Puluhan Ribu Mahasiswa Serbia Gelar Aksi Peringati Tragedi yang Tewaskan 16 Orang Setahun Lalu

AKURAT.CO Puluhan ribu mahasiswa dan warga Serbia yang menentang Presiden populis Aleksandar Vucic berkumpul di Kota Novi Sad, Serbia utara. Mereka memperingati satu tahun tragedi yang menewaskan 16 orang.
Menjelang aksi besar tersebut, gelombang dukungan terhadap tuntutan oposisi terus menguat. Hampir setahun penuh mahasiswa memimpin demonstrasi anti-pemerintah yang mengguncang cengkeraman kekuasaan Vucic di negara Balkan itu.
Ancaman Presiden
Seiring kedatangan ribuan demonstran dari berbagai daerah ke Novi Sad, Presiden Vucic mengeluarkan ancaman akan melakukan penangkapan massal jika aksi berubah menjadi kekerasan. Ia juga menyebut bahwa para pendukungnya berencana menggelar “aksi yang jauh lebih besar” di kota yang sama pada November mendatang.
Kepada wartawan televisi yang menanyakan soal peringatan tersebut, Vucic menjawab sinis, “Ada apa di Novi Sad? Apakah sedang ada pertandingan sepak bola?” Ia menambahkan bahwa banyak pihak “akan kecewa dengan ekspektasi berlebihan terhadap aksi itu,” sambil menegaskan “tidak akan ada pergantian pemerintahan.”
Emosi Memuncak
Sebagian besar aksi mahasiswa selama ini berlangsung damai, meski beberapa kali terjadi bentrokan kecil akibat provokasi dari pendukung pemerintah. Namun, setelah setahun aksi tanpa hasil nyata, tensi politik makin meninggi dan emosi publik memuncak.
Polisi antihuru-hara dilaporkan melakukan tindakan keras terhadap massa. Ratusan orang telah ditangkap, termasuk peserta dua demonstrasi besar di ibu kota Beograd. Kali ini, massa disebut akan menggelar beberapa titik pertemuan terpisah di Novi Sad untuk mempersulit intervensi aparat jika terjadi pembubaran paksa.
Awal Mula Protes
Akar dari gerakan ini bermula pada 1 November 2024, saat kanopi stasiun kereta di Novi Sad roboh dan menewaskan 16 orang. Tragedi itu dituding terjadi akibat kelalaian pemerintah, praktik korupsi, dan proyek renovasi bermasalah yang melibatkan perusahaan konstruksi asal Tiongkok.
Aksi yang awalnya hanya menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut, kemudian berkembang menjadi gerakan nasional dengan tuntutan pemilu dini dan reformasi demokrasi besar-besaran. Dukungan terhadap gerakan ini meluas dari kalangan mahasiswa hingga masyarakat umum di berbagai kota.
Respons Pemerintah
Vucic sempat mencoba meredam tekanan publik dengan mengganti perdana menteri dan membubarkan kabinet pada Januari lalu. Meski beberapa pejabat telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus runtuhnya kanopi stasiun, hingga kini belum ada satu pun yang disidangkan atau dijatuhi hukuman.
Presiden Serbia itu juga menuding aksi-aksi protes sebagai upaya Barat untuk menjatuhkannya. Sementara itu, ia terus memperkuat hubungan politik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Tiongkok, serta menekan kelompok liberal di dalam negeri.
Strategi Aksi Akbar
Panitia aksi memperkirakan ribuan orang dari seluruh Serbia akan tiba di Novi Sad pada Sabtu ini. Ribuan mahasiswa dilaporkan berjalan kaki menuju kota tersebut dari berbagai arah.
Sejumlah peserta yang berangkat dari Beograd terpaksa bermalam di udara terbuka di Kota Indjija karena wali kota setempat, yang merupakan anggota partai Vucic, menolak memberi izin penggunaan gedung olahraga dan bahkan memperingatkan warga agar tidak memberi makanan maupun air kepada para peserta aksi.
Peringatan di Novi Sad ini berpotensi menjadi salah satu aksi massa terbesar dalam sejarah politik Serbia yang dikenal panjang dengan tradisi demonstrasi anti-pemerintah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 7Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 8Kalender Jawa 3 Juni 2026: Watak Weton Rabu Legi, Sosok Jujur yang Disukai Banyak Orang
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







