Perang AS-Iran Bisa Dimenangkan Iran, Profesor Jiang Xueqin Peneliti Harvard Jelaskan Alasannya Lengkap

AKURAT.CO Perang AS-Iran di Timur Tengah bisa dimenangkan oleh Iran. Selain punya keunggulan geografis, Iran juga dinilai punya keunggulan ekonomi yang tak dimiliki lawannya, AS.
Demikian dikemukakan Prof. Jiang Xueqin, Peneliti di GEII Harvard Graduate School of Education dalam kanal Youtubenya, Predictive History episode Game Theory #9: The US-Iran War.
Pada 2024 lalu, Prof. Jiang memprediksi 3 hal yang 2 di antaranya sudah terbukti, yakni Trump akan memenangkan pilpres AS, Trump akan memulai peperangan dengan Iran serta Trump akan kalah dalam peperangan menyerang Iran.
Keunggulan Geografis Iran
Dari sisi geografis, Iran dianugerahi akses penuh ke Selat Hormuz selebar 33 kilometer tersebut. Banyak hal terjadi yang menguntungkan Iran usai penutupan selat ini.
Aliran Minyak Global Tersendat
Seperti diketahui, pasokan minyak dari negara-negara GCC (Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar), yang setara 20% total suplai minyak global sedianya melewati selat ini, menuju negara-negara Asia, India, Pakistan, Korsel, China, Jepang dan sebagainya. 60% impor minyak ke India berasal dari GCC, begitupun dengan China sebesar 40% dan Jepang sebesar 75%.
PM Jepang, Sanae Takaichi sebelumnya mengalkulasi jika Selat Hormuz ditutup, Jepang akan kehabisan minyak dalam 8 bulan ke depan. Ekonomi Jepang akan collapse dalam 8 bulan jika itu terjadi.
Dan benar, tak lama sejak serangan Israel dan AS ke Teheran, Iran kemudian menutup Selat Hormuz. Dampaknya, dalam beberapa bulan ke depan pertumbuhan ekonomi global bisa melambat lebih dalam.
Aliran Petrodolar ke GCC Tersendat
GCC berperan besar dalam membangun perekonomian AS, terutama terkait petrodolar. Singkatnya, petrodolar adalah dolar AS yang diterima negara pengekspor minyak (seperti anggota OPEC) atas penjualan minyak mentah, yang populer sejak tahun 1970-an.
Petrodolar menjadi sistem perdagangan global dimana minyak dinominasikan dalam dolar, menciptakan permintaan konstan terhadap dolar AS dan mendaur ulang pendapatan minyak ke pasar keuangan AS.
Jika GCC hancur, pada saat yang sama perekonomian AS akan turut hancur. Masalahnya, GCC hanyalah “Kerajaan Virtual” dari AS, yang tidak benar-benar ada. Kenapa? Karena GCC tak memiliki sumber daya pangan dan air. Perekonomian mereka tumbuh murni karena guyuran petrodolar semata.
Sekali lagi, penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu senjata utama Iran untuk mengalahkan Kerajaan AS, atau pengaruh global dan dominasi AS di bidang militer, ekonomi, perdagangan, budaya, aliansi dan intervensi politik.
Aliran Pangan ke GCC Tersendat
Di sisi lain, penutupan Selat Hormuz juga membuat pasokan komoditas pangan ke GCC mandek. Sejak Selat Hormuz ditutup, pasokan pangan ke GCC mulai mandek. Lama-kelamaan kelaparan pun akan melanda. Bayangkan saja, 80% pangan GCC diimpor dari luar kawasan ini.
Wilayah Pegunungan Iran Sebagai Benteng
Secara geografis, wilayah Iran juga diselimuti pegunungan yang menjadi tameng sempurna untuk menyembunyikan kapasitas serangan mereka. Mereka bisa menyembunyikan lokasi sebenarnya senjata perang seperti pangkalan roket, misil dan drone. Dengan ini, Iran memiliki posisi geografis yang jauh lebih strategis untuk meluncurkan senjata mereka.
Menurut catatan BBC, Israel dan AS telah menyerang di 13 lokasi di Teheran, serta 12 kota lainnya. Sementara Iran membalas dengan serangan di 17 titik pangkalan militer AS di GCC. Sekretaris Pertahanan AS, Pete Hegseth mengatakan bahwa saat ini mereka berada pada tahap yang sangat dini dalam operasi militer melawan Teheran dan akan melakukan serangan lebih dalam ke wilayah Iran.
Namun jangan lupa, Iran, selain mengincar pangkalan militer AS, juga masih bisa mengincar fasilitas produksi minyak di GCC. Hal ini sama sekali tidak sulit dilakukan.
Berikutnya terkait sumber air. GCC sendiri tak punya banyak akses ke air tawar. Mereka memanfaatkan desalinasi, dengan ketergantungan yang besar pada pabrik distilasi termal substansial seperti Multi-Stage Flash (MSF) dan Multi-Effect Distillation (MED) untuk menghasilkan air tawar, menghasilkan sekitar 60% dari total kebutuhan air tawar di sana.
Sangat mudah menghancurkan fasilitas distilasi ini dengan drone. Sementara Iran diselimuti pegunungan sebagai benteng, GCC hanyalah dataran gurun yang terekspos terhadap serangan kapan saja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










