Akurat
Pemprov Sumsel

Dengan Versi yang Diperlunak, DK PBB Siap Voting Resolusi Keamanan Selat Hormuz

Fitra Iskandar | 7 April 2026, 11:13 WIB
Dengan Versi yang Diperlunak, DK PBB Siap Voting Resolusi Keamanan Selat Hormuz
Ilustrasi PBB. Foto: Ist

AKURAT.CO Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Selasa terkait resolusi perlindungan pelayaran komersial di Selat Hormuz. Namun, rancangan resolusi tersebut telah dilunakkan setelah mendapat penolakan dari China terhadap penggunaan kekuatan militer.

Menurut sejumlah diplomat, versi terbaru resolusi tidak lagi memuat izin eksplisit penggunaan kekuatan, berbeda dengan draf sebelumnya.

Kenaikan harga minyak terjadi sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari, memicu konflik yang telah berlangsung lebih dari lima pekan. Dalam situasi tersebut, Iran disebut sebagian besar menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi global.

Upaya penyusunan resolusi dipimpin oleh Bahrain selaku ketua DK PBB saat ini, dengan sejumlah revisi untuk mengakomodasi keberatan dari China, Rusia, dan negara lain.

Dalam draf terbaru, negara-negara didorong untuk berkoordinasi dalam upaya defensif guna menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Langkah tersebut dapat mencakup pengawalan kapal dagang serta upaya mencegah gangguan terhadap navigasi internasional.

Baca Juga: Uni Emirat Arab: Selat Hormuz Tidak Boleh Disandera!

Diplomat menyebut versi yang telah dilunakkan ini memiliki peluang lebih besar untuk disetujui, meski hasil akhir pemungutan suara masih belum pasti. Resolusi memerlukan sedikitnya sembilan suara setuju serta tidak diveto oleh lima anggota tetap, yakni Inggris, China, Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Bahrain mengajukan rancangan yang mengizinkan penggunaan “semua cara defensif yang diperlukan” untuk melindungi pelayaran, namun pembahasan ditunda setelah mendapat penolakan, terutama dari China.

China menilai izin penggunaan kekuatan dapat memicu eskalasi konflik dan membawa konsekuensi serius.

Di tengah proses tersebut, Iran kembali menegaskan menginginkan berakhirnya perang secara permanen, sekaligus menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran dapat “dihancurkan” jika tidak memenuhi tenggat kesepakatan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyatakan negaranya siap bekerja sama dengan Rusia di DK PBB untuk meredakan situasi di Timur Tengah. Ia menegaskan solusi utama persoalan Selat Hormuz adalah tercapainya gencatan senjata secepat mungkin.

China sendiri merupakan importir terbesar minyak dunia yang sebagian besar pasokannya melewati jalur Selat Hormuz.

Sumber: Al Arabiya

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.