Thailand Tegaskan Penyelesaian Konflik dengan Kamboja Lewat Jalur Bilateral, Tolak Mediasi Internasional
Eko Krisyanto | 25 Juli 2025, 15:22 WIB

AKURAT.CO Thailand menolak tawaran mediasi internasional untuk menyelesaikan konflik perbatasan yang sedang berlangsung dengan Kamboja.
Pemerintah Thailand menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk meredakan ketegangan adalah melalui pembicaraan bilateral, dengan syarat Kamboja menghentikan serangannya terlebih dahulu. Demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Thailand pada hari Jumat (25/7/2025), melansir dari laporan Reuters.
Ketegangan di perbatasan kedua negara Asia Tenggara ini telah memanas, dengan baku tembak artileri yang terus berlanjut selama dua hari berturut-turut.
Baca Juga: Piala AFF U-23: Lawan Thailand Besok, Gerald Vanenburg Tegaskan Indonesia Berusaha Kuasai Bola
Insiden ini menandai pertempuran terberat antara Thailand dan Kamboja selama lebih dari satu dekade terakhir, yang sejauh ini telah merenggut setidaknya 16 korban jiwa, sebagian besar warga sipil Thailand.
Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia (selaku ketua ASEAN saat ini) telah menawarkan bantuan untuk memfasilitasi dialog. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, dalam sebuah wawancara menyatakan bahwa Bangkok lebih mengedepankan solusi bilateral. “Saya rasa kita belum membutuhkan mediasi dari negara ketiga,” ujar Nikorndej.
Baik Kamboja maupun Thailand saling tuding sebagai pihak yang memulai konflik pada Kamis pagi. Eskalasi cepat dari tembakan senjata ringan menjadi penembakan berat terjadi di sepanjang area perbatasan yang kedaulatannya telah disengketakan selama lebih dari satu abad.
“Kami tetap pada pendirian kami bahwa mekanisme bilateral adalah jalan keluar terbaik, ini adalah konfrontasi antara kedua negara,” tegas Nikorndej, seraya menambahkan bahwa pihak Kamboja harus menghentikan kekerasan di sepanjang perbatasan terlebih dahulu.
Pemerintah Kamboja belum memberikan tanggapan resmi mengenai hal ini. Namun, Perdana Menteri Hun Manet pada Kamis lalu telah meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengadakan pertemuan terkait masalah tersebut.
Hun Manet mengecam tindakan Thailand sebagai agresi militer yang tidak beralasan dan direncanakan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan akan mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas situasi ini pada Jumat.
Pertempuran ini pecah sehari setelah Thailand menarik duta besarnya dari Phnom Penh dan mengusir utusan Kamboja pada Rabu lalu. Langkah ini diambil sebagai respons atas insiden ledakan ranjau darat yang melukai tentara Thailand.
Pihak berwenang Thailand menuduh ranjau tersebut baru-baru ini dipasang oleh Kamboja, sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh Phnom Penh sebagai tidak berdasar.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, selaku ketua blok ASEAN yang beranggotakan Thailand dan Kamboja, pada hari Kamis mengungkapkan bahwa dirinya telah berbicara dengan para pemimpin kedua negara dan mendesak mereka untuk mencari resolusi damai.
Menanggapi tawaran ini, Nikorndej mengatakan bahwa “jika keluarga ASEAN ingin memfasilitasi kembalinya negosiasi bilateral yang konstruktif, hal itu juga disambut baik.”
Bayu Aji Pamungkas (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









