Perang AS-Iran Asimetris Tapi Justru Iran Bisa Menang, Ini Analisis Profesor Jiang Xueqin Peneliti Harvard

AKURAT.CO Banyak yang melihat perang AS-Iran merupakan perang asimetris dimana kedua pihak terlihat punya kemampuan militer, ekonomi, atau teknologi yang tak setara.
Namun kondisi tersebut justru akan banyak menguntungkan Iran. Demikian dipaparkan Prof. Jiang Xueqin, Peneliti di GEII Harvard Graduate School of Education dalam kanal Youtubenya Predictive History episode Game Theory #10: The Law of Asymmetry.
Beberapa analis membuat kesimpulan yang terlalu dini dimana mereka menilai AS akan mengalahkan Iran dengan mudah. Padahal justru sebaliknya, pihak yang kerap dianggap sebagai underdog atau inferior seringkali punya banyak keunggulan.
Baca Juga: Iran: Eropa Jangan Ikut Campur, Jangan Memicu Tindakan Perang
Sejarah peradaban manusia sudah membuktikannya. Misalnya saat 300 pasukan Sparta berhasil memukul mundur 15.000 pasukan Persia. Persia, di bawah Raja Darius I dan Xerxes I, melancarkan invasi ke Yunani ( tahun 490-479 SM) untuk membalas dukungan Athena pada Pemberontakan Ionia.
Meskipun Sparta sempat menahan Persia di Thermopylae (480 SM) dan Persia berhasil memberangus Athena. Aliansi Yunani akhirnya menang di Salamis (laut) dan Plataia (darat), memaksa Persia mundur.
Kemudian antara tahun 1519 dan 1521, penakluk Spanyol Hernan Cortes dan pasukan kecilnya yang terdiri dari tentara Eropa dan sejumlah sekutu pribumi, menggulingkan kekaisaran terkuat di Mesoamerika, Viking dengan bantuan sekutu pribumi, konfederasi Tlaxcala.
Sejarah seringkali membuktikan, kelompok etnis atau suku kecil yang berada jauh dari kemewahan kekaisaran justru mampu menaklukkannya. Mengapa demikian?
Keunggulan Sekaligus Kelemahan Kekaisaran
Kekaisaran punya 3 keunggulan utama: populasi, organisasi dan kedalaman
1. Populasi
Terkait populasi, AS misalnya punya 350 juta penduduk, tapi tak terbatas di situ karena mereka juga punya sekutu di Timur Tengah, Uni Eropa, Asia Timur termasuk Korsel, Jepang dan negara lain yang dihuni pangkalan militer AS.
Bisa dibilang, hampir sebagian besar belahan dunia ini merupakan sekutu dan vasal AS. AS punya "miliaran" penduduk untuk kepentingan memenangkan perang ini.
Namun, semua keunggulan itu hanya berlangsung singkat. Dalam jangka panjang, seiring waktu, populasi yang terlalu banyak menimbulkan kesenjangan. Terlalu banyak penduduk membuat semakin sedikit sumber daya yang tersedia karena terus diperebutkan. Ujungnya utang dan perbudakan.
Penduduk lama kelamaan akan menjadi malas dan tidak kompeten. Mereka akan saling berkompetisi satu sama lain dan membenci pemerintah. Mereka tak terlalu termotivasi untuk melakukan apa pun, untuk bekerja, apalagi untuk berperang.
2. Organisasi
Organisasi atau elit memungkinkan pengorganisasian sumber daya dan populasi untuk menghasilkan kekayaan, dalam hal ini teknologi dan sains, yang berujung pada persenjataan termutakhir. AS punya satelit untuk penargetan yang presisi, pesawat bombardir B2, Jet F-15 dan sebagainya.
Tapi seiring waktu elit pun menjadi parasit karena apa yang disebut oleh Gordon Tullock sebagai rentseeking (pemburu ente). Para pemburu rente memanipulasi kebijakan publik, hukum, atau kondisi pasar alih-alih terlibat dalam produksi atau inovasi.
Mereka tak benar-benar bekerja, tapi menghasilkan banyak keuntungan dengan mengeksploitasi populasi. Mereka menguasai tanah, mengendalikan sumber daya dan modal serta memaksa populasi ke jurang utang dan perbudakan.
Pemburu rente juga merupakan zero sum game yang disebut Peter Turchin sebagai fenomena elite overproduction, yakni kondisi di mana terlalu banyak elit sehingga saling menyerang satu sama lain demi memperbesar kekuasaan masing-masing. Ini yang terjadi dengan AS hari ini atau Revolusi Prancis beberapa abad lalu.
Parahnya, elite overproduction ini berujung pada faksionisme dan polarisasi politik, seperti yang terjadi dengan Partai Demokrat dan Republik di AS.
Polarisasi politik menyebabkan gejala pemikiran insular atau sempit, mereka terisolasi dan tak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana dan hanya peduli dengan yang terjadi di dalam negeri dan pada akhirnya mereka membuat banyak kesalahan bodoh.
3. Kedalaman
Dengan jumlah senjata, pasukan, sumber daya serta elit yang tak terbatas, AS tak masalah jika harus kalah berkali-kali dalam peperangan. Saat AS kalah dengan Iran, AS merasa bisa menyerang balik di kemudian hari dengan pasukan yang jauh lebih banyak.
Secara teori, kekaisaran termasuk AS sendiri seharusnya tak akan pernah kalah. Tapi sejarah mengatakan sebaliknya, banyak kekaisaran runtuh hanya dalam 300 tahun atau bahkan 30 tahun. Ini karena dengan kedalaman yang dimiliki, kekaisaran cenderung merasa arogan, malas, dan pada akhirnya inkompeten karena mereka berhenti untuk peduli.
Dalam bahasa Yunani kuno, istilahnya sikap hubristik, merujuk pada tindakan angkuh yang menantang para dewa atau melampaui batas manusia, sehingga mengundang hukuman ilahi. Dengan mengulang kesalahan yang sama dari waktu ke waktu, cuma keruntuhan yang menanti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










