Profil Tajikistan, Negara Muslim yang Larang Warganya Gunakan Jilbab dan Rayakan Hari Besar Islam

AKURAT.CO Tajikistan baru-baru ini melarang warganya menggunakan jilbab dan merayakan hari besar Islam.
Majelis tinggi parlemen negara Tajikistan meloloskan undang-undang kontroversial yang melarang "pakaian asing" di bawah pimpinan ketuanya, Rustam Emomali.
Undang-undang ini menargetkan jilbab dan pakaian tradisional Islam lainnya yang berasal dari Timur Tengah.
Pelanggar akan dikenakan denda mulai dari 7.920 somoni Tajikistan sekitar Rp12,1 juta untuk warga biasa hingga 54.000 somoni setara dengan Rp82,9 juta untuk pejabat pemerintah.
Baca Juga: Kerja Sama, HSBC dan Plaza Indonesia Tingkatkan Pengalaman Berbelanja dan Kuliner
Sedangkan, tokoh agama yang melanggar bisa didenda hingga 57.600 somoni sekitar Rp88,4 juta.
Perayaan hari besar Islam seperti Idulfitri dan Iduladha juga dilarang untuk anak-anak.
Aturan anti-Islam lainnya yang sudah berlaku di Tajikistan termasuk larangan menumbuhkan janggut bagi laki-laki, penggusuran ribuan masjid serta larangan penggunaan nama-nama berbau Arab dan Islam.
Negara Asia Tengah pecahan Uni Soviet ini juga melarang pembentukan partai politik Islam, penggunaan pengeras suara masjid untuk adzan dan penggunaan bahasa Arab di sekolah-sekolah.
Sehubungan dengan itu, ketahui berikut profil negara Tajikistan yang melarang warganya menggunakan hijab.
Profil Tajikistan
Ibu kota Tajikistan adalah Dushanbe. Tajikistan sebelumnya merupakan bagian dari Uni Soviet sejak 1929 hingga merdeka pada 1991.
Tajikistan adalah negara di Asia Tengah yang tidak memiliki pantai dan berbatasan dengan Kirgistan di utara, China di timur, Afganistan di selatan, serta Uzbekistan di barat dan barat laut.
Penduduk Tajikistan terdiri dari berbagai etnis, namun mayoritas adalah etnis Tajik.
Sementara itu, bahasa resmi negara ini adalah bahasa Tajik.
Menurut data Asosiasi Arsip Data Agama (ARDA), Tajikistan memiliki luas 55.300 mil persegi dan penduduk lebih dari tujuh juta jiwa.
Diperkirakan 97 persen penduduk Tajikistan mengidentifikasi diri mereka sebagai Muslim.
Meskipun memiliki wilayah terkecil di antara lima negara Asia Tengah, Tajikistan memiliki elevasi tertinggi karena sebagian besar wilayahnya adalah pegunungan.
Setengah dari pegunungan tersebut berada di ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut.
Secara ekonomi, penduduk Tajikistan sangat bergantung pada sektor pertanian dan jasa.
Kapas adalah komoditas unggulan. Subsektor penting lainnya termasuk peternakan sapi bertanduk panjang, domba gissar, dan kambing, serta budidaya buah-buahan, biji-bijian, dan sayuran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










