Pengamat: Iran Kecewa Pakistan Tidak Netral dalam Perundingan, Ambil Keuntungan USD 5 Miliar

AKURAR.CO Seorang pengamat Timur Tengah, Robi Sugara, menyebut Iran kecewa terhadap sikap Pakistan dalam proses perundingan dengan Amerika Serikat yang berakhir tanpa kesepakatan. Pernyataan itu disampaikan Robi melalui akun Facebook pribadinya, Senin (13/4/2026).
Menurut Robi, Teheran menilai Islamabad tidak bersikap netral saat menjadi tuan rumah negosiasi antara Iran dan AS.
“Iran kecewa sama Pakistan. Dia tidak netral. Dia dapat 5 miliar dollar AS dari Saudi dan Qatar untuk menekan Iran dalam gencatan senjata itu. Gencatan senjata gagal. Kembali lagi ke perang,” tulis Robi.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Pakistan terkait tudingan tersebut. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menegaskan negaranya berkomitmen memfasilitasi dialog dan mendorong kedua pihak menghormati gencatan senjata.
Baca Juga: Trump Ngamuk Lagi! Ancam Blokade Selat Hormuz dan Hancurkan Iran!
Sebagaimana diketahui, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang digelar selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4/2026).
Kegagalan ini memicu kekhawatiran bahwa konflik bersenjata yang sempat dihentikan sementara akan kembali pecah.
Dari pihak Washington, Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan tidak menghasilkan kemajuan berarti. Ia menyebut AS tidak memperoleh komitmen tegas dari Iran untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir.
Sementara itu, media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), menuding tuntutan AS sebagai “tidak masuk akal” dan menjadi penyebab kebuntuan.
Presiden AS Donald J. Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Amerika telah menang secara militer dan mengisyaratkan kesiapan menghadapi eskalasi lanjutan jika diperlukan.
Baca Juga: Trump Ancam China Soal Isu Bantuan Senjata ke Iran
Dengan gagalnya perundingan dan munculnya tudingan soal ketidaknetralan mediator, situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas.
Masa depan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya disepakati kini berada dalam ketidakpastian, sementara risiko konflik terbuka kembali meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










