Menhan AS Pecat Kepala Staf Angkatan Darat Setelah Gagal Lawan Iran

AKURAR.CO Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memecat Kepala Staf Angkatan Darat AS, Randy George, di tengah sorotan atas kegagalan strategi militer Washington dalam perang melawan Iran.
Pemecatan Jenderal George diumumkan pada Kamis (2/4/2026). Seorang pejabat Pentagon kepada The Hill menyebut Hegseth secara langsung memerintahkan George untuk segera mengundurkan diri dan pensiun.
Pentagon kemudian mengonfirmasi keputusan tersebut melalui juru bicara Sean Parnell. “Departemen Perang berterima kasih atas pengabdian Jenderal George selama puluhan tahun kepada bangsa kita. Kami mendoakan yang terbaik untuk masa pensiunnya,” demikian pernyataan resmi Pentagon.
Baca Juga: Macron: Trump Tidak Serius Tangani Perang Lawan Iran!
George menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat sejak September 2023 setelah mendapat persetujuan Senat. Ia merupakan lulusan West Point yang ditugaskan sejak 1988 dan pernah terlibat dalam operasi militer AS di Irak dan Afghanistan.
Sejak menjabat, Hegseth dilaporkan telah mencopot lebih dari selusin perwira tinggi. Di antaranya Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal James Slife, Kepala Badan Intelijen Pertahanan Letnan Jenderal Jeffrey Kruse, serta Kepala Operasi Angkatan Laut Laksamana Lisa Franchetti.
Langkah tersebut dinilai sejumlah pengamat sebagai bagian dari evaluasi besar-besaran di tubuh militer AS, menyusul dinamika konflik yang belum menunjukkan hasil sesuai target Washington dalam perang melawan Iran.
Sebagai pengganti George, posisi Kepala Staf Angkatan Darat kini diisi oleh Jenderal Christopher LaNeve, yang sebelumnya menjabat ajudan militer Hegseth.
Pergantian pimpinan Angkatan Darat terjadi setelah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran sejak akhir Februari 2026. Konflik tersebut ditandai serangkaian serangan dan serangan balasan di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan sejumlah operasi rudal dan drone yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di kawasan.
Baca Juga: Pusat Data Amazon Diserang Iran, Teheran Mulai Targetkan Teknologi Amerika
Situasi ini memicu spekulasi adanya tekanan internal di Pentagon terkait arah dan efektivitas strategi militer AS. Namun hingga kini, pemerintah AS belum memberikan pernyataan resmi yang mengaitkan langsung pergantian pimpinan Angkatan Darat dengan hasil operasi militer di Iran.
Perombakan di jajaran militer terjadi bersamaan dengan langkah Presiden Donald Trump yang juga mengganti Jaksa Agung Pam Bondi dan menunjuk Todd Blanche sebagai pejabat sementara.
Perkembangan tersebut menandai periode konsolidasi di lingkaran pertahanan dan pemerintahan AS di tengah konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







