Akurat
Pemprov Sumsel

Israel Ultimatum Warga Gaza untuk Bergerak ke Selatan, Jika Bertahan Dianggap Teroris

Kumoro Damarjati | 1 Oktober 2025, 21:38 WIB
Israel Ultimatum Warga Gaza untuk Bergerak ke Selatan, Jika Bertahan Dianggap Teroris


AKURAT.CO Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Rabu (1/10), mengeluarkan peringatan terakhir bagi penduduk Kota Gaza untuk segera mengungsi ke wilayah selatan. Peringatan ini disampaikan di tengah gempuran udara intensif yang menghantam pusat kota, sementara Hamas masih menimbang rencana perdamaian yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ultimatum Terakhir Israel

Katz menyebut bahwa militer Israel kini memperketat pengepungan di Kota Gaza setelah berhasil merebut koridor Netzarim yang memutus jalur utara dan selatan Jalur Gaza.

“Ini kesempatan terakhir bagi warga Gaza untuk pindah ke selatan dan membiarkan Hamas terisolasi di Kota Gaza. Siapa pun yang tertinggal akan dianggap sebagai teroris atau pendukungnya,” tulis Katz di platform X.

Ia menegaskan bahwa warga yang ingin mengungsi ke selatan harus melewati pos pemeriksaan militer Israel. Beberapa jam sebelumnya, militer juga mengumumkan penutupan rute terakhir yang masih menghubungkan Gaza selatan ke utara.

Suara Warga Gaza

Meski mendapat ancaman, sebagian warga memilih bertahan. Rabah Al-Halabi (60), yang mengungsi di tenda dekat Rumah Sakit Al-Shifa, mengatakan situasi di selatan tak jauh berbeda.

“Semua wilayah berbahaya, pengeboman terjadi di mana-mana. Pengungsian sangat menyedihkan. Kami hanya menunggu pertolongan Allah atau gencatan senjata,” ujarnya kepada AFP.

Seorang pemuda, Fadel Al-Jadba (26), juga menolak pergi. Ia menyebut tank Israel sudah berada di kawasan Tal Al-Hawa dan kemungkinan bergerak ke Al-Rimal.

“Kami ingin gencatan senjata dengan cara apa pun. Kami sudah lelah dan merasa ditinggalkan dunia,” katanya.

Situasi Kemanusiaan Memburuk

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan operasi militer yang intensif di Kota Gaza memaksa mereka menghentikan kegiatan sementara. Doctors Without Borders (MSF) sebelumnya juga menarik tim mereka akibat serangan Israel. Namun, sejumlah badan PBB masih beroperasi di wilayah tersebut.

Menurut Pertahanan Sipil Gaza, sedikitnya 13 orang tewas akibat serangan terbaru Israel pada Rabu. Militer Israel menyebut laporan itu masih dalam penyelidikan.

Hamas Pertimbangkan Rencana Damai Trump

Di sisi lain, Hamas masih membahas rencana perdamaian yang diajukan Trump. Proposal itu didukung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mencakup gencatan senjata dalam 72 jam,
pembebasan sandera, pelucutan senjata Hamas, penarikan bertahap pasukan Israel dari Gaza.

Namun, sumber internal Hamas menyebut ada perbedaan pendapat. Sebagian mendukung persetujuan cepat demi gencatan senjata, sementara pihak lain menolak klausul pelucutan senjata dan pengusiran warga Palestina. Hamas juga meminta jaminan internasional agar Israel benar-benar menarik pasukannya dan menghormati gencatan senjata.

Trump memberi waktu tiga hingga empat hari bagi Hamas untuk merespons. “Jika mereka menolak, Hamas akan membayar mahal,” tegasnya.

Korban Perang Terus Bertambah

Sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.219 orang, sebagian besar warga sipil, balasan Israel telah menewaskan lebih dari 66.148 warga Palestina, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang diakui PBB. Lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.