Akurat Logo

Komunitas intelijen Amerika Mulai Menganlisa Apa Reaksi Kuba bila Diserang AS

Fitra Iskandar | 21 Mei 2026, 08:13 WIB
Komunitas intelijen Amerika Mulai Menganlisa Apa Reaksi Kuba bila Diserang AS

 AKURAT.CO Komunitas intelijen Amerika Serikat dilaporkan mulai menganalisis kemungkinan respons Kuba jika Washington mengambil langkah militer di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Laporan tersebut diungkap CBS News pada Rabu waktu setempat.

Menurut laporan itu, analis di Pentagon dan Defense Intelligence Agency (DIA) mulai menyusun kajian mengenai potensi reaksi Kuba sejak awal bulan ini. Analisis dilakukan bersamaan dengan pemantauan kapal tanker minyak berbendera Rusia bernama Universal yang tengah menuju Kuba dan diketahui masuk daftar sanksi Amerika Serikat.

Dua pejabat AS yang dikutip CBS News juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah mulai menyiapkan berbagai opsi militer untuk Presiden Donald Trump. Para pejabat tersebut berbicara secara anonim karena tidak memiliki izin membahas isu sensitif tersebut secara terbuka.

Kajian intelijen seperti ini lazim digunakan militer AS untuk memperkirakan dampak langsung maupun rantai konsekuensi politik dan militer yang dapat muncul setelah suatu operasi dilakukan.

Meski demikian, Presiden Donald Trump berusaha meredam spekulasi mengenai potensi perang terbuka dengan Kuba. Saat ditanya wartawan terkait kemungkinan eskalasi lebih lanjut setelah dakwaan AS terhadap mantan pemimpin Kuba Raul Castro, Trump menegaskan dirinya tidak melihat perlunya konflik membesar.

“Tidak, tidak akan ada eskalasi. Saya rasa itu tidak diperlukan,” kata Trump kepada wartawan.

Hubungan Washington dan Havana memang terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump memperluas sanksi terhadap Kuba, menargetkan pejabat militer dan intelijen negara tersebut, serta meningkatkan tekanan terhadap akses Kuba pada bahan bakar dan jaringan pengiriman internasional.

Di saat bersamaan, laporan CBS News menyebut Kuba kini diduga telah memiliki drone tempur. Namun hingga kini belum diketahui secara pasti asal-usul maupun bagaimana Havana memperoleh perangkat militer tersebut.

Sebelumnya, Axios melaporkan Kuba memiliki lebih dari 300 drone militer dan sempat membahas kemungkinan penggunaan drone untuk menyerang pangkalan militer AS di Teluk Guantanamo apabila konflik bersenjata pecah.

Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, membantah negaranya menjadi ancaman militer bagi Amerika Serikat. Namun ia memperingatkan bahwa setiap serangan AS terhadap Kuba akan berujung pada “pertumpahan darah”.

Ketegangan terbaru ini juga muncul setelah Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan ke Kuba dan bertemu sejumlah pejabat intelijen serta Raul Guillermo “Raulito” Rodriguez Castro, cucu Raul Castro.

Seorang pejabat CIA yang dikutip CBS News mengatakan Ratcliffe menyampaikan bahwa pemerintahan Trump sebenarnya menawarkan “peluang kerja sama yang nyata” bagi Kuba, termasuk jalan untuk membantu menstabilkan ekonomi negara tersebut yang tengah terpuruk.

Namun, Washington disebut memberikan syarat bahwa perbaikan hubungan hanya mungkin terjadi jika Havana mulai menjauh dari negara-negara yang dianggap musuh Amerika Serikat, termasuk Rusia, China, dan Iran.

 Sumber: Anadolu

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.