
Pertanyaan tentang doa Lailatul Qadar pernah diajukan langsung oleh Sayyidah Aisyah kepada Rasulullah saw. Hadisnya berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui malam Lailatul Qadr, apa yang harus aku ucapkan pada malam itu?’ Rasulullah menjawab: ‘Ucapkanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul-‘afwa fa‘fu ‘anni.’”
(HR. at-Tirmidzi, hadis hasan sahih)
Hadis ini menjadi dasar utama bacaan doa Lailatul Qadar yang diamalkan umat Islam hingga sekarang.
Dua Redaksi Doa Lailatul Qadar Menurut Riwayat Hadis
Dikutip dari NU Online, dalam artikel Doa Malam Lailatul Qadar yang ditulis oleh Ustadz Alhafiz Kurniawan, terdapat dua redaksi doa yang hampir sama.
Menurutnya, kedua redaksi ini sama-sama bersumber dari hadis yang kuat dan banyak diamalkan masyarakat di Indonesia.
“Dua redaksi doa malam Lailatul Qadar yang kami temukan dari dua riwayat hadis dari Sayyidah Aisyah ra. Dua redaksi ini diamalkan masyarakat di masjid-masjid di Indonesia,” tulis Ustadz Alhafiz Kurniawan.
1. Redaksi Doa Riwayat Imam At-Tirmidzi
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin:
Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah)
Artinya:
“Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”
2. Redaksi Doa Riwayat Lima Imam Hadis
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Latin:
Allāhumma innaka afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī (‘annā jika dibaca berjamaah).
Artinya:
“Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku (maafkanlah kami).”
Redaksi kedua ini diriwayatkan oleh lima imam hadis selain Imam Abu Dawud.
Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi
Rasulullah memberikan petunjuk bahwa malam Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil.
Hal ini disebutkan dalam hadis berikut:
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Intailah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis lain dari Ibnu Abbas juga memberikan petunjuk serupa:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ قَالَ: الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, pada saat tersisa sembilan malam, tujuh malam, atau lima malam.”
(HR. al-Bukhari)
Karena itu, banyak ulama memahami malam tersebut kemungkinan jatuh pada tanggal 21, 23, atau 25 Ramadan, meskipun umat Islam tetap dianjurkan menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir.
Cara Mengamalkan Doa Lailatul Qadar
Doa Lailatul Qadar dapat dibaca sepanjang bulan Ramadan. Namun mayoritas ulama Mazhab Syafi’i menganjurkan untuk memperbanyaknya pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Beberapa waktu yang sering digunakan untuk membaca doa ini antara lain:
Setelah shalat tahajud
Saat qiyamul lail
Ketika beri’tikaf di masjid
Saat berzikir dan berdoa di malam hari
Pada malam-malam tersebut, Rasulullah dikenal meningkatkan ibadahnya dengan sangat sungguh-sungguh.
Mengapa Doa Lailatul Qadar Sangat Singkat
Menariknya, doa yang diajarkan Nabi untuk malam paling mulia justru sangat singkat.
Tidak ada permintaan panjang tentang dunia, kekayaan, atau jabatan. Intinya hanya satu: memohon ampunan kepada Allah.
Hal ini memberikan pesan mendalam bahwa pada malam yang lebih baik dari seribu bulan, karunia terbesar yang bisa diperoleh manusia adalah ampunan Allah.
Dengan ampunan itu, dosa-dosa dihapus dan kehidupan spiritual seorang Muslim dapat dimulai kembali dengan lebih bersih.
Gambaran Suasana Malam Lailatul Qadar
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana masjid sering berubah menjadi lebih hidup.
Sebagian orang memilih beri’tikaf, sebagian lain memperbanyak shalat malam. Ada yang membaca Al-Qur’an hingga larut, dan ada pula yang duduk tenang mengangkat tangan berdoa.
Di tengah keheningan malam itulah, doa singkat yang diajarkan Rasulullah sering terdengar dilantunkan:
“Allahumma innaka afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.”
Doa sederhana, tetapi penuh harapan akan ampunan dan kasih sayang Allah.
Mengapa Doa Ini Penting bagi Umat Islam
Lailatul Qadar adalah salah satu momen spiritual terbesar dalam Ramadan. Pada malam itu, pahala ibadah dilipatgandakan hingga melebihi ibadah selama seribu bulan.
