Akurat
Pemprov Sumsel

Nama yang Mencuat di Tengah Gelombang Protes Iran, Siapa Reza Pahlavi?

Kumoro Damarjati | 11 Januari 2026, 18:10 WIB
Nama yang Mencuat di Tengah Gelombang Protes Iran, Siapa Reza Pahlavi?

AKURAT.CO Gelombang demonstrasi nasional di Iran yang kini hampir memasuki dua pekan. Dalam situasi kacau ini, muncul kembali satu nama lama dalam politik Iran: Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang hidup di pengasingan.

Di tengah meningkatnya korban jiwa dan penangkapan massal, Reza Pahlavi tampil sebagai salah satu figur oposisi paling vokal yang secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk terus turun ke jalan.

Protes Meluas, Korban Tewas Bertambah

Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), hingga Minggu sedikitnya 116 orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan Iran. Selain itu, lebih dari 2.600 orang ditahan sejak aksi protes meletus.

Demonstrasi ini dipicu oleh krisis ekonomi parah, terutama anjloknya nilai mata uang rial yang kini menembus lebih dari 1,4 juta rial per dolar AS. Nilai mata uang Iran disebut telah kehilangan separuh nilainya sejak September, diperparah oleh sanksi internasional yang terus menekan perekonomian.

Kondisi tersebut memicu kemarahan publik dan berkembang menjadi tantangan langsung terhadap sistem pemerintahan teokrasi Iran.

Pemerintah Iran Ancam Demonstran dengan Hukuman Mati

Pemerintah Iran merespons aksi protes dengan langkah keras. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, menyatakan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kerusuhan akan dianggap sebagai “musuh Tuhan”.

Pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran itu menegaskan bahwa bahkan mereka yang sekadar membantu demonstran dapat dijerat tuduhan tersebut. Dalam hukum pidana Iran, status “musuh Tuhan” merupakan kejahatan berat yang dapat berujung hukuman mati.

Reza Pahlavi Kembali ke Panggung Politik

Di tengah situasi genting ini, Reza Pahlavi, mantan putra mahkota Iran berusia 65 tahun, kembali mencuat sebagai figur penting oposisi. Melalui media sosial dan wawancara dengan media internasional, ia secara aktif mengajak rakyat Iran melanjutkan protes.

Dalam sejumlah unggahan, Pahlavi menyerukan agar demonstran turun ke jalan pada Kamis dan Jumat malam, serta melanjutkan aksi sepanjang akhir pekan. Ia juga mendorong penggunaan bendera singa dan matahari, simbol nasional Iran pada era monarki, sebagai bentuk klaim ruang publik dan perlawanan simbolik terhadap rezim saat ini.

Latar Belakang Reza Pahlavi

Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 1960 dan diangkat sebagai putra mahkota Iran hingga ayahnya, Mohammad Reza Pahlavi, digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Setahun sebelum revolusi, Reza Pahlavi meninggalkan Iran untuk mengikuti sekolah penerbangan di Amerika Serikat.

Rezim Shah runtuh setelah jutaan rakyat Iran—termasuk kelompok kiri, buruh, mahasiswa, dan ulama—bersatu menentang monarki yang dianggap otoriter, timpang secara ekonomi, dan represif melalui badan intelijen Savak.

Setelah wafatnya sang ayah, sebuah istana kerajaan di pengasingan secara simbolis menyatakan Reza Pahlavi sebagai Shah Iran pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20. Namun sejak saat itu, ia hidup di luar Iran selama hampir 50 tahun.

Tokoh Kontroversial di Kalangan Oposisi

Meski kembali mendapat sorotan, Reza Pahlavi tetap menjadi figur yang memecah opini. Di sejumlah aksi protes, terdengar seruan yang mendukung Shah, namun belum jelas apakah itu merupakan dukungan langsung kepada Pahlavi atau sekadar nostalgia terhadap masa sebelum Revolusi Islam 1979.

Dukungan terbuka Pahlavi terhadap Israel juga menuai kritik tajam, terutama setelah perang 12 hari yang dilancarkan Israel pada Juni 2025. Sikap tersebut membuat sebagian kelompok oposisi dan masyarakat Iran menjauh darinya.

Dalam berbagai wawancara, Pahlavi menyatakan mendukung gagasan monarki konstitusional, bahkan membuka kemungkinan sistem dengan pemimpin terpilih, bukan turun-temurun. Namun ia menegaskan bahwa bentuk masa depan Iran sepenuhnya harus ditentukan oleh rakyat Iran sendiri.

Meski tidak memiliki kekuatan politik langsung di dalam negeri, Reza Pahlavi kini berperan sebagai simbol oposisi luar negeri yang memanfaatkan media sosial dan jaringan media berbahasa Persia untuk memengaruhi opini publik.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.