Indeks Kepercayaan Investasi Asing Langsung ke Indonesia Turun ke Peringkat 13, Apa yang Terjadi?

AKURAT.CO Indonesia menghadapi paradoks investasi yang kian tajam pada 2026. Dalam laporan FDI Confidence Index terbaru dari konsultan global Kearney, posisi Indonesia turun ke peringkat ke-13 secara global. Namun di saat yang sama, sekitar 87% investor tetap menyatakan optimisme terhadap prospek ekonomi nasional.
Angka-angka ini mengungkap realitas yang lebih kompleks: Indonesia masih menarik di atas kertas, tetapi belum tentu menjadi pilihan utama dalam praktik.
Ringkasan
Laporan FDI Confidence Index 2026 menunjukkan paradoks:
Peringkat turun ke posisi 13
87% investor tetap optimistis
Artinya: Indonesia menarik, tapi belum tentu dipilih
Antara Minat dan Keputusan
Penurunan peringkat bukan berarti investor kehilangan ketertarikan. Sebaliknya, arus modal global kini bergerak dalam lanskap yang jauh lebih selektif.
Partner dan Managing Director di Kearney Global Business Policy Council, Erik R. Peterson, mencatat bahwa perusahaan multinasional kini tidak lagi sekadar mencari pasar besar atau biaya murah. Mereka semakin mempertimbangkan kesiapan teknologi, stabilitas geopolitik, hingga konsistensi kebijakan industri.
Dalam konteks ini, Indonesia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai execution gap—kesenjangan antara persepsi positif dan kesiapan implementasi di lapangan.
Investor melihat potensi. Tapi keputusan akhir ditentukan oleh siapa yang paling siap.
“Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi, seiring mereka mempertimbangkan kapabilitas teknologi, risiko geopolitik, serta semakin besarnya pengaruh kebijakan industri," ujar Peterson melalui laporan FDI Confidence Index yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 5 Mei 2026.
Baca Juga: Green Financing BCA Tembus Rp113 Triliun: Tren Investasi Ramah Lingkungan Makin Kuat
Baca Juga: OJK: Lonjakan Hasil Investasi Asuransi Jadi Sinyal Pemulihan Industri
ASEAN: Kompetisi yang Naik Kelas
Di kawasan Asia Tenggara, kompetisi investasi telah bergeser dari sekadar efisiensi biaya ke kualitas ekosistem.
Negara seperti Thailand dan Malaysia berhasil memperbaiki posisi mereka dengan memperkuat integrasi rantai pasok, insentif berbasis sektor, serta kesiapan tenaga kerja terampil.
Indonesia, meski agresif dalam mendorong hilirisasi—terutama pada sektor mineral kritis seperti nikel—dinilai belum cukup cepat dalam membangun ekosistem pendukungnya.
President Director Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menilai strategi Indonesia sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat: kombinasi reformasi regulasi, insentif fiskal, dan penguatan industri hilir. Namun, kecepatan implementasi menjadi faktor pembeda utama.
"Indonesia telah menerapkan strategi terkoordinasi yang menggabungkan kebijakan industri, reformasi regulasi, insentif yang terarah, serta target investasi untuk memperdalam hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah," papar Santoso.
Studi Kasus: Industri EV
Sektor kendaraan listrik (EV) menjadi ilustrasi paling konkret dari dinamika ini.
Indonesia memiliki salah satu cadangan nikel terbesar di dunia—komponen utama baterai EV. Ini memberi keunggulan komparatif yang kuat.
Namun dalam praktiknya, investor tidak hanya melihat sumber daya.
Mereka menilai:
kesiapan rantai pasok
kualitas infrastruktur
ketersediaan talenta teknologi
kepastian regulasi jangka panjang
Dalam beberapa kasus, negara seperti Malaysia justru lebih unggul karena telah lebih dulu membangun ekosistem manufaktur dan teknologi yang terintegrasi.
Hasilnya: investasi tidak selalu mengalir ke negara dengan sumber daya terbesar, tetapi ke negara dengan kesiapan ekosistem terbaik.
Baca Juga: IAW: Nasabah Bank BUMN Perlu Tahu ke Mana Uangnya Diinvestasikan
Baca Juga: Pegadaian Gelar Tring Golden Run 2026, Dorong Literasi Investasi Emas dan Gaet Generasi Muda
Kebijakan Industri: Pedang Bermata Dua
Data dalam laporan menunjukkan bahwa sekitar 84% investor menganggap kebijakan industri sebagai faktor penting dalam keputusan investasi.
Namun terdapat sisi lain yang tak kalah krusial: hampir 90% investor juga mengakui adanya risiko bisnis akibat tumpang tindih kebijakan antarnegara.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya policy competition global—di mana negara berlomba menarik investasi melalui insentif, tetapi juga menciptakan kompleksitas baru bagi pelaku usaha.
Dalam konteks Indonesia, tantangan utamanya terletak pada:
konsistensi regulasi
kecepatan perizinan
transparansi tata kelola
Tanpa perbaikan di area ini, insentif fiskal sekalipun tidak cukup untuk memenangkan keputusan investasi.
Dari “Menarik” ke “Terpilih”
Paradoks FDI Indonesia 2026 pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan mendasar: apa yang membuat investor benar-benar memilih suatu negara?
