Akurat Logo

Negosiasi AS-Iran Memanas di Doha, Trump Desak Timur Tengah Normalisasi Hubungan dengan Israel

Fitra Iskandar | 26 Mei 2026, 06:58 WIB
Negosiasi AS-Iran Memanas di Doha, Trump Desak Timur Tengah Normalisasi Hubungan dengan Israel
Presiden AS Donald Trump. Foto: Unsplash

AKURAT.CO Perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung di Doha pada Senin di tengah upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan. Namun harapan tercapainya kesepakatan cepat masih dibayangi ketegangan baru dari Amerika Serikat dan Israel.

Delegasi utama Iran tiba di Doha untuk melanjutkan pembicaraan damai, sementara kedua pihak sama-sama meredam ekspektasi soal tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

Situasi semakin rumit setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan “menghancurkan” Hezbollah di Lebanon.

Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump mengajukan syarat baru yang lebih luas dalam negosiasi, termasuk mendorong negara-negara Timur Tengah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.

Trump juga kembali menekan Iran terkait stok uranium yang diperkaya, isu utama dalam pembicaraan nuklir.

Melalui Truth Social, Trump menyebut uranium Iran harus diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dimusnahkan atau dihancurkan langsung di bawah pengawasan internasional.

Meski demikian, Trump tidak menjelaskan apakah mekanisme tersebut sudah menjadi bagian resmi dari rancangan kesepakatan dengan Iran.

Presiden AS itu juga meminta negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, Bahrain, dan Yordania untuk bergabung dalam Abraham Accords, kesepakatan diplomatik yang dimediasi AS pada 2020.

Namun gagasan tersebut mendapat penolakan dari sejumlah negara Teluk yang menegaskan normalisasi hubungan dengan Israel hanya dapat dilakukan jika negara Palestina merdeka benar-benar terwujud.

Sumber pemerintah Saudi menegaskan posisi Riyadh terkait Palestina tidak berubah dan tetap menuntut “jalur yang tidak dapat dibatalkan menuju negara Palestina merdeka.”

Di tengah ketegangan diplomatik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat memunculkan optimisme bahwa kesepakatan damai bisa diumumkan dalam waktu dekat.

Rubio menyebut terdapat proposal “cukup solid” terkait pembukaan kembali Strait of Hormuz dan negosiasi nuklir terbatas dengan Iran.

Pernyataan itu sempat membuat harga minyak dunia turun karena pasar berharap konflik segera mereda.

Namun juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menegaskan belum ada kesepakatan final yang siap ditandatangani.

“Kami memang telah mencapai kemajuan dalam banyak isu, tetapi tidak ada yang bisa mengklaim kesepakatan sudah dekat,” ujarnya.

Di Tehran, warga mulai frustrasi karena proses diplomasi yang berjalan lambat di tengah situasi ekonomi dan keamanan yang memburuk.

“Kami seperti menjadi gila. Berharap berkali-kali setiap hari lalu kembali kecewa,” kata seorang warga bernama Amir.

Sementara itu, Netanyahu memerintahkan militer Israel meningkatkan operasi di Lebanon setelah menuduh Hezbollah melancarkan serangan drone terhadap pasukan Israel.

Netanyahu menegaskan kesepakatan apa pun dengan Iran harus sepenuhnya menghilangkan ancaman nuklir Teheran.

Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing untuk membahas upaya mediasi konflik AS-Iran.

Sharif menyebut dunia saat ini sedang berada dalam “momen kritis” di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah.

Sumber: Korea Herald

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.