Akurat
Pemprov Sumsel

AS Cegah Israel Serang Perbatasan Lebanon-Suriah, Tolak Libatkan Damaskus dalam Perang

Fitra Iskandar | 7 April 2026, 17:28 WIB
AS Cegah Israel Serang Perbatasan Lebanon-Suriah, Tolak Libatkan Damaskus dalam Perang
AS Cegah Israel Serang Perbatasan Lebanon-Suriah, Tolak Libatkan Damaskus dalam Perang. Foto: Al Jazeera

AKURAT.CO Rencana Israel untuk memperluas serangan ke wilayah perbatasan Lebanon–Suriah mendapat penolakan dari Amerika Serikat. Washington disebut khawatir langkah tersebut dapat memperluas konflik dan menyeret Suriah ke dalam perang melawan Hizbullah.

Sumber politik di Tel Aviv mengungkapkan bahwa Amerika Serikat menghentikan rencana Israel untuk menyerang perlintasan Masnaa di perbatasan Lebanon–Suriah, serta upaya menarik Damaskus ke dalam konflik.

Menurut laporan radio Israel, Amerika Serikat meminta Israel menahan diri dari serangan tersebut setelah sebelumnya Tel Aviv mengancam akan menargetkan perlintasan itu pada akhir pekan lalu.

Israel diketahui sempat menyerang area di sekitar perlintasan Masnaa dengan alasan lokasi tersebut digunakan Hizbullah untuk kepentingan militer.

Media Israel menyebut Washington meminta penanganan isu tersebut diserahkan kepada otoritas keamanan Suriah yang bekerja di bawah pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa.

Sumber terkait juga menyatakan pemerintah Suriah telah memberi tahu AS bahwa pihaknya tengah berupaya menekan aktivitas Hizbullah, termasuk menggagalkan penyelundupan senjata dari Suriah ke Lebanon dalam beberapa hari terakhir.

Israel Ingin Libatkan Suriah

Sumber lain menyebut Israel berupaya mendorong Suriah terlibat dalam konflik melawan Hizbullah. Langkah ini mengingatkan pada pengalaman masa lalu ketika Israel mengizinkan militer Suriah masuk ke Lebanon pada 1976 dengan dalih menjaga stabilitas saat perang saudara.

Baca Juga: Ribuan Warga Suriah Gelar Aksi Tolak Eksekusi Mati Tahanan Palestina

Intervensi tersebut kemudian berujung pada dominasi Suriah di Lebanon selama bertahun-tahun dan memicu ketegangan antara Beirut dan Damaskus.

Menurut laporan media Israel, Tel Aviv menilai pemerintah Lebanon gagal menghadapi Hezbollah, sementara negara-negara Barat juga disebut kehilangan kepercayaan terhadap kemampuan negara tersebut.

Israel disebut mulai melirik otoritas baru Suriah untuk mengambil peran dalam urusan keamanan di Lebanon.

Keraguan AS terhadap Lebanon

Sumber yang sama menyebut AS menilai pemerintah Lebanon belum memenuhi komitmen untuk melucuti Hizbullah, sementara militer Lebanon dianggap tidak mampu atau tidak bersedia menghadapi kelompok yang didukung Iran tersebut.

Washington disebut tidak melihat adanya mitra yang kuat di Lebanon untuk menangani persoalan tersebut.

Pengamat menilai hanya Israel dan otoritas Suriah saat ini yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk menghadapi Hizbullah, meski keduanya tidak secara resmi bersekutu.

Upaya Bangun Kesepahaman Baru

Sumber Israel menyebut Tel Aviv dan Damaskus memiliki kepentingan yang sama dalam menghadapi Hizbullah. Israel disebut membuka kemungkinan kesepahaman, di mana militernya mengendalikan Lebanon selatan, sementara Suriah mengawasi wilayah utara.

Langkah ini dinilai sebagai opsi kompromi di tengah kebuntuan situasi saat ini.

Israel juga disebut tengah berupaya meyakinkan Washington bahwa langkah tersebut bukan untuk menyerang negara Lebanon atau menguasainya, melainkan untuk menghilangkan ancaman Hizbullah dan menciptakan situasi baru di kawasan.

AS diharapkan menyampaikan pesan tersebut kepada Suriah.

Sebagai catatan, pada 1970-an, mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger pernah memediasi komunikasi tidak langsung antara Suriah dan Israel terkait pengiriman pasukan ke Lebanon.

Pasukan Suriah masuk ke Lebanon pada 1976, namun kemudian memperkuat pengaruh Damaskus di negara tersebut selama bertahun-tahun. Pemerintah Suriah saat itu juga terlibat dalam menghadapi invasi Israel ke Lebanon pada 1978 dan 1982.

Pemerintah Israel saat ini disebut berupaya menghindari kegagalan serupa dengan menjalin kesepahaman baru dengan otoritas Suriah.

Sumber: Al Jazeera

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.