Jawabannya bukan lagi sekadar potensi.
Dalam lanskap global saat ini, keputusan investasi ditentukan oleh tiga hal:
Kecepatan eksekusi
Kepastian kebijakan
Kesiapan ekosistem
Indonesia unggul pada yang pertama—potensi.
Namun masih tertinggal pada dua faktor lainnya.
Jika kesenjangan ini tidak ditutup, optimisme investor hanya akan berhenti sebagai sentimen, bukan realisasi investasi.
Penutup
Indonesia tidak sedang kehilangan daya tarik. Yang terjadi justru sebaliknya: negara ini semakin dilirik, tetapi juga semakin dibandingkan secara ketat.
Dalam dunia investasi yang makin kompetitif, pemenang bukanlah yang paling menjanjikan—melainkan yang paling siap.
Dan pada 2026, kesiapan itulah yang menjadi ujian terbesar bagi Indonesia.
Baca Juga: Investasi Rp1,12 Triliun Masuk KEK Kendal, Siap Serap 1.000 Tenaga Kerja
Baca Juga: DNT Lawyers Resmi Hadir di Bali, Perkuat Layanan Hukum dan Dukung Kepastian Investasi Asing
FAQ
1. Kenapa peringkat investasi Indonesia turun di FDI Confidence Index 2026?
Peringkat investasi Indonesia turun ke posisi 13 dalam FDI Confidence Index 2026 karena investor global kini semakin selektif dalam memilih destinasi investasi. Meskipun Indonesia memiliki pasar besar dan sumber daya alam melimpah, faktor seperti kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi, serta ekosistem industri bernilai tambah masih kalah dibanding negara seperti Thailand dan Malaysia. Penurunan ini lebih mencerminkan persaingan yang semakin ketat, bukan melemahnya daya tarik Indonesia.
2. Apakah Indonesia masih menarik bagi investor asing di 2026?
Ya, Indonesia masih sangat menarik bagi investor asing. Hal ini terlihat dari data bahwa sekitar 87% investor tetap optimistis terhadap Indonesia. Daya tarik utama investasi asing di Indonesia berasal dari jumlah penduduk besar, pertumbuhan ekonomi stabil, serta kekayaan sumber daya alam seperti nikel. Namun, menarik saja tidak cukup—investor juga mempertimbangkan kesiapan eksekusi dan efisiensi bisnis sebelum benar-benar berinvestasi.
3. Apa faktor utama yang membuat investor tertarik ke Indonesia?
Beberapa faktor utama yang mendorong daya tarik investasi Indonesia antara lain tenaga kerja yang besar, permintaan domestik tinggi, serta kekayaan sumber daya alam. Selain itu, stabilitas ekonomi dan potensi pertumbuhan jangka panjang juga menjadi alasan investor melirik Indonesia. Namun dalam konteks FDI 2026, faktor teknologi, inovasi, dan kemudahan berusaha mulai menjadi penentu utama yang membedakan Indonesia dengan negara pesaing di ASEAN.
4. Kenapa Thailand dan Malaysia bisa mengungguli Indonesia dalam investasi?
Thailand dan Malaysia unggul karena mereka sudah lebih dulu membangun ekosistem industri yang matang. Thailand kuat di sektor manufaktur seperti otomotif dan pengolahan, sementara Malaysia fokus pada industri teknologi tinggi seperti semikonduktor. Dibandingkan Indonesia yang masih berbasis komoditas, kedua negara ini menawarkan nilai tambah yang lebih jelas bagi investor, terutama dalam rantai pasok global dan efisiensi produksi.
5. Apa risiko jika Indonesia tidak meningkatkan daya saing investasi?
Jika daya saing investasi Indonesia tidak ditingkatkan, ada risiko kehilangan peluang masuknya investasi berkualitas tinggi, terutama di sektor teknologi dan manufaktur maju. Hal ini bisa berdampak pada terbatasnya lapangan kerja berkualitas, lambatnya transformasi ekonomi, hingga potensi terjebak dalam middle-income trap. Dalam jangka panjang, Indonesia bisa tertinggal dalam kompetisi global jika tidak segera beradaptasi dengan kebutuhan investor modern.
6. Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk menarik lebih banyak FDI?
Untuk meningkatkan arus investasi asing, Indonesia perlu mempercepat pembangunan infrastruktur, memperkuat kepastian hukum, serta mendorong inovasi teknologi. Selain itu, pemerintah juga perlu memperdalam hilirisasi industri agar tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk bernilai tambah. Reformasi birokrasi dan peningkatan kualitas SDM juga menjadi kunci agar Indonesia lebih kompetitif dalam persaingan investasi ASEAN.
7. Apakah investasi asing masih penting bagi ekonomi Indonesia?
Investasi asing tetap sangat penting bagi ekonomi Indonesia karena berperan dalam menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, serta memperkuat pertumbuhan industri. Dalam konteks global saat ini, FDI juga menjadi indikator kepercayaan investor terhadap suatu negara. Oleh karena itu, menjaga daya tarik investasi Indonesia bukan hanya soal ekonomi jangka pendek, tetapi juga strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal





