“Gencatan Senjata Hormuz” Tertekan: 2.000 Kapal Tertahan, Rantai Pasok Terganggu

AKURAT.CO Pemerintah Korea Selatan menyatakan kondisi pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu meski Amerika Serikat dan Iran telah mencapai terobosan terakhir berupa kesepakatan gencatan senjata sementara.
Dalam penilaian resmi pascagencatan senjata, Seoul menilai kemajuan diplomatik belum berdampak langsung pada kelancaran arus kapal di salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut.
Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac mengatakan kondisi operasional di lapangan belum mengalami perubahan signifikan. Ia menyebut situasi saat ini masih dipenuhi ketidakpastian yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.
Menurut laporan tersebut, hampir 2.000 kapal saat ini tertahan di sekitar Selat Hormuz, mencerminkan besarnya tantangan logistik yang dihadapi.
Selain kepadatan ekstrem, upaya mengurai antrean kapal dalam waktu singkat dinilai sulit secara navigasi dan logistik. Risiko keamanan juga masih tinggi, terutama dalam menjamin keselamatan jalur pelayaran di tengah situasi geopolitik yang belum stabil.
Pemerintah Korea Selatan kini memprioritaskan keselamatan armadanya, termasuk memantau 26 kapal berbendera Korea Selatan yang masih berada di kawasan tersebut.
Seoul juga mulai menyiapkan strategi diversifikasi, antara lain dengan mencari sumber alternatif minyak mentah dan nafta di luar wilayah konflik, serta meningkatkan koordinasi dengan negara terkait guna memastikan jalur pelayaran aman.
Wi Sung-lac menambahkan kerja sama internasional untuk mengamankan rute maritim semakin diperkuat, dengan peran aktif negara seperti Inggris dan Prancis. Korea Selatan tengah mempertimbangkan keterlibatannya dalam upaya tersebut dengan fokus pada solusi praktis yang mempertimbangkan aspek operasional dan politik.
Laporan itu menyebut gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru menjadi langkah awal. Pemulihan arus pelayaran dan pengamanan ribuan kapal dinilai membutuhkan jaminan konkret dari komunitas internasional untuk memulihkan kepercayaan pelaku industri pelayaran global.
Sumber: Voiceofemirates
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







