Akurat
Pemprov Sumsel

Donald Trump: Sesuatu akan Terjadi dalam Dua Hari Kedepan

Fitra Iskandar | 15 April 2026, 09:02 WIB
Donald Trump: Sesuatu akan Terjadi dalam Dua Hari Kedepan
Ilustrasi kolase. Foto: Ist

AKURAT.CO Pembicaraan untuk mengakhiri perang Iran berpotensi kembali digelar di Pakistan dalam dua hari ke depan. Hal itu disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa, setelah kegagalan negosiasi akhir pekan lalu mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Sejumlah pejabat dari kawasan Teluk, Pakistan, dan Iran menyebut tim negosiasi kedua negara kemungkinan kembali ke Pakistan pekan ini, meski sumber senior Iran mengatakan jadwal pasti belum ditentukan.

Dalam wawancara dengan New York Post, Trump menyatakan pihaknya cenderung melanjutkan pembicaraan dalam waktu dekat.

"Sebaiknya Anda tetap di sana, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih cenderung pergi ke sana," kata Trump.

Sinyal diplomasi ini sempat meredakan pasar minyak global, dengan harga acuan turun di bawah 100 dolar AS per barel pada Selasa.

Sebelumnya, perundingan tingkat tinggi antara kedua negara—yang merupakan yang pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979—berakhir tanpa terobosan di Islamabad. Kondisi ini memunculkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata dua pekan yang kini masih menyisakan satu minggu.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari oleh Amerika Serikat dan Israel, Iran menutup hampir seluruh akses kapal di Selat Hormuz, kecuali kapal miliknya sendiri. Jalur tersebut sebelumnya dilalui hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Sebagai respons, militer AS mulai memblokir lalu lintas kapal keluar-masuk pelabuhan Iran sejak Senin. Teheran mengancam akan menyerang kapal perang yang melintas di selat tersebut serta melakukan pembalasan terhadap pelabuhan negara-negara Teluk.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz ala Trump Dinilai Picu Risiko Pembajakan hingga Perang dengan China

Komando Pusat AS menyatakan operasi blokade melibatkan lebih dari 10.000 personel militer, lebih dari selusin kapal perang, dan puluhan pesawat. Dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade, sementara enam kapal dagang memilih kembali ke pelabuhan Iran.

Meski demikian, data pelayaran menunjukkan aktivitas di Selat Hormuz masih berlangsung, dengan sedikitnya delapan kapal tetap melintas pada Selasa.

Ketegangan terbaru ini memperburuk prospek keamanan energi global. International Monetary Fund memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan memperingatkan risiko resesi jika konflik memburuk dan harga minyak bertahan di atas 100 dolar hingga 2027.

Sementara itu, International Energy Agency juga menurunkan proyeksi pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak global. Sekutu NATO AS seperti Inggris dan Prancis menolak terlibat dalam blokade, namun menawarkan misi pengamanan multilateral di Selat Hormuz jika ada kesepakatan.

China, sebagai pembeli utama minyak Iran, menyebut blokade AS sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang dapat memperburuk ketegangan.

Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington mengusulkan penghentian seluruh aktivitas nuklir Iran selama 20 tahun, disertai mekanisme verifikasi ketat. Namun, Iran menolak usulan tersebut dan hanya menawarkan penghentian selama tiga hingga lima tahun.

Meski demikian, sumber yang terlibat dalam negosiasi menyebut komunikasi tertutup sejak akhir pekan menunjukkan kemajuan signifikan dalam mempersempit perbedaan terkait isu nuklir.

Upaya mediasi Pakistan juga dipersulit oleh konflik lain di kawasan. Israel terus menyerang kelompok Hezbollah di Lebanon, yang menurut AS dan Israel tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata dengan Iran. Pertemuan antara pejabat Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Washington dan kemungkinan dihadiri Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menegaskan negaranya tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Di dalam negeri AS, dukungan publik terhadap perang menunjukkan penurunan. Survei Reuters/Ipsos pada 10–12 April mencatat 35 persen warga Amerika mendukung serangan terhadap Iran, turun dari 37 persen sepekan sebelumnya.

Meski diwarnai retorika keras dari kedua pihak, gencatan senjata sejauh ini masih bertahan. Iran menyebut pembatasan pelayaran oleh AS sebagai “pembajakan”, sementara Trump mengklaim angkatan laut Iran telah “hampir dihancurkan”.

Trump juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekati wilayah blokade akan segera dihancurkan.

 Sumber: Telegraphindia

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.