Akurat
Pemprov Sumsel

Trump Bela Kepala Staf Susie Wiles Usai Sebut Presiden Berkepribadian “Alkoholik”

Kumoro Damarjati | 17 Desember 2025, 11:07 WIB
Trump Bela Kepala Staf Susie Wiles Usai Sebut Presiden Berkepribadian “Alkoholik”

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tetap memberikan dukungan penuh kepada Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, setelah pernyataannya yang menyebut Trump memiliki “kepribadian seorang alkoholik” menuai kehebohan publik. Pernyataan kontroversial itu dimuat dalam wawancara panjang Wiles bersama majalah Vanity Fair.

Selain komentar soal Trump, Wiles juga melontarkan kritik tajam terhadap sejumlah tokoh penting dalam pemerintahan. Wakil Presiden JD Vance disebutnya sebagai “teoretikus konspirasi”, sementara miliarder teknologi Elon Musk ia gambarkan sebagai sosok “aneh”. Artikel tersebut memuat pandangan pribadi Wiles terhadap berbagai figur kunci di lingkaran kekuasaan Trump.

Trump sendiri sebelumnya kerap memuji Wiles, yang menjadi perempuan pertama menjabat Kepala Staf Gedung Putih. Ia bahkan menjulukinya “ice maiden” dan menyebut peran Wiles sangat krusial dalam menggerakkan roda pemerintahan periode keduanya secara senyap namun efektif.

Wiles Bantah Artikel Vanity Fair

Nama Susie Wiles, yang kini berusia 68 tahun, langsung menjadi sorotan setelah Vanity Fair mempublikasikan artikel berbasis rangkaian wawancara dengan jurnalis politik senior Chris Whipple selama setahun terakhir. Menanggapi publikasi tersebut, Wiles menilai artikel itu sebagai “serangan yang dibingkai secara tidak jujur”.

Ia menuduh majalah tersebut sengaja membangun narasi negatif dan menggambarkan tim Trump seolah berada dalam kondisi kacau. Menurut Wiles, banyak konteks penting yang diabaikan, termasuk pernyataan positif tentang presiden dan jajaran pemerintahannya.

Trump Akui Punya “Kepribadian Alkoholik”

Meski pernyataan Wiles memicu kontroversi, Trump justru membenarkannya. Kepada New York Post, Trump mengaku sepakat dengan deskripsi tersebut, meski ia dikenal tidak mengonsumsi alkohol.

“Saya memang tidak minum alkohol. Tapi saya sering mengatakan, kalau saya minum, kemungkinan besar saya akan menjadi seorang alkoholik. Kepribadian saya sangat posesif,” ujar Trump.

Trump juga menegaskan Wiles telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Vanity Fair mencatat, Wiles—yang ayahnya, penyiar NFL Pat Summerall, merupakan mantan pecandu alkohol—menilai Trump memiliki keyakinan kuat bahwa tidak ada hal yang mustahil baginya.

Kritik terhadap Elon Musk dan JD Vance

Dalam wawancara tersebut, Wiles menegaskan dirinya bukan “penurut” Trump. Ia mengaku tidak berperan sebagai fasilitator berlebihan, meski Trump dinilai menunjukkan penggunaan kekuasaan presiden secara agresif sejak kembali menjabat pada Januari lalu.

Wiles juga secara terbuka mengkritik Elon Musk, yang memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (Department of Government Efficiency/DOGE). Ia menyebut Musk sebagai “aktor tunggal” dan mengkritik kebijakan penutupan Badan Bantuan Internasional AS (USAID), meski ia mengakui sistem lembaga tersebut bermasalah.

Sementara itu, JD Vance tetap dipuji sebagai bagian dari “tim inti” bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Wakil Kepala Staf Stephen Miller. Namun, Wiles menyebut Vance telah lama terjebak teori konspirasi, khususnya terkait kasus Jeffrey Epstein.

Sindiran untuk Pejabat Lain

Wiles juga melontarkan kritik pedas kepada Jaksa Agung Pam Bondi, yang dinilainya gagal memenuhi janji merilis dokumen terkait Epstein. Kepala Kantor Anggaran Gedung Putih, Russ Vought, bahkan ia sebut sebagai “fanatik sayap kanan”.

Tak hanya soal personal, Wiles turut membahas kebijakan strategis. Ia mengaku memiliki kesepakatan informal dengan Trump untuk menghentikan aksi balas dendam politik setelah 90 hari, meski presiden masih kerap menyerukan penindakan hukum terhadap lawan-lawannya.

Dalam isu Ukraina, Wiles menyebut Trump meyakini Presiden Rusia Vladimir Putin menginginkan kendali penuh atas negara tersebut, terlepas dari upaya Washington mendorong perundingan damai.

Pejabat Kabinet Pasang Badan Bela Wiles

Sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump segera memberikan pembelaan terhadap Wiles dan mengecam laporan Vanity Fair. JD Vance menyebut komentar soal teori konspirasi sebagai candaan yang kerap mereka bahas bersama.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan di media sosial bahwa tak ada sosok yang lebih tepat dari Wiles untuk posisi tersebut. Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menilai Wiles sebagai figur luar biasa dan menuduh Vanity Fair melakukan “bias karena penghilangan fakta”.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.