Akurat Logo

Sulit Dapat Kerja di Korea Selatan, Ribuan Anak Muda Kini Berburu Karier di Jepang

Fitra Iskandar | 3 Agustus 2026, 09:51 WIB
Sulit Dapat Kerja di Korea Selatan, Ribuan Anak Muda Kini Berburu Karier di Jepang
ilustrasi pekerja - Pixabay

AKURA.CO Semakin banyak lulusan muda Korea Selatan memilih membangun karier di Jepang di tengah ketatnya persaingan kerja di dalam negeri. Fenomena ini mendorong perusahaan Jepang aktif merekrut talenta Korea untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja profesional akibat krisis demografi.

Tren tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah bursa kerja yang mempertemukan pencari kerja Korea Selatan dengan perusahaan Jepang. Salah satunya diselenggarakan startup KOREC di Seoul pada Juli lalu dan diikuti lebih dari 100 pencari kerja.

Pendiri KOREC, Moe Kasugai, mengatakan ide membangun platform tersebut muncul setelah melihat banyak lulusan terbaik dari Universitas Yonsei kesulitan memperoleh pekerjaan meski memiliki kemampuan akademik dan bahasa Jepang yang baik.

"Saya terkejut karena banyak mahasiswa yang sangat pintar tetapi tetap sulit mendapatkan pekerjaan. Saya berpikir mereka mungkin memiliki peluang lebih baik di Jepang," ujar Kasugai.

Kondisi pasar tenaga kerja di kedua negara memang sangat berbeda. Di Korea Selatan, lapangan kerja bagi lulusan baru relatif terbatas karena perusahaan besar seperti Samsung lebih banyak merekrut tenaga berpengalaman, sementara pekerja senior bertahan lebih lama di dunia kerja.

Sebaliknya, Jepang menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat populasi yang menua. Banyak perusahaan di negara tersebut membutuhkan lulusan baru untuk mengisi program rekrutmen dan pelatihan kerja yang telah lama menjadi bagian dari sistem ketenagakerjaan Jepang.

Permintaan terhadap tenaga profesional Korea Selatan pun terus meningkat. Tahun ini, platform rekrutmen Wanted Lab dari Korea Selatan dan LAPRAS dari Jepang ikut meluncurkan layanan penempatan kerja lintas negara, menyusul perusahaan Jepang Mynavi yang lebih dulu bergerak di bidang serupa.

Seoul juga telah menjadi tuan rumah sedikitnya tiga bursa kerja khusus perusahaan Jepang sepanjang tahun ini. Sejumlah perusahaan besar seperti Canon Imaging Systems dan Azbil ikut membuka lowongan bagi lulusan Korea Selatan.

Data terbaru menunjukkan perbedaan kondisi pasar kerja kedua negara. Pada Juni lalu, tingkat pengangguran usia muda di Korea Selatan mencapai 7 persen, jauh lebih tinggi dibanding tingkat pengangguran keseluruhan Jepang yang hanya 2,5 persen.

Berdasarkan Korea Labor Institute, lebih dari 80 ribu warga Korea Selatan kini bekerja di Jepang. Sebagian besar mengisi posisi profesional di sektor ritel, teknologi informasi (IT), hingga pengembangan gim, bukan pekerjaan kasar seperti mayoritas pekerja asing lainnya.

Sementara itu, Human Resources Development Service of Korea mencatat sebanyak 2.257 anak muda Korea memperoleh pekerjaan di Jepang melalui program pemerintah sepanjang tahun lalu. Jumlah tersebut melonjak 47 persen dibanding tahun sebelumnya dan menjadikan Jepang sebagai tujuan utama bekerja di luar negeri. Sebaliknya, jumlah warga Korea yang memilih bekerja di Amerika Serikat justru turun 29 persen.

Pengamat menilai perusahaan Jepang semakin tertarik merekrut lulusan Korea Selatan karena memiliki kemampuan bahasa dan budaya yang relatif dekat.

Profesor Hubungan Internasional dan Ketenagakerjaan dari Hankuk University of Foreign Studies, Lee Chang-min, mengatakan kandidat asal Korea Selatan memiliki daya saing tinggi karena banyak yang menguasai bahasa Jepang pada tingkat profesional.

"Dari sisi bahasa dan budaya, kualitas kandidat Korea Selatan sangat tinggi. Tidak banyak pelamar asing yang mampu menggunakan bahasa Jepang untuk kebutuhan pekerjaan sehari-hari," katanya.

Selain itu, perusahaan Jepang juga menilai tenaga kerja Korea Selatan memiliki etos kerja yang baik. Kepala konsultan Jepang Energize, Tomoya Hattori, mengatakan pihaknya lebih mengutamakan kualitas kandidat dibanding asal negaranya.

"Jika ada kandidat yang bagus, tentu kami ingin merekrutnya," ujarnya.

Meski demikian, perusahaan Jepang juga menghadapi tantangan dalam mempertahankan pekerja asal Korea Selatan. Berbeda dengan budaya kerja Jepang yang identik dengan loyalitas jangka panjang, pekerja muda Korea Selatan cenderung lebih mudah berpindah perusahaan demi memperoleh karier dan gaji yang lebih baik.

Kasugai mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan bagi banyak perusahaan Jepang. Namun ia optimistis budaya kerja di Jepang perlahan akan berubah mengikuti tren generasi muda yang kini juga semakin sering berganti pekerjaan.

Di luar kebutuhan tenaga kerja, Kasugai menilai mobilitas pekerja muda juga membuka peluang mempererat hubungan masyarakat Jepang dan Korea Selatan. Menurutnya, interaksi sehari-hari di tempat kerja dapat memperluas pemahaman budaya kedua negara yang selama ini kerap diwarnai ketegangan sejarah.

"Saat orang Korea bekerja di Jepang, mereka membangun hubungan dengan rekan kerja Jepang yang mungkin sebelumnya belum pernah mengenal budaya Korea. Hal seperti ini bisa membantu mempererat hubungan kedua negara," ujarnya.

Sumber: Asiaone

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.