Akurat Logo

Netanyahu Tetap Nekat ke New York, Meski Pernah Diancam Ditangkap Wali Kota Zohran Mamdani

Fitra Iskandar | 27 Juli 2026, 08:52 WIB
Netanyahu Tetap Nekat ke New York, Meski Pernah Diancam Ditangkap Wali Kota Zohran Mamdani
PM Israel Benjamin Netanyahu, Wali Kota New York Zohran Mamdani. Foto: The American Bazzar

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan akan tetap menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada musim gugur tahun ini, meski sebelumnya Wali Kota New York Zohran Mamdani sempat mengancam akan menangkapnya.

Netanyahu mengatakan dirinya tidak khawatir dengan ancaman tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News pada Minggu, ia justru menuduh Mamdani telah memicu kebencian dan memperuncing perpecahan di tengah masyarakat New York.

"Saya tidak khawatir," kata Netanyahu ketika ditanya mengenai ancaman penangkapan yang sebelumnya disampaikan Mamdani.

Menurut Netanyahu, seorang wali kota seharusnya menjadi pemimpin bagi seluruh warga New York tanpa membedakan latar belakang agama maupun kelompok.

"Dia seharusnya menjadi wali kota bagi semua warga New York, Yahudi, Kristen, Muslim, semuanya. Tetapi dia mencoba mengadu satu kelompok dengan kelompok lainnya," ujar Netanyahu.

Pernyataan Netanyahu merujuk pada sikap Mamdani yang dikenal sebagai pendukung kuat hak-hak Palestina dan secara terbuka menentang operasi militer Israel di Jalur Gaza.

Netanyahu Soroti Penikaman terhadap Warga Yahudi dan Asia

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga menyinggung dua kasus penikaman yang terjadi di New York pada Kamis. Dalam dua insiden yang berlangsung hanya beberapa blok dari satu sama lain, seorang pria Yahudi dan seorang pria keturunan Asia menjadi korban.

Menurut kepolisian, tersangka diduga meneriakkan frasa "Allahu akbar" saat melakukan penyerangan. Tersangka kemudian didakwa dengan kejahatan bermotif kebencian terkait kedua korban.

Kedua korban dilaporkan selamat dari serangan tersebut. Insiden itu memicu kecaman dari sejumlah pemimpin komunitas Yahudi dan Asia-Amerika di New York.

Netanyahu mengatakan situasi tersebut membuat warga Yahudi di New York merasa khawatir.

"Warga Yahudi New York sedang merasa takut saat ini," ujar Netanyahu.

Kantor Wali Kota New York belum memberikan tanggapan langsung atas pernyataan Netanyahu tersebut.

Mamdani Sebut Netanyahu "Penjahat Perang"

Polemik antara Netanyahu dan Mamdani berakar dari sikap politik wali kota New York tersebut terhadap perang di Gaza.

Dalam kampanye politiknya tahun lalu, Mamdani menjadikan penentangannya terhadap operasi militer Israel di Gaza sebagai salah satu agenda utama. Ia juga secara terbuka menyebut Netanyahu sebagai "penjahat perang".

Mamdani sebelumnya berjanji akan menegakkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada 2024 terhadap Netanyahu.

ICC menuduh Netanyahu melakukan kejahatan perang terkait konflik di Gaza. Pemerintah Israel membantah tuduhan tersebut dan Netanyahu menyebut dakwaan terhadap dirinya sebagai tuduhan yang tidak berdasar.

Namun, pekan lalu Mamdani menarik kembali ancaman sebelumnya untuk menangkap Netanyahu. Setelah didesak mengenai janjinya tersebut, Mamdani mengatakan pemerintahannya telah meninjau aspek hukum dan menyimpulkan bahwa pemerintah kota tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk menegakkan surat perintah penangkapan ICC.

"Kami tidak memiliki kewenangan hukum independen untuk menegakkan surat perintah ini," kata Mamdani.

Meski demikian, Mamdani tetap menegaskan bahwa Netanyahu tidak diterima di New York City. Ia juga mendesak pemerintah federal Amerika Serikat untuk mengambil tindakan terhadap perdana menteri Israel tersebut.

Netanyahu Berencana Hadiri Sidang PBB

Di tengah polemik tersebut, Netanyahu tetap berencana melakukan perjalanan ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pada musim gugur mendatang.

Kunjungan itu berpotensi menjadi sorotan besar karena posisi politik Mamdani yang berseberangan dengan Netanyahu terkait konflik Israel-Palestina.

Perang di Gaza bermula setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Dalam serangan tersebut, sekitar 1.200 orang tewas dan 251 orang lainnya disandera, menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut.

Sejak saat itu, serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, termasuk lebih dari 21.000 anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas. Data tersebut dinilai kredibel oleh PBB.

Sumber: BBC

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.