Picu Kontroversi Politik dan Agama, Trump Hapus Unggahan Gambar AI Dirinya Seperti Yesus
AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menghapus unggahan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya menyerupai Yesus Kristus di platform Truth Social.
Penghapusan dilakukan pada Senin (13/4/2026) waktu AS, setelah unggahan tersebut menuai reaksi luas. Sebelumnya, Trump sempat membagikan gambar tersebut tanpa keterangan penjelas.
Penggunaan AI dalam konteks politik kembali menjadi sorotan karena dinilai melampaui batas, terutama saat menyentuh simbol-simbol keagamaan. Sejumlah pengamat menilai insiden ini berpotensi melemahkan soliditas basis pendukung konservatif Trump.
Trump kemudian mencoba menjelaskan unggahan tersebut dengan menyebut gambar itu dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai “dokter yang membantu orang.” Namun, penjelasan tersebut dinilai tidak meyakinkan banyak pihak, mengingat kuatnya nuansa religius dalam gambar tersebut.
Baca Juga: Uskup Yerusalem Nilai Pernyataan Trump Bandingkan Diri dengan Yesus: Ini Tidak Dapat Diterima!
Reaksi kritis justru datang dari pengguna Truth Social, termasuk para pendukungnya sendiri. Sejumlah warganet mendesak agar unggahan tersebut segera dihapus karena dianggap melampaui batas penggunaan simbol agama dalam propaganda politik.
Kritik juga datang dari tokoh-tokoh konservatif dan Partai Republik. Salah satunya menyebut unggahan tersebut sebagai bentuk penistaan yang tidak dapat diabaikan, serta menegaskan bahwa agama tidak seharusnya dijadikan alat politik. Aktivis konservatif lainnya juga menyatakan keberatan, dengan menilai simbol keagamaan tidak boleh dijadikan bahan olok-olok dalam situasi apa pun.
Para analis menilai penggunaan AI seperti ini berisiko menggerus dukungan pemilih religius yang sensitif terhadap isu keyakinan.
Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan antara Trump dan Vatikan, yang sebelumnya menekankan pentingnya penghentian konflik dan mendorong perdamaian. Penggunaan citra bergaya “penyelamat” dinilai dapat memperuncing ketegangan tersebut.
Insiden ini juga disebut menambah beban politik bagi Trump di tengah dinamika kampanye yang sensitif. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap penggunaan teknologi deepfake dalam politik semakin meningkat, terutama terkait potensi pembentukan citra pemimpin yang tidak realistis.
Penggunaan AI dalam ranah politik diperkirakan akan terus menjadi sorotan, seiring meningkatnya tuntutan terhadap standar etika dan profesional dalam komunikasi publik.
Sumber: Voiceofemirates
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








