Akurat
Pemprov Sumsel

Ketika Ex PM Israel Ariel Sharon 8 Tahun Koma Sebelum Meninggal, Apa yang Terjadi?

Fitra Iskandar | 17 Maret 2026, 08:24 WIB
Ketika Ex PM Israel Ariel Sharon 8 Tahun Koma Sebelum Meninggal, Apa yang Terjadi?
Ex PM Israel Ariel Sharon 8 Tahun Koma Sebelum Meninggal. Foto: Istimewa

AKURAT.CO Mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, meninggal dunia pada 11 Januari 2014 di usia 85 tahun setelah lebih dari delapan tahun berada dalam kondisi vegetatif. Ia mengalami stroke parah pada 2006 yang menyebabkan kerusakan otak permanen sehingga tidak pernah kembali sadar.

Selama bertahun-tahun, tubuh Sharon tetap bertahan berkat bantuan teknologi medis modern. Meski fungsi otaknya tidak pulih, berbagai perawatan intensif dilakukan untuk menjaga fungsi tubuhnya tetap berjalan.

Delapan Tahun Bertahan dengan Bantuan Teknologi Medis

Setelah stroke pada 2006, Sharon tidak pernah lagi sadar. Namun tubuhnya tetap hidup karena dukungan perawatan medis intensif.

Dalam beberapa tahun terakhir hidupnya, ginjal Sharon mengalami kegagalan fungsi sehingga ia harus menjalani dialisis secara rutin. Perawatan tersebut dilakukan untuk menggantikan fungsi ginjal dalam menyaring racun dari darah.

Pada 2013, ia bahkan menjalani operasi untuk mengatasi infeksi yang berkaitan dengan gagal ginjal. Keputusan melakukan tindakan medis lanjutan terhadap pasien yang berada dalam kondisi vegetatif memicu perdebatan di kalangan dokter dan pakar etika medis.

Perdebatan itu berkaitan dengan batas antara perawatan yang dianggap wajar dan tindakan yang dinilai berlebihan bagi pasien yang tidak memiliki kemungkinan besar untuk pulih.

Bagaimana Jika Kasus Serupa Terjadi di Negara Lain?

Pertanyaan kemudian muncul: apakah perawatan serupa juga akan dilakukan di negara lain seperti Amerika Serikat terhadap tokoh publik yang berada dalam kondisi vegetatif.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Eks PM Israel Ariel Sharon, Viral karena Tubuhnya Dikabarkan Membusuk saat Sekarat

Dalam sistem kesehatan Amerika, perawatan jangka panjang biasanya tidak ditanggung oleh negara. Namun perusahaan asuransi masih dapat menanggung biaya dasar untuk perawatan pasien vegetatif yang dirawat di fasilitas khusus atau panti perawatan.

Sebagian besar warga Amerika bahkan menyatakan mereka tidak ingin dipertahankan hidup dalam kondisi vegetatif—ketika jantung masih berdetak dan paru-paru masih bekerja, tetapi pasien tidak mampu berkomunikasi atau berinteraksi dengan lingkungannya.

Hukum di Amerika Serikat juga mengenal konsep kematian otak, yaitu kondisi ketika dokter menyatakan otak tidak lagi memiliki kemungkinan untuk pulih sehingga pasien secara medis dianggap telah meninggal.

Salah satu kasus yang sempat menyita perhatian publik adalah kasus Jahi McMath, remaja asal California yang dinyatakan mengalami kematian otak setelah komplikasi operasi amandel. Meski dokter menyatakan tidak ada harapan pemulihan, keluarganya menolak keputusan rumah sakit untuk menghentikan alat bantu kehidupan.

Perbedaan Pandangan Medis dan Religius di Israel

Situasi di Israel memiliki latar belakang yang berbeda. Dalam tradisi keagamaan setempat, kematian selama ini dipahami sebagai berhentinya seluruh fungsi utama tubuh secara bersamaan—mulai dari peredaran darah, pernapasan hingga aktivitas otak.

Konsep kematian otak sebelumnya tidak dikenal secara luas. Namun kemajuan teknologi medis yang memungkinkan sebagian fungsi tubuh tetap berjalan membuat definisi kematian menjadi semakin kompleks.

Perdebatan tersebut akhirnya mendorong pemerintah Israel mengesahkan Brain-Respiratory Death Law pada 2009.

Undang-undang itu menetapkan bahwa kematian otak hanya dapat dinyatakan setelah serangkaian pemeriksaan medis, termasuk pemindaian otak, yang memastikan tidak ada aktivitas otak secara permanen.

Selain memberikan kepastian medis, aturan ini juga dimaksudkan untuk mendorong donor organ dari pasien yang secara medis telah mengalami kematian otak.

Aktivitas Otak Sharon Sempat Terdeteksi

Perdebatan mengenai kondisi Sharon semakin kompleks ketika para ilmuwan melakukan pemindaian otak pada 2013.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya aktivitas otak yang merespons suara anggota keluarganya, tetapi tidak terhadap suara lain. Temuan ini memunculkan spekulasi bahwa mungkin masih ada tingkat kesadaran tertentu.

Namun para dokter menegaskan bahwa aktivitas tersebut tidak dapat dianggap sebagai bukti kesadaran. Para ahli saraf hingga kini masih belum dapat menjelaskan secara pasti makna aktivitas otak seperti itu pada pasien vegetatif.

Disemayamkan di Parlemen Israel

Dalam beberapa hari terakhir sebelum wafat, tim dokter menyatakan kondisi organ vitalnya, termasuk ginjal dan paru-paru, terus menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Jenazah Sharon kemudian disemayamkan di parlemen Israel, Knesset, di Jerusalem untuk memberikan kesempatan kepada para pejabat dan masyarakat memberikan penghormatan terakhir. Upacara pemakaman kenegaraan digelar pada 13 Januari 2014 dan dihadiri sejumlah pemimpin dunia. Sharon dimakamkan di peternakan keluarganya, Shikmim Farm, di wilayah Negev, di samping makam istrinya, Lily Sharon.

Sumber: Times

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.