Selat Hormuz Memanas! Iran Dikabarkan Minta Transaksi Minyak Pakai Yuan

AKURAT.CO Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah muncul laporan mengenai kemungkinan kebijakan baru dari Iran terkait pengaturan lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran yang menjadi salah satu arteri utama distribusi energi dunia itu kini berada di bawah sorotan internasional, terutama setelah hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memanas sejak akhir Februari.
Laporan media internasional menyebutkan, Teheran tengah mempertimbangkan kebijakan baru yang memungkinkan kapal tanker minyak tetap melintas di Selat Hormuz, namun dengan pembatasan tertentu.
Salah satu syarat yang dikabarkan sedang dikaji adalah penggunaan mata uang yuan milik China dalam transaksi perdagangan minyak.
Informasi tersebut pertama kali diungkap oleh seorang pejabat Iran yang identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurut sumber tersebut, skema pembayaran menggunakan yuan merupakan salah satu opsi yang sedang dibahas sebagai langkah menghadapi tekanan geopolitik sekaligus sanksi ekonomi yang semakin ketat.
Meski demikian, hingga kini pemerintah Iran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut.
Respons atas Eskalasi Militer
Wacana pengaturan lalu lintas kapal tanker ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Situasi memanas setelah serangan yang disebut dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target di wilayah Iran sejak 28 Februari lalu.
Pemerintah Iran menilai serangan tersebut sebagai tindakan agresi terhadap kedaulatan negara. Sejumlah pejabat tinggi Iran pun menyatakan bahwa Teheran memiliki berbagai opsi strategis untuk merespons tekanan tersebut.
Salah satu opsi yang kerap disebut adalah kemungkinan pembatasan bahkan penutupan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Meski tidak luas secara geografis, jalur ini memiliki peran krusial dalam sistem energi global.
Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap hari melintasi selat tersebut.
Baca Juga: Berbagi Keberkahan di Bulan Ramadan, Triyasa Serahkan Bantuan ke Panti Asuhan
Minyak dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sebagian besar dikirim ke pasar internasional melalui jalur ini menuju Asia, Eropa, hingga Amerika.
Karena perannya yang sangat vital, setiap potensi gangguan di Selat Hormuz hampir selalu memicu kekhawatiran di pasar energi global.
Bahkan sekadar wacana penutupan jalur tersebut kerap cukup untuk mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Jika benar diterapkan, kebijakan penggunaan yuan dalam transaksi minyak dipandang memiliki makna strategis, baik secara ekonomi maupun geopolitik.
Para analis menilai langkah tersebut bisa menjadi cara bagi Iran untuk tetap mempertahankan ekspor energinya di tengah tekanan sanksi yang selama ini bertumpu pada sistem keuangan berbasis dolar Amerika.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran memang semakin memperkuat kerja sama ekonominya dengan China, yang kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar Teheran sekaligus pembeli utama minyak Iran.
Selain itu, wacana penggunaan yuan juga sejalan dengan tren yang mulai berkembang di sejumlah negara produsen energi yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam perdagangan internasional.
Masih Sebatas Spekulasi
Meski demikian, banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Hingga kini belum jelas bagaimana mekanisme teknis penerapan sistem pembayaran yuan tersebut jika benar-benar diberlakukan.
Belum diketahui pula apakah negara-negara pengimpor minyak lainnya bersedia mengikuti skema pembayaran tersebut.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau situasi di kawasan Teluk Persia dengan penuh kewaspadaan.
Setiap eskalasi konflik di wilayah ini berpotensi tidak hanya mengguncang stabilitas keamanan regional, tetapi juga memicu gejolak di pasar energi global.
Tanpa adanya pernyataan resmi dari pemerintah Iran, wacana pembukaan terbatas Selat Hormuz dengan syarat transaksi menggunakan yuan untuk sementara masih berada pada tahap spekulasi.
Namun, isu ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika geopolitik yang kini mengitari jalur pelayaran energi paling strategis di dunia tersebut.
Baca Juga: OJK Bongkar Pelanggaran IPO POSA, Denda Rp5,6 Miliar Dijatuhkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










