Akurat Logo

Investasi ASEAN 2026: Indonesia Mulai Tertinggal dari Thailand dan Malaysia?

Idham Nur Indrajaya | 5 Mei 2026, 11:00 WIB
Investasi ASEAN 2026: Indonesia Mulai Tertinggal dari Thailand dan Malaysia?
Investasi ASEAN 2026 berubah: Indonesia mulai tertinggal dari Thailand dan Malaysia. Simak analisis dan penyebabnya. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Peta investasi Asia Tenggara sedang berubah cepat. Di saat arus modal global masih deras mengalir ke kawasan, posisi Indonesia justru mulai tergeser oleh dua pesaing terdekatnya: Thailand dan Malaysia.

Data terbaru dari konsultan global Kearney menunjukkan sinyal yang sulit diabaikan. Thailand melonjak ke peringkat 6 dan Malaysia ke posisi 7 dalam indeks kepercayaan investasi global untuk pasar berkembang. Indonesia? Bertahan di peringkat 13—bahkan cenderung stagnan.

Di tengah kompetisi yang semakin ketat, pertanyaan kuncinya bukan lagi apakah Indonesia menarik bagi investor, melainkan: apakah Indonesia cukup siap untuk dipilih?


Investor Masih Datang, Tapi Lebih Selektif

Optimisme terhadap Indonesia sebenarnya belum pudar. Sebanyak 87% investor global menyatakan tetap atau bahkan lebih percaya diri terhadap prospek Indonesia.

Namun, menurut Partner dan Managing Director di Kearney Global Business Policy Council, Erik R. Peterson, dinamika investasi global telah berubah secara fundamental:

"Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi," ujar Peterson melalui laporan Kearney yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 5 Mei 2026.

Artinya, permainan telah bergeser. Dulu, ukuran pasar dan sumber daya cukup untuk menarik investasi. Kini, investor menilai lebih dalam—mulai dari kesiapan teknologi hingga stabilitas kebijakan.

Indonesia masih masuk radar, tetapi tidak selalu menjadi pilihan akhir.


Thailand: Menang di Kedalaman Industri

Kenaikan peringkat Thailand bukan kebetulan. Negara ini telah membangun fondasi manufaktur yang terintegrasi selama beberapa dekade, terutama di sektor otomotif dan pengolahan makanan.

Keunggulan utamanya bukan sekadar biaya kompetitif, melainkan kedalaman ekosistem industri:

  • rantai pasok yang lengkap

  • tenaga kerja terampil

  • kebijakan industri yang konsisten

Dalam era di mana 84% investor menganggap kebijakan industri sebagai faktor kunci, Thailand menawarkan sesuatu yang krusial: kepastian operasional.

Investor tidak hanya masuk—mereka bisa langsung berproduksi secara efisien.


Malaysia: Melompat ke Ekonomi Bernilai Tinggi

Jika Thailand unggul di manufaktur, Malaysia melaju di jalur yang berbeda: teknologi dan industri bernilai tambah tinggi.

Menurut Shirley Santoso, arah investasi global kini semakin condong ke sektor seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan digital.

Malaysia sudah lebih dulu menyiapkan diri di sektor-sektor ini:

  • semikonduktor

  • teknologi digital

  • jasa modern

Hasilnya, negara ini tidak hanya menarik investasi—tetapi juga jenis investasi yang lebih berkualitas, dengan nilai tambah tinggi dan transfer teknologi yang lebih besar.


Baca Juga: Hilirisasi Tembaga dan Emas Terintegrasi di Gresik Serap Hingga 7.500 Tenaga Kerja

Baca Juga: Inovasi Pelumas dari Minyak Nabati, Alternatif Ramah Lingkungan untuk Industri dan Mesin

Indonesia: Kuat di Hulu, Lemah di Hilir

Indonesia masih memiliki keunggulan yang sulit disaingi: sumber daya alam dan pasar domestik yang besar.

Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia berhasil menarik investasi besar di sektor logam dasar. Namun kekuatan ini masih terkonsentrasi di awal rantai nilai.

Tantangan utamanya adalah transformasi:

  • dari ekstraksi ke manufaktur

  • dari komoditas ke produk bernilai tambah

  • dari volume ke kualitas

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa aspek seperti transparansi tata kelola dan inovasi teknologi masih menjadi titik lemah Indonesia di mata investor.

Dengan kata lain, daya tarik ada—tetapi belum sepenuhnya dikonversi menjadi keunggulan kompetitif jangka panjang.


ASEAN Sedang Naik Kelas

Perubahan ini mencerminkan tren yang lebih besar: ASEAN tidak lagi bersaing sebagai kawasan berbiaya murah, tetapi sebagai pusat industri global yang semakin canggih.

Namun, kenaikan level ini juga membawa konsekuensi.

Hampir 90% investor mengakui adanya risiko dari kebijakan industri yang saling bersaing antarnegara. Dalam lanskap seperti ini, negara yang paling siap secara sistemik akan menjadi pemenang.

Indonesia kini berada di titik krusial:

  • masih menjadi pasar besar

  • tetapi menghadapi tekanan dari negara yang lebih siap secara struktural


Baca Juga: IAW: Nasabah Bank BUMN Perlu Tahu ke Mana Uangnya Diinvestasikan

Baca Juga: DNT Lawyers Resmi Hadir di Bali, Perkuat Layanan Hukum dan Dukung Kepastian Investasi Asing

Ketika Investor Harus Memilih

Dalam praktiknya, keputusan investasi bersifat sangat pragmatis.

