WHO Turun Langsung ke Pusat Wabah Ebola di Kongo, Kasus Melonjak dan Penyebaran Lebih Cepat dari Penanganan

AKURAT.CO Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengunjungi Kota Bunia di Republik Demokratik Kongo pada Sabtu (30/5/2026). Kunjungan ini dilakukan di tengah lonjakan wabah Ebola yang disebut sebagai salah satu yang tercepat dalam sejarah negara tersebut.
Kunjungan itu dilakukan ketika jumlah kasus terus meningkat dan penyebaran virus dinilai lebih cepat dibanding upaya penanganan yang sedang dilakukan oleh otoritas kesehatan dan organisasi kemanusiaan internasional.
WHO mencatat hingga saat ini terdapat 906 kasus suspek Ebola dan 223 kematian yang diduga terkait wabah tersebut. Sementara itu, negara tetangga, Uganda, telah mengonfirmasi sembilan kasus Ebola dan satu kematian.
WHO Minta Negara Tetangga Tinjau Ulang Penutupan Perbatasan
Dalam konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Kongo, Tedros menegaskan pentingnya membangun kepercayaan masyarakat agar upaya pengendalian wabah dapat berjalan efektif.
Ia juga meminta sejumlah negara yang memberlakukan larangan perjalanan dan penutupan perbatasan untuk mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut.
Menurut Tedros, pembatasan perjalanan justru dapat menghambat transparansi dan pelaporan kasus yang sangat dibutuhkan dalam penanganan wabah.
“Saya meminta negara-negara yang memberlakukan larangan perjalanan atau menutup perbatasan untuk meninjau kembali kebijakan tersebut karena langkah itu dapat mengurangi transparansi yang menyelamatkan nyawa,” ujarnya.
Ebola Jenis Bundibugyo Belum Memiliki Vaksin
Wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola jenis Bundibugyo, salah satu varian langka yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui secara resmi.
Meski demikian, Tedros menyatakan optimistis Kongo mampu mengendalikan situasi karena negara tersebut telah berhasil mengakhiri 16 wabah Ebola sebelumnya.
“Republik Demokratik Kongo telah menghadapi Ebola sebanyak 16 kali dan berhasil mengakhiri semuanya. Ini adalah wabah ke-17, dan pengalaman itu memberi saya keyakinan besar,” katanya.
Bantuan Internasional Mulai Berdatangan
Untuk mendukung penanganan wabah, Uni Eropa telah mengirim bantuan medis ke Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, sejak Kamis lalu.
Sementara itu, Amerika Serikat mengumumkan tambahan bantuan sebesar USD80 juta sehingga total komitmen bantuan Washington untuk penanganan Ebola di kawasan tersebut kini melampaui USD112 juta.
Rumah sakit Rwampara dan Rumah Sakit Umum Bunia dilaporkan telah menerima tambahan tenaga medis, alat pelindung diri, serta pasokan kesehatan. Namun jumlah pasien yang terus berdatangan membuat tekanan terhadap fasilitas kesehatan tetap tinggi.
Dokter Lintas Batas Peringatkan Situasi Kian Gawat
Organisasi kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) memperingatkan bahwa laju penyebaran wabah saat ini termasuk yang tercepat yang pernah tercatat.
Wakil Direktur Operasi MSF, Dr. Alan Gonzalez, mengatakan belum pernah ada wabah Ebola yang mencatat jumlah kasus sebanyak ini dalam waktu sesingkat ini sejak pertama kali diumumkan.
Ia mendesak perluasan kapasitas tes, percepatan pengiriman tenaga medis, dan jaminan akses distribusi logistik kesehatan ke wilayah terdampak.
Serangan Kelompok Bersenjata Hambat Penanganan
Upaya penanganan wabah juga menghadapi tantangan keamanan yang serius. Sejumlah kelompok bersenjata aktif di wilayah Ituri, termasuk Allied Democratic Forces (ADF) yang berafiliasi dengan ISIS, serta milisi etnis lokal.
Selain itu, penolakan sebagian warga terhadap prosedur pemakaman korban Ebola juga memicu ketegangan. WHO mencatat telah terjadi sedikitnya tiga serangan terhadap fasilitas kesehatan selama masa wabah berlangsung.
Tedros menekankan bahwa pendekatan yang mengedepankan dialog dengan masyarakat menjadi kunci untuk menghentikan penyebaran virus.
“Kami tidak datang untuk memerintah masyarakat, tetapi untuk mendengarkan mereka. Membangun kepercayaan membutuhkan waktu dan harus dimulai dengan mendengarkan,” katanya.
Wabah Ebola saat ini juga telah dilaporkan menyebar ke Provinsi Kivu Utara dan Kivu Selatan. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran internasional terhadap potensi penyebaran lintas negara di kawasan Afrika Tengah.
Sumber: Huffpost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026







