Bantuan Tertahan, Gaza di Ambang Kelaparan Massal di Tengah Kepungan dan Serangan Israel

AKURAT.CO Gaza masih terjebak dalam kondisi krisis kemanusiaan akut. Meski Israel telah membuka akses masuk bagi sekitar 100 truk bantuan melalui perlintasan Kerem Shalom, hingga Rabu (21/5/2025), tidak satu pun dari muatan itu berhasil didistribusikan ke warga sipil.
Jalur pengiriman yang ditetapkan dinilai terlalu berbahaya—rawan penjarahan dan berada di zona militer aktif—menyebabkan bantuan terhenti di titik transit tanpa pernah mencapai masyarakat yang membutuhkan.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyatakan bahwa situasi ini sangat mendesak.
"Belum ada bantuan yang bergerak keluar dari titik inspeksi. Rute yang disetujui tidak aman, dan warga Gaza berada dalam kondisi sangat rentan," ujarnya, dikutip pada Kamis (22/5/2025).
Sementara itu, sebagian besar wilayah Gaza kini masuk dalam zona evakuasi atau zona operasi militer Israel, memaksa lembaga kemanusiaan untuk menunggu koordinasi ketat sebelum bergerak.
Meski ada diskusi dengan pemimpin komunitas lokal untuk mencegah penjarahan, realitas di lapangan membuat distribusi hampir mustahil.
PBB melalui OCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan) juga menyerukan pembukaan lebih banyak jalur masuk bantuan—tak hanya untuk kebutuhan pokok seperti makanan, tapi juga barang komersial, produk kebersihan, dan bahan bakar yang saat ini dilarang masuk.
Baca Juga: Penggunaan Jet Pribadi Langgar Etik, DKPP Diminta Pecat 7 Pimpinan KPU RI
Dampak dari keterbatasan bantuan begitu nyata. Rumah sakit terus diserang, memperburuk krisis kesehatan yang sudah genting.
Rumah Sakit Al Awda di Gaza Utara masih beroperasi meski terkena dampak serangan, sementara Rumah Sakit Kamal Adwan dan Rumah Sakit Gaza Eropa terpaksa ditutup.
Penutupan ini menyebabkan layanan vital seperti bedah saraf, perawatan kanker, dan operasi jantung tidak lagi tersedia.
Penderitaan warga juga kian parah karena gelombang pengungsian yang terus berlangsung.
Sebagian besar pengungsi meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun, dan kini tinggal di bangunan rusak, gedung terbengkalai, atau bahkan di ruang terbuka.
Di tengah serangan yang terus berlanjut, mereka tak memiliki tempat aman untuk berlindung, apalagi mengakses makanan dan air bersih.
Di selatan Gaza, Al Mawasi yang sempat disebut sebagai "zona aman" pun kini terjebak krisis air.
Wilayah ini tidak memiliki jaringan air sendiri dan bergantung penuh pada truk-truk pengangkut air, yang kini terhambat oleh keterbatasan bahan bakar dan akses.
PBB menegaskan bahwa mereka siap mengirim bantuan dalam jumlah besar. Namun tanpa jaminan jalur yang aman dan terbuka, penderitaan warga Gaza hanya akan semakin dalam.
Baca Juga: Siapa pun yang Disebut dalam Dakwaan Judol Harus Diproses, Termasuk Budi Arie!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










