Trump Buka Dokumen Rahasia soal Dugaan Campur Tangan China di Pemilu AS, Klaimnya Langsung Dipatahkan Intelijen

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pembukaan dokumen intelijen yang sebelumnya dirahasiakan terkait dugaan campur tangan China dalam pemilu Amerika Serikat. Langkah tersebut kembali memicu perdebatan mengenai keamanan pemilu, karena bertentangan dengan hasil penilaian komunitas intelijen AS yang sebelumnya menyatakan tidak ada bukti Beijing mengubah hasil Pemilu Presiden 2020.
Dalam pidato berdurasi sekitar 25 menit yang disiarkan pada Kamis (17/7/2026) waktu setempat, Trump menyebut dokumen yang dideklasifikasi akan mengungkap berbagai "kerentanan mengejutkan" dalam sistem pemilu Amerika Serikat.
Menurut Trump, pemerintah China diduga memperoleh sekitar 220 juta data pemilih Amerika, termasuk nama, alamat, dan informasi lain yang digunakan dalam proses pendaftaran pemilih.
Trump juga menuding sejumlah pejabat intelijen Amerika sengaja menyembunyikan informasi mengenai aktivitas China tersebut dari publik.
Bertentangan dengan Laporan Intelijen AS
Klaim Trump langsung memunculkan kontroversi karena berbeda dengan laporan resmi komunitas intelijen Amerika Serikat yang dirilis pada 2021.
Dalam laporan tersebut, badan-badan intelijen AS menyimpulkan tidak ada indikasi bahwa aktor asing berhasil ataupun berupaya mengubah aspek teknis Pemilu Presiden 2020, termasuk daftar pemilih, surat suara, proses penghitungan maupun hasil akhir pemungutan suara.
Penilaian itu dilakukan ketika John Ratcliffe, yang saat itu menjabat Direktur Intelijen Nasional dan kini menjadi Direktur CIA, memimpin proses evaluasi.
Laporan tersebut memang mengakui bahwa China telah lama mengumpulkan informasi mengenai pemilih Amerika, partai politik, kandidat, hingga opini publik sejak setidaknya 2008. Namun, aktivitas itu dinilai lebih bertujuan untuk menganalisis dinamika politik dan memprediksi hasil pemilu, bukan mengubah hasil pemungutan suara.
Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut juga menyebut data pemilih yang dikumpulkan China bukanlah informasi rahasia karena data serupa dapat diperoleh secara legal dan kerap dibeli oleh konsultan politik di Amerika Serikat.
Trump Kembali Soroti Keamanan Pemilu
Dalam pidatonya, Trump kembali mendesak Kongres meloloskan SAVE America Act, rancangan undang-undang yang mewajibkan penggunaan kartu identitas berfoto saat memilih, bukti kewarganegaraan Amerika Serikat ketika mendaftar sebagai pemilih, serta membatasi penggunaan surat suara melalui pos.
Partai Demokrat dan kelompok pegiat hak pilih menilai aturan tersebut justru berpotensi membatasi hak warga negara untuk memberikan suara.
RUU tersebut telah beberapa kali disetujui oleh DPR Amerika Serikat yang dikuasai Partai Republik, namun masih tertahan di Senat karena tidak memperoleh dukungan yang cukup untuk mengatasi filibuster Partai Demokrat.
Dokumen yang Dibuka Dinilai Tidak Mendukung Klaim Trump
Sejumlah dokumen intelijen yang dipublikasikan justru dinilai tidak memperkuat tuduhan Trump.
Salah satu dokumen CIA membahas pemilu Venezuela, bukan pemilu Amerika Serikat.
Dokumen lain bahkan menyatakan sistem penghitungan suara di Amerika Serikat sangat sulit dimanipulasi dalam skala besar sehingga hampir mustahil mengubah hasil pemilu secara keseluruhan.
Sementara dokumen lainnya mengungkap upaya intelijen China memantau kampanye Presiden Joe Biden, tetapi juga menyebut Beijing saat itu tidak berniat melakukan intervensi rahasia untuk memengaruhi hasil pemilu.
Demokrat Sebut Tuduhan Trump Tidak Berdasar
Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS dari Partai Demokrat, Mark Warner, menolak keras tuduhan Trump.
Menurutnya, seluruh lembaga intelijen Amerika telah sepakat bahwa China tidak pernah berupaya mengubah satu pun suara pada Pemilu Presiden 2020.
Warner menyebut klaim Trump mengenai dugaan campur tangan China sebagai tuduhan yang tidak didukung bukti.
Isu Pemilu Diangkat di Tengah Tekanan Politik
Pidato Trump disampaikan ketika tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahannya menghadapi tekanan akibat meningkatnya harga energi dan dampak perang dengan Iran.
Meski sempat menyinggung konflik Iran dengan mengatakan Amerika Serikat "sedang berada di posisi menang", sebagian besar pidatonya difokuskan pada isu keamanan pemilu menjelang pemilu sela (midterm election) yang akan digelar pada November mendatang.
Dalam pemilu tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis mereka di Kongres, sementara Partai Demokrat hanya membutuhkan tambahan beberapa kursi untuk merebut kembali kendali DPR Amerika Serikat.
Di sisi lain, pernyataan keras Trump mengenai China juga berpotensi memengaruhi hubungan kedua negara yang mulai membaik setelah perang dagang beberapa waktu lalu. Trump sendiri dijadwalkan mengupayakan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada September mendatang untuk membahas kerja sama perdagangan.
Sementara itu, Kedutaan Besar China di Washington membantah seluruh tuduhan tersebut.
"China tidak pernah dan tidak akan pernah mencampuri pemilihan presiden Amerika Serikat," kata juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Chang.
Sumber: JPost
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








