Akurat Logo

China Desak Gencatan Senjata Iran Bertahan, Isu Selat Hormuz Diprediksi Jadi Agenda Utama Kunjungan Trump

Fitra Iskandar | 2 Mei 2026, 09:29 WIB
China Desak Gencatan Senjata Iran Bertahan, Isu Selat Hormuz Diprediksi Jadi Agenda Utama Kunjungan Trump
Ilustrasi bendera China. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Perwakilan China di PBB, Fu Cong, menegaskan bahwa menjaga gencatan senjata dalam konflik Iran menjadi kebutuhan mendesak. Ia juga memperingatkan, isu Selat Hormuz berpotensi menjadi topik utama dalam kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China bulan ini jika situasi belum membaik.

Berbicara di markas PBB, Jumat (1/5/2026), Fu meminta agar jalur strategis tersebut segera dibuka kembali demi stabilitas global.

“Iran harus mencabut pembatasan di Selat Hormuz, dan Amerika Serikat perlu menghentikan blokade lautnya,” ujarnya.

Khawatir Gencatan Senjata Hanya Sementara

Fu mengaku China sangat khawatir dengan munculnya pernyataan yang menyebut gencatan senjata bersifat sementara dan membuka peluang terjadinya kembali serangan.

“Isu paling mendesak adalah menjaga gencatan senjata. Gencatan ini harus bertahan, dan harus ada negosiasi dengan itikad baik dari kedua pihak,” tegasnya.

Ia juga menyerukan peran aktif komunitas internasional untuk mencegah konflik kembali pecah.

“Komunitas internasional harus bersatu dan menyuarakan penolakan terhadap dimulainya kembali pertempuran,” tambah Fu.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Kunjungan Trump

Menanggapi rencana kunjungan Trump ke China, Fu menyebut bahwa persoalan Selat Hormuz hampir pasti akan menjadi pembahasan penting jika kondisi belum berubah.

“Jika Selat Hormuz masih tertutup saat Presiden Trump berkunjung, saya yakin isu ini akan menjadi agenda utama dalam pembicaraan bilateral,” katanya.

Bantah Tuduhan Kerja Sama Militer China-Iran

Dalam kesempatan yang sama, Fu juga membantah tuduhan sejumlah pejabat AS terkait dugaan kerja sama militer antara China dan Iran.

Ia menegaskan tudingan tersebut tidak benar.

China Pimpin Dewan Keamanan PBB

Pernyataan ini disampaikan di awal masa kepemimpinan China sebagai presiden Dewan Keamanan PBB. Menteri Luar Negeri China Wang Yi dijadwalkan memimpin sidang Dewan Keamanan pada 26 Mei.

Sementara itu, belum ada tanggapan dari Departemen Luar Negeri AS terkait kemungkinan pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan Wang Yi dalam waktu dekat.

Situasi di Selat Hormuz terus menjadi perhatian dunia karena perannya sebagai jalur utama distribusi energi global, yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi internasional.

Sumber: Reuters

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.