Akurat Logo

Trump Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali

Fitra Iskandar | 15 Juni 2026, 07:10 WIB
Trump Umumkan Kesepakatan Damai AS-Iran, Selat Hormuz Akan Dibuka Kembali
Selat Hormuz. Foto: digitaloceanspaces

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa kerangka kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah berhasil dicapai. Kesepakatan tersebut disebut akan mengakhiri pertempuran di Timur Tengah, membuka kembali Selat Hormuz, serta mengakhiri blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Republik Islam Iran telah selesai dan memasuki tahap implementasi awal. Menurutnya, kesepakatan itu akan membuka periode selama 60 hari untuk merundingkan perjanjian damai yang lebih rinci antara Washington dan Teheran.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang disebut berperan sebagai mediator dalam perundingan tersebut, turut mengonfirmasi bahwa kesepakatan damai telah tercapai. Ia mengatakan upacara penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni di Swiss.

Dari pihak Iran, Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi menyatakan bahwa penghentian perang secara permanen dan segera telah disepakati di seluruh medan konflik, termasuk di Lebanon.

Ia juga mengungkapkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka pada 19 Juni setelah perjanjian resmi ditandatangani.

Jika benar-benar terealisasi, kesepakatan ini akan menjadi langkah diplomatik terbesar dalam upaya mengakhiri konflik Timur Tengah sejak pecahnya perang pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran.

Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut akan membawa stabilitas baru bagi kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan perjanjian akan memungkinkan operasi pembersihan ranjau laut dan memulihkan arus distribusi minyak yang selama ini terganggu akibat konflik.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Gangguan terhadap jalur tersebut selama konflik berlangsung sempat memicu kekhawatiran pasar energi global.

Sementara itu, kantor berita pemerintah Iran, Mehr News Agency, melaporkan bahwa memorandum kesepahaman yang menjadi dasar kesepakatan memuat 14 poin utama. Di antaranya adalah pembahasan isu nuklir selama 60 hari serta pencabutan penuh sanksi terhadap Iran.

Trump sebelumnya menegaskan bahwa unsur terpenting dalam perjanjian damai jangka panjang adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir dan menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Laporan sebelumnya juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat berpotensi mencairkan aset Iran senilai USD 25 miliar yang selama ini dibekukan. Sebagai imbalannya, Iran disebut sepakat untuk tidak memproduksi maupun memperoleh senjata nuklir.

Selain itu, Iran juga dikabarkan bersedia mempertahankan status program nuklirnya saat ini, termasuk tidak melakukan pengayaan uranium tambahan maupun memperluas fasilitas nuklir hingga tercapainya perjanjian final.

Namun demikian, sejumlah perbedaan pandangan masih muncul terkait pengaturan lalu lintas pelayaran di Teluk Persia. Kantor berita Fars yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan bahwa lalu lintas kapal di kawasan Teluk nantinya akan diatur oleh Iran bekerja sama dengan Oman.

Pernyataan tersebut berbeda dengan klaim Trump yang sebelumnya menekankan bahwa Selat Hormuz akan kembali terbuka untuk pelayaran internasional secara bebas.

Komando militer Iran sendiri menyebut kesepakatan damai tersebut sebagai kemenangan bagi negara mereka.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa perjanjian itu dapat ditandatangani secara elektronik olehnya atau oleh Wakil Presiden AS JD Vance. Vance kemudian menyatakan dirinya berencana menghadiri penandatanganan kesepakatan di Jenewa dan tidak menutup kemungkinan Trump juga akan hadir.

Konflik Lebanon Masih Menjadi Tantangan

Meski kesepakatan damai telah diumumkan, situasi di kawasan masih belum sepenuhnya stabil.

Setelah serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, konflik meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Di saat yang sama, pertempuran juga pecah di Lebanon ketika Israel menggempur basis-basis kelompok Hizbullah yang sebelumnya menembakkan roket ke wilayah Israel.

Iran selama ini menuntut agar penghentian pertempuran di Lebanon menjadi bagian dari setiap kesepakatan damai yang dicapai. Namun Israel tetap melanjutkan operasi militernya terhadap Hizbullah di Lebanon selatan.

Keraguan terhadap keberlangsungan kesepakatan sempat muncul setelah Israel kembali melancarkan serangan ke sejumlah target Hizbullah pada 14 Juni.

Gharibabadi mengatakan salah satu syarat Iran untuk tidak melakukan serangan balasan adalah penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan.

Di sisi lain, Israel berulang kali menegaskan akan melanjutkan operasi militernya dan membentuk zona penyangga di wilayah perbatasan Lebanon.

Kebijakan tersebut beberapa kali memicu ketegangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sebelumnya pernah dikritik secara terbuka oleh Presiden AS terkait operasi militer Israel di kawasan.

Apabila penandatanganan resmi berlangsung sesuai jadwal pada 19 Juni mendatang, kesepakatan tersebut berpotensi menjadi titik balik terbesar dalam konflik Timur Tengah sekaligus membuka peluang pemulihan stabilitas kawasan dan pasar energi dunia.

 Sumber: Rferl

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.