Harga BBM Melonjak, Warga Australia Batalkan Libur Paskah

AKURAT.CO Lonjakan harga bahan bakar mendorong warga Australia membatalkan rencana perjalanan saat libur panjang Paskah 2026. Gangguan pasokan energi global membuat biaya perjalanan meningkat tajam. Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat memilih tetap tinggal di rumah.
Elsa Ulcak (67), pensiunan di Sydney, mengatakan dirinya dan suami membatalkan rencana liburan ke pedesaan karena biaya bahan bakar yang tinggi. Perjalanan yang biasanya ditempuh selama enam hingga tujuh jam dinilai terlalu mahal dan menghabiskan bahan bakar yang dianggap lebih dibutuhkan oleh pekerja.
“Biasanya kami pergi ke pedesaan, tapi karena situasi bahan bakar, kami memutuskan tinggal di rumah tahun ini,” ujarnya. Ia menambahkan rencana perjalanan bersama teman-temannya juga dibatalkan.
Libur panjang Paskah umumnya menjadi salah satu periode tersibuk untuk perjalanan di Australia. Pada 2025, lebih dari 4,5 juta orang diperkirakan bepergian dengan total pengeluaran mencapai 11,1 miliar dolar Australia, menurut lembaga riset Roy Morgan.
Namun pada 2026, rencana perjalanan terganggu akibat konflik Iran sejak 28 Februari dan blokade di Selat Hormuz yang menghambat pasokan energi global. Australia yang mengimpor sekitar 90 persen bahan bakarnya mengalami kelangkaan lokal serta lonjakan harga, dengan diesel menembus lebih dari 3 dolar Australia per liter dan bensin di atas 2,50 dolar Australia sebelum pemerintah menurunkan pajak bahan bakar.
Baca Juga: Tiket KAI Long Weekend Paskah Tembus 557 Ribu, Okupansi 76,9 Persen
Rachel Abbott (27), seorang direktur seni, juga membatalkan rencana pulang ke wilayah timur laut Victoria. Ia menilai biaya perjalanan, baik dengan mobil maupun pesawat, terlalu tinggi.
“Pekerjaan juga sedang sibuk dan harga tiket pesawat sangat mahal. Kalau harus menyetir, biayanya juga jauh lebih besar,” katanya.
Sementara itu, pekerja kemanusiaan Stav Zotalis (59) mengatakan situasi tahun ini terasa berbeda akibat konflik di Timur Tengah, meski ia tidak memiliki rencana bepergian.
“Saya merasa dunia sedang tidak stabil dan sulit diprediksi. Rasanya kami tidak tahu ke mana arah situasi ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa meski merasakan kenaikan harga kebutuhan, dirinya lebih khawatir terhadap masyarakat di wilayah konflik yang harus mengorbankan kebutuhan dasar.
Sumber: Thestraitstimes
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








