Akurat
Pemprov Sumsel

Modal Slogan "Kerja,Kerja,Kerja", Koalisi PM Jepang Sanae Takaichi Diperkirakan Menang Besar di Pemilihan Parlemen

Kumoro Damarjati | 8 Februari 2026, 10:49 WIB
Modal Slogan "Kerja,Kerja,Kerja",  Koalisi PM Jepang Sanae Takaichi Diperkirakan Menang Besar di Pemilihan Parlemen

AKURAT.CO Pemilih di Jepang memberikan suara dalam pemilihan parlemen yang diperkirakan akan memenangkan koalisi konservatif Perdana Menteri Sanae Takaichi dengan selisih besar.

Pemungutan suara cepat yang digelar pada Minggu itu menjadi upaya Takaichi untuk memperoleh mandat baru guna mendorong agenda ambisiusnya, termasuk peningkatan belanja pertahanan dan pengetatan kebijakan imigrasi.

Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, koalisi Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi bersama Partai Inovasi Jepang (Ishin) berpeluang meraih lebih dari 300 dari total 465 kursi di majelis rendah parlemen. Angka itu akan menjadi lonjakan signifikan dibandingkan 233 kursi yang saat ini mereka pertahankan.

Sebaliknya, kubu oposisi dinilai terlalu terpecah untuk menjadi penantang serius, meski telah membentuk aliansi baru berhaluan tengah dan munculnya kekuatan sayap kanan.

Takaichi, 64 tahun, merupakan perdana menteri perempuan pertama Jepang. Ia menjabat sejak Oktober setelah terpilih sebagai ketua LDP. Politikus ultrakonservatif itu berjanji akan “bekerja, bekerja, bekerja”, dengan gaya kepemimpinan yang dinilai tegas namun luwes dan mendapat dukungan kuat dari pemilih muda. Ia menyatakan siap mundur jika LDP gagal meraih mayoritas.

Isu Biaya Hidup Mendominasi

Dalam pemilu ini, pemilih menentukan 289 anggota parlemen dari daerah pemilihan satu kursi, sementara sisanya dipilih melalui sistem proporsional berdasarkan suara partai. Tempat pemungutan suara ditutup pukul 20.00 waktu setempat, dan proyeksi hasil berbasis hitung cepat diperkirakan segera diumumkan.

Kenaikan biaya hidup menjadi isu utama kampanye. Harga-harga meningkat sementara pertumbuhan upah riil tertinggal dari inflasi, sehingga daya beli rumah tangga tertekan. Jepang juga menghadapi persoalan lama berupa pertumbuhan ekonomi yang lambat. Dana Moneter Internasional (IMF) mencatat ekonomi Jepang tumbuh 1,1 persen tahun lalu dan diproyeksikan hanya naik 0,7 persen pada 2026.

Takaichi berjanji menangguhkan pajak penjualan 8 persen untuk bahan pangan selama dua tahun guna meringankan beban masyarakat. Kebijakan itu menyusul paket stimulus terbesar sejak pandemi COVID-19 senilai 21,3 triliun yen (sekitar 136 miliar dolar AS) yang difokuskan pada subsidi energi, bantuan tunai, dan kupon pangan.

Selain itu, Takaichi berencana merevisi kebijakan keamanan dan pertahanan sebelum Desember untuk memperkuat kemampuan militer ofensif Jepang, termasuk mencabut larangan ekspor senjata dan menjauh dari prinsip pasifisme pascaperang. Ia juga mendorong kebijakan imigrasi yang lebih ketat, seperti persyaratan lebih tegas bagi pemilik properti asing dan pembatasan jumlah penduduk asing.

Koresponden Al Jazeera di Tokyo, Patrick Fok, menyebut Takaichi yang populer di kalangan pemilih di bawah 30 tahun berupaya memanfaatkan momentum tersebut untuk mengamankan kemenangan besar.

Menurut Fok, jika proyeksi itu terwujud, hasilnya akan menjadi kebangkitan signifikan bagi LDP yang sebelumnya sempat kehilangan mayoritas parlemen dan terseret skandal dana politik. “Perubahan ini banyak dikaitkan dengan kepemimpinan Takaichi dan popularitasnya yang nyaris seperti kultus,” ujarnya.

Pemilu kali ini berlangsung di tengah hujan salju lebat di sejumlah wilayah. Prakiraan menunjukkan salju hingga 70 sentimeter di wilayah utara dan timur, yang berpotensi memengaruhi partisipasi pemilih. Ini merupakan pemilu ketiga pascaperang yang digelar pada Februari, bulan yang jarang dipilih untuk pemungutan suara.

Meski demikian, Fok menilai cuaca ekstrem kecil kemungkinan memengaruhi hasil akhir. Banyak pemilih menilai oposisi tidak menawarkan alternatif kebijakan yang signifikan, sementara agenda ekonomi Takaichi dianggap berorientasi pertumbuhan, termasuk pengembangan kecerdasan buatan, semikonduktor, dan percepatan belanja pertahanan.

Implikasi Kebijakan Luar Negeri

Kemenangan besar koalisi Takaichi juga diperkirakan berdampak pada arah kebijakan luar negeri Jepang.

Profesor politik dan studi internasional di International Christian University, Stephen Nagy, mengatakan kemenangan itu akan memungkinkan Takaichi memperkuat aliansi Jepang-Amerika Serikat serta mengelola hubungan dengan China secara lebih realistis.

Menurutnya, Jepang akan berupaya menyeimbangkan kerja sama perdagangan dengan China sambil tetap memperkuat ketahanan dan kebijakan penangkalan terhadap tantangan regional seperti terorisme dan perubahan iklim.

Nagy juga menyoroti dukungan yang diberikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Takaichi. Ia menyebut dukungan tersebut sebagai “berkah sekaligus tantangan”. Di satu sisi, publik Jepang khawatir terhadap kebijakan tarif Trump dan pendekatannya terhadap China. Di sisi lain, dukungan itu dinilai dapat memperkuat persepsi stabilitas hubungan Jepang-AS yang telah terjalin selama 80 tahun terakhir.

Dengan berbagai dinamika tersebut, hasil pemilu kali ini dipandang akan menentukan arah kebijakan domestik dan internasional Jepang dalam beberapa tahun ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.