Akurat Logo

Presiden Prancis Emmanuel Macron Dikritik Usai Bentak Peserta Forum di Kenya, Dinilai Bersikap Seperti Penjajah

Fitra Iskandar | 13 Mei 2026, 17:39 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron Dikritik Usai Bentak Peserta Forum di Kenya, Dinilai Bersikap Seperti Penjajah
Emmanuel Macron Dikritik Usai Bentak Peserta Forum di Kenya, Dinilai Bersikap Seperti Penjajah. Foto: SC Guardian

AKURAT.CO Presiden Prancis Emmanuel Macron menuai kritik setelah aksinya menghentikan diskusi dan membentak peserta forum di Kenya viral di media sosial.

Insiden itu terjadi dalam acara Africa Forward Summit pada Senin, sebuah forum yang bertujuan memperkuat citra baru Prancis sebagai mitra setara negara-negara Afrika, bukan lagi kekuatan kolonial lama.

Saat suasana forum mulai riuh, Macron tiba-tiba naik ke panggung, mengambil mikrofon, lalu meminta peserta diam.

“Jika kalian ingin tetap berada di sini, dengarkan orang-orang di atas panggung,” kata Macron di hadapan audiens.

Ia juga menegaskan dirinya ingin “mengembalikan ketertiban” dalam acara tersebut.

Namun tindakan Macron justru memicu gelombang kritik, terutama dari kalangan politikus dan warga Afrika yang menilai sikap Presiden Prancis itu arogan dan bernuansa kolonial.

Politikus partai kiri Prancis Danièle Obono menuding Macron masih menunjukkan mentalitas penjajah saat berada di Afrika.

“Begitu menginjakkan kaki di benua Afrika, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bersikap seperti penjajah,” tulis Obono di media sosial X.

Kritik serupa juga datang dari mahasiswa sejarah asal Senegal, Thierno Mbaye, yang menyebut Macron terlihat seperti guru yang sedang memarahi murid-muridnya.

“Dia bertindak seperti seorang guru yang memarahi anak-anak,” ujar Mbaye kepada Associated Press.

Video momen Macron mengambil alih forum tersebut langsung menyebar luas di media sosial dan memicu perdebatan mengenai hubungan Prancis dengan negara-negara Afrika.

Dalam beberapa tahun terakhir, Prancis memang berupaya memperbaiki citranya di Afrika setelah menghadapi meningkatnya sentimen anti-Prancis di sejumlah negara bekas koloninya, terutama di kawasan Afrika Barat.

Sumber: Swedenherald

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.