Pendaki Legendaris Soroti Bahaya Everest, Desak Nepal Perketat Seleksi Pendaki Gunung Tertinggi Dunia

AKURAT.CO Pendaki asal Inggris Kenton Cool meminta operator ekspedisi Gunung Everest lebih selektif dalam menerima peserta pendakian. Langkah itu perlu dilakukan demi mengurangi risiko kematian di gunung tertinggi dunia tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah musim pendakian tahun ini kembali diwarnai insiden fatal di Mount Everest, dengan sedikitnya lima pendaki dilaporkan meninggal dunia dan sejumlah lainnya harus dievakuasi dari zona maut dekat puncak.
Kenton Cool, yang baru saja mencatat pendakian Everest ke-20 pekan lalu, menilai pendakian Everest sebenarnya tidak terlalu berbahaya jika dilakukan dengan persiapan matang, pemandu berpengalaman, serta perencanaan yang tepat.
“Operator harus lebih ketat menentukan siapa yang layak bergabung dalam tim pendakian menuju puncak,” ujarnya di Kathmandu.
Menurutnya, banyak risiko muncul akibat pendaki minim pengalaman yang tetap diizinkan mencoba mencapai puncak Everest.
Sorotan terhadap keselamatan di Everest kembali menguat setelah Nepal mencatat rekor baru sebanyak 274 pendaki berhasil mencapai puncak dalam satu hari dari jalur Nepal pekan lalu.
Lonjakan jumlah pendaki tersebut kembali memicu kekhawatiran soal kepadatan ekstrem di jalur menuju puncak, terutama di area yang dikenal sebagai “death zone” atau zona maut.
Wilayah itu berada dekat puncak Everest dengan kadar oksigen alami yang sangat rendah dan berbahaya bagi tubuh manusia.
Kepadatan pendaki di jalur sempit sering memicu antrean panjang yang meningkatkan risiko kelelahan, hipotermia, hingga kekurangan oksigen.
Pemerintah Nepal sebelumnya telah mengakui bahaya akibat kepadatan pendaki dan mulai menerapkan aturan lebih ketat serta menaikkan biaya izin pendakian.
Kenton Cool menegaskan bahwa kematian di Everest sebenarnya bisa diminimalkan apabila para pendaki memiliki pengalaman memadai sebelum mencoba menaklukkan gunung setinggi 8.849 meter tersebut.
Pendaki veteran itu juga mengatakan proses pendakian Everest saat ini jauh lebih profesional dibanding beberapa tahun lalu berkat perkembangan teknologi.
Ia menyebut kemampuan para pemandu Sherpa dalam memahami kondisi klien semakin baik, pemasangan tali pendakian lebih terorganisir, serta dukungan alat komunikasi dan prediksi cuaca kini jauh lebih akurat.
Meski demikian, Cool mengakui kepadatan di titik sempit Hillary Step masih menjadi tantangan besar bagi para pendaki saat menuju puncak.
Musim pendakian tahun ini juga sempat terganggu akibat bongkahan es raksasa yang menunda pembukaan jalur pendakian selama hampir dua pekan dan membuat ratusan pendaki tertahan di base camp.
Namun menurut Cool, tim Sherpa elite yang dikenal sebagai “Icefall Doctors” berhasil memasang jalur tali menuju puncak tepat waktu sehingga pendakian tetap dapat berlangsung lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Sumber: Miami Herald
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







