Kronologi Perseteruan Trump dengan Paus Leo, Terakhir Unggah Foto AI Mirip Paus

AKURAT.CO Perseteruan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo XIV kian memanas dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan dipicu kritik Paus terhadap perang Iran, lalu berlanjut dengan serangan terbuka Trump hingga unggahan foto berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memicu kontroversi.
Berikut kronologi perseteruan keduanya:
1. Paus Kritik Perang Iran
Dalam beberapa pekan terakhir, Paus Leo XIV menjadi salah satu tokoh global yang vokal mengkritik perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Ia menyebut konflik tersebut tidak manusiawi dan memperingatkan bahaya pembenaran perang atas nama agama.
Dalam salah satu khotbahnya, Paus menegaskan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa dari mereka yang berperang, tetapi menolaknya. Ia juga meminta para pemimpin dunia mencari jalan keluar untuk mengakhiri konflik.
2. Trump Serang Paus Secara Terbuka
Kritik itu memicu reaksi keras dari Trump. Melalui unggahan panjang di media sosial, ia menyebut Paus lemah dalam urusan kriminal dan buruk dalam kebijakan luar negeri.
Trump juga mengatakan, “Saya bukan penggemar Paus Leo,” serta menegaskan bahwa dirinya tidak menginginkan seorang paus yang menurutnya membenarkan kepemilikan senjata nuklir oleh Iran.
Menanggapi serangan tersebut, Paus Leo menyatakan tidak gentar. Dalam pidatonya di Aljir, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut terhadap pemerintahan Trump dan akan tetap bersuara demi pesan Injil dan perdamaian.
Baca Juga: Paus Leo XIV Tegaskan Tak Pernah Takut dengan Trump, Injil Jadi Rujukan dalam Perang Iran
3. Unggahan Foto AI Kontroversial
Ketegangan mencapai puncak ketika Trump pada Minggu (13/4) mengunggah gambar buatan AI di platform Truth Social. Gambar itu menampilkan dirinya mengenakan jubah putih dan melakukan gestur seperti penyembuhan, dengan latar simbol-simbol Amerika.
Unggahan tersebut memicu kritik luas, termasuk dari kalangan konservatif religius yang selama ini menjadi basis dukungannya. Gambar itu kemudian dihapus pada Senin (14/4/2026).
Trump membantah bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai figur religius.
“Itu seharusnya menggambarkan saya sebagai dokter yang membuat orang lebih baik, dan saya memang membuat orang lebih baik,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih. Ia juga menyebut tuduhan bahwa dirinya memosisikan diri sebagai tokoh suci sebagai berita bohong.
4. Kritik dari Pendukung Sendiri
Sejumlah tokoh konservatif ikut mengecam unggahan tersebut. Mereka menilai tindakan itu tidak pantas dan berpotensi melukai sentimen umat beragama.
Uskup Robert Barron, anggota komisi kebebasan beragama bentukan Trump, menyatakan bahwa Presiden seharusnya meminta maaf atas pernyataan yang dinilainya tidak pantas. Namun Trump menolak. “Saya tidak punya apa pun untuk dimintai maaf kepada Paus,” katanya.
5. Dampak Politik
Perseteruan ini dinilai berpotensi memengaruhi dukungan pemilih Katolik di AS, yang selama ini menjadi bagian penting dari koalisi politik Trump. Pengamat agama dan politik di Fordham University, David Gibson, menyebut situasi ini sebagai momen penentu bagi pemilih Katolik Amerika.
Baca Juga: Iran Wacanakan Tol Kapal di Selat Hormuz Dibayar Kripto, Ini Fakta dan Dampaknya
“Presiden Amerika dan umat Katolik Amerika pernah berbeda pendapat dengan Paus di masa lalu. Tapi ini sudah masuk kategori tidak hormat. Tidak hormat itu berbeda jauh dari sekadar perbedaan pendapat,” ujar Gibson.
Hingga kini, baik Gedung Putih maupun Vatikan belum menunjukkan tanda-tanda meredakan ketegangan. Paus Leo menegaskan akan terus menyuarakan perdamaian, sementara Trump tetap mempertahankan sikapnya dan menolak meminta maaf.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