Investor akan memilih negara yang:

  • infrastrukturnya siap

  • regulasinya konsisten

  • industrinya matang

Di sinilah tantangan Indonesia menjadi nyata. Masuk dalam daftar pertimbangan tidak lagi cukup—yang menentukan adalah kemampuan untuk menutup keputusan.


Implikasi: Lebih dari Sekadar Peringkat

Pergeseran ini bukan hanya soal posisi dalam indeks.

Dampaknya bisa menjalar lebih luas:

  • investasi bernilai tinggi berpotensi berpindah

  • peluang masuk ke industri masa depan menyempit

  • daya saing global melemah secara bertahap

Tanpa percepatan reformasi, Indonesia berisiko tertahan di tengah—tidak lagi murah, tetapi juga belum cukup maju.


Penutup: Perlombaan yang Tidak Menunggu

Indonesia masih memiliki semua elemen untuk menjadi kekuatan utama investasi di Asia Tenggara. Namun waktu menjadi faktor penentu.

Dalam lanskap di mana perusahaan global semakin selektif, keunggulan tidak lagi ditentukan oleh potensi—melainkan oleh kesiapan.

Dan dalam perlombaan ini, seperti yang semakin terlihat di ASEAN hari ini,
yang bergerak lebih cepatlah yang akan menang.

Baca Juga: Bidik Pasar ASEAN, MITEC–NICE Bangun Poros Baru Pameran Dagang RI–Malaysia

Baca Juga: Sidang Umum ke-21 CAJ di Kuala Lumpur Perkuat Solidaritas Jurnalis ASEAN

FAQ

1. Kenapa Indonesia tertinggal dalam investasi ASEAN 2026?

Indonesia mulai tertinggal dalam investasi ASEAN 2026 karena perubahan standar investor global yang kini lebih menekankan kualitas ekosistem industri dibanding sekadar potensi pasar atau sumber daya alam. Sementara Thailand dan Malaysia sudah memperkuat manufaktur dan teknologi, Indonesia masih dalam tahap transisi dari ekonomi berbasis komoditas ke industri bernilai tambah. Hal ini membuat daya saing investasi Indonesia terlihat kurang siap dalam eksekusi dibanding negara tetangga.


2. Apa keunggulan Thailand dalam menarik investasi asing?

Thailand unggul dalam menarik investasi asing karena memiliki kedalaman manufaktur yang kuat, terutama di sektor otomotif dan industri pengolahan. Negara ini sudah membangun supply chain yang terintegrasi sehingga investor bisa langsung beroperasi tanpa harus membangun ekosistem dari awal. Selain itu, konsistensi kebijakan industri dan tenaga kerja terampil membuat Thailand menjadi pilihan yang lebih efisien bagi investor global.


3. Kenapa Malaysia lebih unggul di sektor teknologi dibanding Indonesia?

Malaysia lebih unggul di sektor teknologi karena fokus mengembangkan ekosistem industri bernilai tinggi seperti semikonduktor, digital, dan jasa modern sejak lebih awal. Dukungan regulasi yang stabil, kualitas SDM yang lebih siap, serta konektivitas industri yang baik membuat Malaysia menjadi destinasi investasi teknologi yang lebih matang. Dibandingkan Indonesia, pendekatan Malaysia lebih terarah pada pengembangan value-added industry.


4. Apakah ekonomi berbasis sumber daya alam masih relevan untuk menarik investasi?

Ekonomi berbasis sumber daya alam masih relevan, tetapi tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan investasi global. Saat ini, investor mencari negara yang tidak hanya memiliki bahan mentah, tetapi juga mampu mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Tanpa hilirisasi yang kuat dan ekosistem industri yang matang, negara seperti Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku, bukan pemain utama dalam rantai nilai global.


5. Apa dampak jika Indonesia kalah saing dalam investasi ASEAN?

Jika Indonesia kalah saing dalam investasi ASEAN, dampaknya bisa signifikan terhadap ekonomi jangka panjang, seperti berkurangnya investasi berkualitas tinggi, terbatasnya lapangan kerja di sektor industri maju, dan melemahnya posisi dalam global supply chain. Hal ini juga dapat memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor berbasis teknologi dan inovasi, yang sangat penting untuk pertumbuhan berkelanjutan.


6. Apa yang harus dilakukan Indonesia untuk meningkatkan daya saing investasi?

Indonesia perlu mempercepat reformasi struktural dengan fokus pada pembangunan infrastruktur, kepastian regulasi, serta pengembangan industri bernilai tambah. Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan dorongan terhadap inovasi teknologi menjadi faktor penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara seperti Thailand dan Malaysia. Transformasi dari ekonomi berbasis komoditas ke ekosistem industri modern menjadi kunci utama.


7. Apakah Indonesia masih punya peluang bersaing di investasi ASEAN ke depan?

Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bersaing di investasi ASEAN karena didukung oleh pasar domestik yang besar dan sumber daya yang melimpah. Namun, peluang tersebut sangat bergantung pada kecepatan transformasi ekonomi dan kemampuan pemerintah dalam menciptakan ekosistem investasi yang kompetitif. Jika reformasi dilakukan secara konsisten, Indonesia masih bisa mengejar ketertinggalan dan kembali menjadi destinasi utama investasi di kawasan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.