Meski Gencatan Senjata, Operasi Militer Israel Tetap Berlangsung, Korban Tewas di Gaza Tembus 73.000 Jiwa

AKURAT.CO Jumlah korban tewas akibat perang antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza telah melampaui 73.000 orang. Kementerian Kesehatan Gaza pada Minggu (15/6/2026) melaporkan bahwa operasi militer Israel masih terus berlangsung meski kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih secara resmi berlaku.
Menurut data terbaru, total korban meninggal dunia sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 mencapai 73.001 orang, sementara lebih dari 173.200 warga terluka akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun tersebut.
Perang dimulai setelah serangan Hamas ke wilayah Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sejak saat itu, Jalur Gaza menjadi medan pertempuran yang menyebabkan kerusakan besar dan krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut hampir 1.000 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober lalu, sementara pihak Israel melaporkan lima tentaranya tewas selama periode yang sama.
Israel menyatakan operasi militernya menargetkan anggota Hamas dan kelompok militan lain yang dianggap mengancam keamanan negara tersebut. Pemerintah Israel juga menuduh Hamas terus melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, otoritas kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas mengatakan perempuan dan anak-anak mencakup sekitar separuh dari total korban jiwa. Meski tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan, data kementerian tersebut selama ini dianggap kredibel oleh sejumlah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pengamat independen.
Gencatan Senjata Mandek
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada Oktober lalu berhasil menghentikan operasi militer skala penuh dan membuka jalan bagi pemulangan seluruh sandera yang tersisa. Namun, implementasi sejumlah poin penting lainnya hingga kini masih mengalami kebuntuan.
Hamas menolak untuk melucuti senjatanya, sementara pasukan Israel justru terus bergerak di beberapa wilayah Gaza alih-alih melakukan penarikan penuh sebagaimana diharapkan dalam perjanjian.
Kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran, tetapi sama-sama menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata masih berlaku.
Diplomat internasional yang mengawasi proses gencatan senjata, Nickolay Mladenov, sebelumnya menyatakan bahwa kemajuan dalam isu rekonstruksi Gaza, penarikan pasukan Israel, serta pembentukan pemerintahan Palestina yang baru masih tertahan akibat kebuntuan terkait pelucutan senjata Hamas.
Serangan Terbaru Tewaskan Warga Sipil
Di tengah situasi yang masih tegang, serangan udara Israel pada Minggu sore menghantam Kamp Pengungsi Jabaliya di Gaza utara. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sedikitnya empat orang tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Shifa untuk mendapatkan perawatan. Seorang pejabat militer Israel yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa pasukan Israel menyerang "target teroris" di kawasan tersebut, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Sementara itu, sedikitnya lima warga Palestina lainnya dilaporkan tewas dalam serangan yang terjadi pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari. Salah satu korban adalah seorang anak laki-laki berusia 13 tahun.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota Hamas yang beroperasi di wilayah terkait.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Perang berkepanjangan telah memaksa sebagian besar dari lebih dari dua juta penduduk Gaza mengungsi. Ribuan bangunan hancur, sementara pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya semakin langka akibat pembatasan akses masuk ke wilayah tersebut.
Sebagian besar jalur perbatasan Gaza masih berada di bawah kendali Israel, sehingga distribusi bantuan kemanusiaan terus menghadapi berbagai hambatan.
Dengan korban jiwa yang terus bertambah dan proses perdamaian yang belum menunjukkan kemajuan signifikan, konflik Israel-Hamas masih menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini.
Sumber: Huffpost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kementerian ESDM: Tabung CNG 3 Kg Tak Perlu Dibeli, Masyarakat Cukup Tukar Isi Gas
- 2Trump Perintahkan Serangan Balasan, AS Kembali Gempur Iran
- 3Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026 Rilis! Ini Jadwal Laga Big Match yang Wajib Tonton
- 4Edwin van Der Sar Harap Timnas Indonesia Bisa Segera Tampil di Piala Dunia
- 5KPK Dikabarkan Gelar OTT di Kuansing, Sejumlah Pejabat Pemkab Diamankan
- 6Afrika Selatan vs Kanada: Gol Menit Akhir Stephen Eustaquio Bawa Tuan Rumah ke 32 Besar
- 7Masjid Hajjah Yuliana Dibangun di Melbourne, Simbol Bakti kepada Orang Tua dan Gotong Royong Diaspora
- 8Israel Resmi Akui Genosida Armenia, Turki Murka Sebut Upaya Tutupi Kejahatan di Gaza
- 9Puan Desak Kasus Dokter Icha Diusut Tuntas, Minta Semua Partai Proses Kader yang Terlibat
- 10Update Terbaru Bagan 16 Besar Piala Dunia 2026: Jerman dan Belanda Gugur







