Jaringan Pemerkosaan Internasional Terbongkar, Ratusan Pria Diduga Bius Pasangan Lalu Sebarkan Video Kekerasan Seksual

AKURAT.CO Aparat penegak hukum Eropa berhasil membongkar jaringan kriminal internasional yang diduga membius dan memperkosa perempuan, sebagian besar merupakan pasangan mereka sendiri, sebelum merekam dan menyebarkan video maupun foto aksi tersebut melalui forum daring.
Operasi gabungan yang diumumkan pada Kamis itu dipimpin oleh Europol bersama otoritas Inggris dan Jerman. Penyelidikan berhasil mengungkap empat komunitas online yang diduga menjadi pusat penyebaran praktik kekerasan seksual dengan menggunakan obat bius (drug-facilitated sexual assault).
Menurut Europol, forum-forum tersebut tidak hanya menjadi tempat berbagi rekaman kejahatan seksual, tetapi juga berperan dalam menormalisasi tindak kekerasan terhadap perempuan.
Korban Mayoritas Tidak Menyadari Diperkosa
Penyelidikan mengungkap bahwa hampir seluruh korban merupakan perempuan yang berada dalam hubungan jangka panjang dengan pelaku.
Mereka diduga dibius menggunakan obat-obatan atau alkohol sebelum mengalami kekerasan seksual. Dalam sejumlah kasus, korban diperkosa oleh lebih dari satu pelaku tanpa pernah mengetahui apa yang terjadi.
Pihak berwenang menyebut sebagian korban baru mengetahui tindak kejahatan tersebut setelah polisi menghubungi mereka atau ketika bukti-bukti digital ditemukan dalam proses penyelidikan.
Yang lebih mengejutkan, beberapa aksi kekerasan seksual itu diduga berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan hingga puluhan tahun, tanpa disadari korban.
Operasi Medusa Ungkap Ratusan Pelaku
Operasi bertajuk Project Medusa yang diluncurkan pada April lalu menjadi salah satu operasi internasional terbesar dalam mengungkap kejahatan seksual berbasis obat bius. Operasi yang dipimpin aparat Inggris dan Jerman itu berhasil mengidentifikasi sedikitnya 156 orang, baik pelaku maupun korban. Hingga kini, sebanyak 57 tersangka telah ditangkap, sementara 113 penyelidikan baru dibuka berdasarkan temuan penyidik. Selain itu, aparat juga mengumpulkan 274 petunjuk investigasi yang akan digunakan untuk mengembangkan penyelidikan di berbagai negara.
Di sisi lain, National Crime Agency (NCA) Inggris mengungkap penyelidikan terpisah yang dimulai sejak Oktober 2025 berhasil mengidentifikasi lebih dari 270 orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan salah satu forum daring tersebut beserta jaringan turunannya. Informasi yang diperoleh kemudian dibagikan kepada aparat penegak hukum di berbagai negara melalui lebih dari 210 paket intelijen guna memperluas penyelidikan terhadap jaringan internasional itu.
Polisi: Banyak Korban Baru Tahu Setelah Diungkap Penyidik
Deputy Assistant Commissioner Helen Millichap, yang memimpin National Centre for Violence Against Women and Girls Inggris, mengatakan bentuk kejahatan ini sangat sulit dideteksi karena pelaku merupakan orang terdekat korban.
"Ini adalah bentuk kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga yang sangat mengerikan. Banyak korban tidak menyadari apa yang telah terjadi kepada mereka saat kejahatan berlangsung," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








