Akurat
Pemprov Sumsel

Ilmuwan: Gelombang Panas Laut Dorong Badai Ekstrem Landa Indonesia, Thailand hingga Sri Lanka

Kumoro Damarjati | 12 Desember 2025, 07:41 WIB
Ilmuwan: Gelombang Panas Laut Dorong Badai Ekstrem Landa Indonesia, Thailand hingga Sri Lanka


AKURAT.CO Badai mematikan Asia Tenggara kembali menjadi sorotan setelah rangkaian cuaca ekstrem menghantam Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, dan Thailand pada akhir November. Para ilmuwan menyampaikan bahwa intensitas badai tersebut meningkat akibat perubahan iklim dan suhu permukaan laut yang lebih tinggi dari normal.

Dalam laporan terbaru, para peneliti menyebut Tropical Cyclone Senyar sebagai salah satu pemicu utama kerusakan terbesar di kawasan. Badai ini melanda Asia Tenggara setelah terbentuk di Selat Malaka dan menewaskan hampir 1.200 orang, termasuk 969 korban jiwa di Pulau Sumatra. Pemerintah memperkirakan dana pemulihan mencapai sekitar US$3 miliar.

Tak hanya itu, badai mematikan Asia Tenggara juga terlihat dari dampak Tropical Cyclone Ditwah yang menyebabkan banjir besar dan tanah longsor di Sri Lanka. Jumlah korban tewas melampaui 600 orang, sementara kerugian ekonomi diperkirakan mencapai US$7 miliar.

Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) mengungkapkan bahwa selama lima hari curah hujan paling ekstrem, suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian utara tercatat 0,2 derajat Celsius lebih tinggi dari rata-rata 1991–2020. Kondisi ini memberikan tambahan energi yang “mengisi” badai dengan kekuatan ekstra.

Mereka memperkirakan, tanpa peningkatan suhu global sebesar 1,3°C sejak era pra-industri, permukaan laut di kawasan tersebut akan sekitar satu derajat lebih rendah pada akhir November—yang berarti badai akan jauh kurang intens.

Badai tropis memang lazim terjadi selama musim monsun, namun para ilmuwan menegaskan bahwa pemanasan laut akibat perubahan iklim membuat setiap kejadian lebih dahsyat meski frekuensinya tidak meningkat.

“Yang tidak normal adalah peningkatan intensitas badai dan dampaknya terhadap jutaan orang,” ujar Sarah Kew, peneliti iklim dari Royal Netherlands Meteorological Institute sekaligus penulis utama studi tersebut.

Meski belum dapat menghitung kontribusi spesifik perubahan iklim terhadap setiap badai, tim peneliti memperkirakan kenaikan curah hujan ekstrem akibat pemanasan global bisa mencapai 9–50 persen di Selat Malaka dan 28–160 persen di Sri Lanka.

Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa semakin banyak wilayah berpotensi terdampak cuaca ekstrem seiring badai terbentuk di lokasi-lokasi baru dengan arah pergerakan yang kian sulit diprediksi.

Pembentukan Tropical Cyclone Senyar di Selat Malaka pun dianggap tidak biasa, bahkan disebut sebagai badai kedua dalam sejarah yang mendarat di Malaysia dari arah barat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.