Karena itu, doa yang diajarkan Nabi menjadi sangat penting. Doa ini mengajarkan umat Islam untuk fokus pada hal yang paling utama: ampunan Allah dan perbaikan diri.
Tak heran jika sepuluh malam terakhir Ramadan sering menjadi waktu paling khusyuk bagi banyak Muslim. Di masjid, di rumah, maupun dalam keheningan malam, mereka berharap dapat menjumpai malam yang penuh keberkahan itu.
Malam Lailatul Qadar adalah kesempatan langka yang datang hanya sekali dalam setahun. Doa yang diajarkan Rasulullah mungkin singkat, tetapi maknanya sangat besar: memohon ampunan dari Allah yang Maha Pemaaf.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan sering menjadi momen paling khusyuk bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, berdoa, dan berharap mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Baca Juga: Malam Lailatul Qadar 2026 Jatuh pada Tanggal Berapa? Cek Prediksinya di Sini
Baca Juga: Ramadan di Masjid Al-Ikhlas, Menag Ajak Jamaah Maksimalkan Lailatul Qadar
FAQ
1. Apa doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan Nabi?
Doa malam Lailatul Qadar yang diajarkan Rasulullah adalah “Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul-‘afwa fa‘fu ‘anni.” Doa ini diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah RA ketika ia bertanya kepada Nabi tentang bacaan yang sebaiknya dibaca saat menjumpai Lailatul Qadar. Dalam hadis riwayat At-Tirmidzi, Rasulullah menganjurkan doa ini karena berisi permohonan ampun kepada Allah yang Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan.
2. Bagaimana bacaan doa Lailatul Qadar arab latin dan artinya?
Bacaan doa Lailatul Qadar adalah: اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي. Latin: Allāhumma innaka afuwwun karīmun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī. Artinya: “Ya Allah, sungguh Engkau maha pemaaf yang pemurah. Engkau juga menyukai maaf. Oleh karena itu, maafkanlah aku.” Doa ini dikenal luas sebagai bacaan utama yang dianjurkan untuk dibaca saat malam Lailatul Qadar.
3. Kapan waktu membaca doa Lailatul Qadar?
Doa Lailatul Qadar dapat dibaca sepanjang bulan Ramadan, tetapi paling dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, atau 29. Waktu terbaik membacanya adalah saat qiyamul lail, setelah shalat tahajud, atau ketika sedang beri’tikaf di masjid sambil memperbanyak dzikir dan doa.
4. Mengapa doa Lailatul Qadar berisi permohonan ampunan?
Doa malam Lailatul Qadar menekankan permohonan ampun karena ampunan Allah merupakan karunia terbesar yang bisa diperoleh seorang hamba. Pada malam yang lebih baik dari seribu bulan, Nabi tidak mengajarkan doa panjang, melainkan doa yang berfokus pada pengampunan dosa. Hal ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah pada malam tersebut adalah membersihkan diri dari kesalahan dan mendekatkan diri kepada Allah.
5. Apa saja amalan malam Lailatul Qadar selain membaca doa?
Selain membaca doa Lailatul Qadar, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan seperti shalat malam (qiyamul lail), membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, dan beri’tikaf di masjid. Rasulullah sendiri meningkatkan ibadahnya secara signifikan pada sepuluh malam terakhir Ramadan dengan harapan mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
6. Apa dasar hadis tentang doa Lailatul Qadar?
Dasar hadis tentang doa Lailatul Qadar berasal dari riwayat Sayyidah Aisyah RA. Dalam hadis tersebut, Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang sebaiknya dibaca jika bertemu malam Lailatul Qadar. Nabi kemudian mengajarkan bacaan Allahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul-‘afwa fa‘fu ‘anni, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan dinilai sebagai hadis hasan sahih.
7. Apakah doa Lailatul Qadar boleh dibaca berjamaah?
Doa Lailatul Qadar boleh dibaca secara pribadi maupun berjamaah. Jika dibaca bersama-sama, biasanya lafaz pada bagian akhir doa diubah dari “fa’fu ‘annī” menjadi “fa’fu ‘annā”, yang berarti “maafkanlah kami.” Praktik ini sering dilakukan di masjid-masjid ketika umat Islam melaksanakan qiyamul lail atau i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








