Apa Itu MERS-CoV? Potensi Wabah yang Muncul di Arab Saudi Jelang Musim Haji

AKURAT.CO WHO telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi wabah MERS-Cov di Arab Saudi menjelang musim haji.
Peringatan ini muncul setelah Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi (KSA) melaporkan adanya tiga kasus MERS-CoV di negara tersebut, termasuk satu kematian, pada 10-17 April 2024.
Ketiga kasus ini melibatkan laki-laki berusia 56-60 tahun yang berasal dari Riyadh, Arab Saudi.
Sebab itu, jemaah haji Indonesia diimbau untuk terapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) selama menjalani ibadah haji.
“Walaupun MERS-CoV belum menjadi kegawatdaruratan kesehatan, namun jemaah haji Indonesia harus tetap mewaspadai penularannya,” ungkap Kunta Wibawa Dasa Nugraha Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan yang dilansir dari Akurat.Co, pada Kamis (9/5/2024).
Sehubungan dengan hal itu, apa itu MERS-CoV dan bagaimana gejalanya?
Apa itu Middle East respiratory syndrome (MERS)?
Middle East respiratory syndrome (MERS) adalah suatu penyakit infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh coronavirus subtipe tertentu, yaitu MERS-CoV.
Baca Juga: Kemenkes Imbau Jemaah Haji Waspadai Penularan MERS-CoV
Dikutip dari berbagai sumber, penyakit MERS pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi pada tahun 2012, dan kemudian menyebar ke beberapa negara, termasuk Indonesia.
Penyakit infeksi MERS bisa mengenai individu dari semua rentang usia. Awalnya, wabah MERS muncul di negara-negara di Semenanjung Arab.
Negara-negara lain yang pernah terpengaruh oleh penyakit ini termasuk Algeria, Austria, China, Mesir, Prancis, Jerman, Yunani, Italia, Malaysia, Belanda, Filipina, Korea, Thailand, Tunisia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.
Meskipun penyakit ini dapat menyebabkan kematian pada sekitar 36% dari individu yang terinfeksi, penularannya tidak secepat penyakit flu biasa.
Virus penyebab MERS tidak dapat menyebar tanpa adanya kontak langsung dengan sumber infeksi.
Gejala Middle East respiratory syndrome (MERS)?
Beberapa individu yang terinfeksi MERS mungkin tidak menunjukkan gejala, namun masih dapat menyebarkan penyakitnya.
Pada kasus yang mengalami gejala, tanda-tanda seperti demam dan batuk umumnya muncul setelah periode inkubasi sekitar lima hari.
Gejala lainnya kemudian dapat berkembang menjadi lebih parah dalam waktu kurang dari seminggu. Bahkan, pasien dapat mengalami kesulitan bernapas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








