Akurat
Pemprov Sumsel

Pertumbuhan Ekonomi China Tetap Moncer di Tengah Perang Iran vs AS, Ini Sebabnya

Lufaefi | 17 April 2026, 07:30 WIB
Pertumbuhan Ekonomi China Tetap Moncer di Tengah Perang Iran vs AS, Ini Sebabnya
Ilustrasi ekonomi China Tetap Tumbuh di Tengah Perang Iran vs AS (istimewa)

AKURAT.CO Ekonomi China tetap menunjukkan kinerja solid di tengah tekanan global akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pada kuartal I 2026, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5% secara tahunan, melampaui ekspektasi pasar dan naik dari 4,5% pada kuartal sebelumnya.

Secara kuartalan, ekonomi Negeri Tirai Bambu juga tumbuh 1,3% dibanding periode Oktober–Desember 2025. Angka ini menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam setahun terakhir.

Data resmi pemerintah China menunjukkan bahwa dampak awal perang Iran belum secara signifikan mengganggu fondasi ekonomi domestik. Namun, otoritas tetap mengingatkan adanya tantangan eksternal dan struktural.

Biro Statistik Nasional China menyebut kondisi global kian tidak pasti. “Kondisi eksternal menjadi lebih kompleks dan bergejolak, sementara ketidakseimbangan struktural di dalam negeri, yang ditandai dengan pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah tetap menonjol,” ujar pejabat Biro Statistik Nasional, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga: Perundingan Damai Iran dengan AS Minggu Ini Gagal!

Dari sisi produksi, sektor industri menjadi salah satu penopang utama. Pada Maret, produksi industri tumbuh 5,7% secara tahunan. Kinerja ini didorong oleh tingginya permintaan global terhadap produk elektronik, otomotif, semikonduktor, serta robotika buatan China.

Ekspor juga berperan besar menjaga momentum pertumbuhan. Sepanjang kuartal I, pengiriman produk teknologi tinggi dan energi terbarukan meningkat signifikan. Ekspor kendaraan listrik, baterai lithium, dan turbin angin tercatat melonjak, mencerminkan pergeseran China ke manufaktur bernilai tambah tinggi.

Meski demikian, perlambatan mulai terlihat pada Maret. Pertumbuhan ekspor hanya mencapai 2,5% secara tahunan, turun tajam dibanding dua bulan sebelumnya yang sempat menembus lebih dari 20%. Gangguan logistik dan kenaikan biaya energi akibat konflik Iran disebut menjadi faktor penekan.

Di sisi lain, konsumsi domestik masih lemah. Penjualan ritel pada Maret tumbuh 1,7%, melambat dari 2,8% pada Januari–Februari. Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, terutama imbas krisis sektor properti yang berkepanjangan.

Ekonom ING Lynn Song mengingatkan risiko jangka panjang dari konflik geopolitik tersebut.

“China mungkin dapat mengatasi gangguan jangka pendek, tetapi perang yang berkepanjangan dan harga energi yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama kemungkinan akan mulai berdampak pada pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini,” ujarnya.

Baca Juga: Imbas Perang dengan Iran, Suara Trump Merosot Tajam di Kalangan Pemilihnya

Sejumlah analis juga menyoroti potensi melemahnya permintaan global yang dapat memukul ekspor China ke depan. Meski saat ini pertumbuhan masih terjaga, keberlanjutan momentum ekonomi sangat bergantung pada stabilitas geopolitik dan pemulihan konsumsi domestik.

Dengan kombinasi ekspor teknologi tinggi dan produksi industri yang kuat, China untuk sementara mampu meredam dampak konflik Timur Tengah. Namun, tantangan eksternal dan lemahnya permintaan dalam negeri tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi Beijing di sisa tahun ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi